Bab 1: Selamat Datang di Tubuh Antagonis

13.8K 490 30
                                        

“Naskah yang buruk,” desis Ren Jia, membetulkan letak kacamata bulat di hidungnya.

Sebagai seorang mahasiswi Fakultas Seni Rupa yang juga anggota pementasan seni teater, ia mendedikasikan hidupnya untuk memahami karakter dan alur cerita. Ia tahu apa yang membuat sebuah cerita berhasil. Dan novel di tangannya ini—meskipun ditulis oleh penulis idolanya—adalah sebuah kegagalan.

Judulnya, “Then there is no end”.

Ia telah membaca ratusan novel, tetapi baru kali ini ia merasa kesal hingga ingin merobek-robek halamannya. Kisahnya klise: perebutan kekuasaan, intrik percintaan, dan tentu saja, akhir tragis untuk sang tokoh utama.

Masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah sang tokoh antagonis, Huang Renjun. Karakter yang ditulis dangkal, seorang tuan muda yang bodoh, kejam, dan tergila-gila pada pemeran utama wanita tanpa alasan yang jelas. Pria itu tidak lebih dari sekadar alat untuk memajukan cerita, dan pada akhirnya, mati konyol di penjara.

“Mati dalam penyesalan?” Ren Jia mencibir. “Itu belum cukup untuk menebus semua dosanya. Seharusnya dia dieksekusi sejak awal!”

“SAMPAH!”

Dengan geraman kesal, Ren Jia melempar novel bersampul tebal itu ke seberang kamarnya yang bernuansa merah muda.

Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.

Novel itu tidak mendarat. Ia terbuka lebar di udara. Halaman-halaman cerita mulai bergerak cepat, seolah diterpa angin tak kasat mata. Cahaya putih yang menyilaukan meledak dari dalam buku, mengubah kamarnya menjadi lautan cahaya yang membutakan.

Ren Jia terkesiap, tangannya terangkat untuk melindungi mata. Ia merasakan tarikan vakum yang kuat dari novel itu, menyeret tubuhnya.

“Tid—!”

Jeritannya tertelan. Seluruh dunianya tersedot ke dalam pusaran aksara yang berputar. Segalanya memutih, lalu menjadi gelap gulita.

...

Kesadarannya kembali perlahan, diiringi rasa pusing yang hebat dan guncangan lembut. Samar-samar, ia mendengar suara mesin mobil yang tenang dan aroma parfum pria yang kuat.

Kemudian, sebuah suara berat dan asing terdengar—suara yang penuh hormat namun kaku.

“Tuan muda, Anda telah tiba di kediaman Ning.”

Ren Jia mengerjap. Kepalanya berdenyut sakit, sisa-sisa pusing akibat tersedot lingkaran cahaya. Kabin mobil mewah yang asing menyambutnya, beraroma parfum pria yang mahal.

“Di... mana ini?”

“Kita di kediaman Ning, Tuan Muda,” jawab sebuah suara yang tenang dan hormat.

Ren Jia menyipitkan mata. Seorang pria paruh baya berjas rapi duduk di kursi depan. “Siapa kau?”

Pria itu tampak bingung, menatap Ren Jia dari cermin sopir. “Tuan Muda?”

“Tunggu...” Ren Jia memegang tenggorokannya. “Ada apa dengan suaraku?” Suara itu berat. Terlalu berat. Itu bukan suaranya.

Ia menoleh ke jendela, memijat keningnya, lalu membeku. “Di mana ini? Dan... siapa ini?!”

“Tuan Muda, Anda baik-baik saja?” Pria paruh baya itu kini terdengar khawatir, nada sombong yang biasa didengarnya dari sang tuan muda telah lenyap.

Ren Jia menangkupkan wajahnya, menatap pantulan di kaca jendela. Yang balas menatapnya adalah seorang pria muda yang asing namun familier. “Rambutku! Siapa yang memotong rambut panjangku?!”

Misi Bertahan Hidup Sang Antagonis [ Jaemren ]Stories to obsess over. Discover now