Norma dan Takdir Dunia

171 18 2
                                        

Leehan dan Taesan duduk berdampingan di sebuah taman kota yang sepi, dengan langit senja yang menyelimuti suasana. Angin sore yang sejuk menyapu rambut mereka, namun rasa hangat itu tak mampu menghapus dinginnya kesunyian di antara keduanya.

"Leehan," Taesan memulai, suaranya terdengar tegas namun penuh ketegangan. "Aku... aku tidak tahu harus bagaimana lagi."

Leehan menunduk, jemarinya memainkan ujung gaunnya yang sudah sedikit kusut. Dia tahu kata-kata itu akan datang, meskipun hatinya menolak untuk percaya.

"Kamu tidak perlu mengatakan itu," jawab Leehan perlahan, hampir seperti berbisik. "Kita sudah membicarakan ini berkali-kali."

Taesan menarik napas panjang. "Aku tahu, Leehan. Tapi... ini bukan hanya tentang kita. Dunia ini, orang-orang di sekitar kita, mereka tidak akan pernah mengerti."

Leehan menatap wajah Taesan, mencoba membaca perasaan di balik matanya yang suram. "Aku mengerti. Tapi kita tidak bisa begitu saja menyerah, kan?"

Taesan menunduk, menatap tanah di bawah kakinya. "Aku ingin sekali mengatakan iya, aku ingin sekali kita bisa bertahan. Tapi aku tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan, Leehan. Cinta kita... cinta kita tidak diterima."

Leehan terdiam. Kata-kata itu menggema dalam hatinya, seolah membekas lebih dalam daripada sebelumnya. Mereka sudah mencoba melawan, bertahan dalam diam, tapi norma-norma dunia selalu menuntut mereka untuk berpihak pada yang 'normal'. Dan dalam masyarakat, cinta antara mereka-dua lelaki yang saling mencintai-adalah sesuatu yang tidak bisa diterima.

"Aku tahu kita berbeda, Taesan. Tapi apa yang salah dengan itu? Kenapa cinta kita harus menjadi masalah?"

"Aku tidak tahu," jawab Taesan lirih. "Aku tidak tahu lagi, Leehan. Aku mencintaimu dengan segenap hati, tapi aku tidak bisa menanggung pandangan mata mereka, kata-kata pedas dari orang-orang yang seharusnya menerima kita apa adanya."

Leehan menghapus air mata yang menggenang di sudut matanya. "Aku... aku sudah lelah, Taesan. Lelah berjuang sendirian."

Taesan menggenggam tangan Leehan, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang terukir jelas di wajahnya. "Aku juga lelah. Lelah dengan semua ini, dengan dunia yang selalu menilai kita. Tapi lebih dari itu, aku takut. Takut jika kita terus bersama, kita akan saling melukai."

"Apa maksudmu?" tanya Leehan, matanya kini penuh tanya.

"Leehan," kata Taesan, suaranya bergetar. "Aku tidak ingin kamu terluka karena aku. Aku tidak ingin kamu hidup dalam bayang-bayang orang lain, dihina, dicemooh... Aku tidak ingin itu terjadi padamu."

Leehan menatapnya, hatinya hancur. "Jadi, kamu mau kita berhenti? Mengakhiri semuanya karena ketakutanmu?"

"Ini bukan tentang aku, Leehan," jawab Taesan dengan tegas. "Ini tentang kita. Kita tidak bisa terus hidup dengan menyembunyikan diri dari dunia. Kita tidak bisa terus hidup dalam ketakutan."

Leehan menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gejolak perasaannya. "Aku tidak peduli apa kata dunia, Taesan. Aku hanya peduli padamu. Kalau kita berhenti hanya karena ketakutan ini, berarti kita membiarkan dunia menang. Dan aku tidak mau itu."

Taesan mengusap wajahnya, mencoba menahan air mata yang sudah hampir jatuh. "Kita tidak bisa melawan takdir, Leehan. Takdir ini bukan milik kita."

Leehan merasakan hatinya seolah terkoyak. "Jadi, kita menyerah begitu saja? Semua kenangan kita, semua janji yang kita buat... itu tidak berarti apa-apa?"

"Semua itu berarti, Leehan," jawab Taesan dengan suara pelan. "Semua itu akan tetap menjadi bagian dari aku, dari kamu. Tapi cinta kita tidak bisa berjalan di dunia yang tidak siap menerimanya."

Leehan menatap langit yang semakin gelap, merasa begitu kosong. "Jadi kita harus melupakan segalanya? Menyembunyikan perasaan kita, karena dunia tidak siap?"

Taesan menatapnya, hatinya remuk. "Aku tidak ingin kamu terluka lebih dalam, Leehan. Cinta ini... cinta ini sudah lebih dari cukup. Tapi dunia ini tidak bisa mengerti kita."

Leehan menangis dalam diam, mencoba menghapus rasa sakit yang semakin dalam. "Kenapa kita harus memilih antara cinta dan dunia, Taesan? Kenapa kita harus menderita karena apa yang tidak bisa kita kontrol?"

Taesan menatapnya, air mata tak tertahankan mulai mengalir. "Aku tidak tahu. Aku hanya tahu, jika kita terus bersama, kita akan hancur. Dan aku tidak ingin itu terjadi."

Hening, hanya suara angin yang terdengar di sekitar mereka. Akhirnya, Leehan berdiri, menarik tangan Taesan dengan lembut. "Aku tidak akan melupakanmu, Taesan. Meskipun dunia memisahkan kita, meskipun takdir ini mengalahkan kita, aku akan selalu mencintaimu."

Taesan menunduk, dan dengan suara terbata-bata ia berkata, "Aku juga, Leehan. Aku juga."

Namun, mereka tahu, meskipun cinta itu ada, dunia tidak akan pernah mengizinkan mereka bersatu. Cinta yang mereka bangun di tengah-tengah keberanian dan harapan itu akhirnya kandas, meninggalkan luka yang takkan pernah sembuh.

Mereka berjalan terpisah, masing-masing membawa luka di hati, luka yang terlahir dari janji yang tak bisa dipenuhi, dan dunia yang tidak pernah bersahabat dengan cinta mereka.





Tamat.

Luka di Antara Janji | GongfourzBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin