Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

PROLOG

294 14 0
                                        


Selamat membaca



Malam itu, kota tampak seperti papan catur basah, disinari lampu-lampu jalan kuning yang berkedip kedip. Di antara derai hujan dan kilauan lampu neon yang terang, berdiri satu bayangan di atas atap, tidak melakukan apapun hanya diam, nyaris tak bernyawa. Ia bukan hantu, meski banyak yang mengira begitu.
Ia bukan dewa, meski darah telah mengalir di tangannya seperti sungai yang akan tumpah. Ia hanya lelaki dengan hoodie gelap, sorot mata biru sayu tapi menusuk, dan langkah yang siap untuk terus maju tanpa pernah ragu.
Tidak ada yang tau siapa dia dan dari mana asalnya. Tapi malam ini... ia hanyalah Serigala penyendiri yang siap menerkam siapapun yang menghalangi jalannya

Di bawahnya, bangunan megah berdiri angkuh dan penuh akan keindahan, menara korporasi teknologi yang disebut-sebut sebagai jantung masa depan. Namun di balik dinding kacanya yang indah, tersembunyi sebuah bangkai yang busuk. sistem yang mengatur informasi, menekan kebenaran, dan membungkam suara-suara yang tak tunduk.

Hujan menyamarkan denting logam saat ia bergerak.
Dengan gerakan yang senyap, ia meluncur menembus malam, mendarat bagaikan kilatan petir yang tak bersuara. Tangan kirinya mengeluarkan sebuah senjata. Tangan kanannya memutar pisau seperti doa kematian.
Ia tidak ingin kematian. Tapi jika itu harga dari keadilan maka darah akan dibayarnya. Satu per satu penjaga di tumbangkan. Bisikan di lorong. Kilatan di bawah cahaya emergency.
Dan ketika sirene meraung, semuanya sudah terlambat.

Ia telah sampai di pusat jantung gedung itu.
Data data rahasia, proyek yang tak pernah diberitakan, dan nama-nama yang terlalu berkuasa untuk dipublikasikan. Dan di layar yang terbuka, ia membaca rencana masa depan, sebuah dunia yang dibangun di atas kendali dan ilusi. Lalu sebuah suara mulai terdengar, bukan suara Tuhan, bukan suara musuh tapi suara dari sistem itu sendiri.

"Kau pikir ini akan menghentikan kami?" suara itu menggema di seluruh ruangan

Tapi Serigala itu hanya membalas dengan bisikan yang tak dimaksudkan untuk didengar.

"Yang kuburu bukan tubuh... tapi kebenaran. Dan kau, tak bisa bersembunyi darinya."

Lima menit kemudian, gedung itu terbakar.
Di kejauhan, hanya satu bayangan berjalan menjauh.
Langkahnya sunyi. Tapi di balik sunyi itu, dunia perlahan mulai retak. Dan ini adalah awal mula dari perjalanan


Bayangan dibawah BulanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang