BAB 1 : Alina

34 14 0
                                        

Namanya Alina Maheswari.

Lahir dan besar di Jakarta, di sebuah kawasan tenang yang jauh dari hiruk pikuk pusat kota, Alina tumbuh sebagai anak sulung dari keluarga kelas menengah ke atas. Ayahnya seorang pebisnis kopi independen yang dulu memulai segalanya dari kedai kecil di Bandung. Ibunya, seorang mantan editor majalah seni, kini lebih banyak menghabiskan waktu mengurus kebun dan lukisan di rumah mereka di Lembang.

Setelah menyelesaikan kuliah di bidang desain grafis, Alina tak langsung terjun ke dunia agensi atau start-up seperti teman-teman seangkatannya. Ia memilih kembali ke sesuatu yang lebih personal, kafe kecil milik ayahnya di Jakarta, Casa di Caffè, yang kemudian secara resmi diserahkan padanya untuk dikelola.

Letaknya tak mencolok yanng berada di sebuah sudut jalan yang rindang, tersembunyi dari keramaian, tapi justru itu yang membuat kafe ini punya daya tarik sendiri. Interiornya hangat, penuh kayu dan cahaya alami, dengan rak berisi vinyl di tengah dan mesin espresso tua yang masih bersenandung pelan setiap pagi.

Alina tinggal bersama adik laki-lakinya, Reza, mahasiswa tingkat akhir jurusan teknik sipil. Hubungan mereka dekat, meski sering diwarnai adu argumen kecil khas kakak-adik. Mereka menjaga satu sama lain, dan rumah itu, meski tak selalu ramai, terasa hidup karena kehadiran mereka berdua.

Rutinitas Alina dimulai sejak fajar. Membuka kafe, menyapa pelanggan setia, meracik kopi dengan penuh perhatian, dan mengawasi setiap detail kecil dari suhu air hingga komposisi latte art. Di sela kesibukan, ia suka duduk sendiri di kursi dekat jendela, membaca, atau sekadar memperhatikan lalu-lalang orang di luar.

Dari luar, hidup Alina tampak teratur dan nyaman. Tapi di balik semua itu, ada kerinduan yang belum ia mengerti sepenuhnya. Ia mencintai kopi, mencintai pekerjaannya, tapi ada ruang dalam dirinya yang terasa kosong, seperti sedang menunggu sesuatu, atau seseorang, untuk mengetuk dan mengisinya.

Dan pada suatu sore gerimis di bulan Juni, seseorang itu datang.

Laki-laki asing, dengan jaket hitam dan mata yang menyimpan terlalu banyak cerita. Ia memesan cappuccino dengan ekstra kayu manis, lalu duduk di sudut jendela... tanpa tahu bahwa kehadirannya akan mengubah hidup Alina lebih dari apa pun yang pernah ia bayangkan.

AMALFIStories to obsess over. Discover now