prolog

289 30 0
                                        

Matahari senja menembus jendela kafe kampus, mengepung Seonghwa dalam cahaya keemasan. Ia baru saja membuka bento box-nya, aroma hangat teriyaki salmon membaur dengan hawa sore. Jemarinya yang masih ada bekas tinta sketsa dengan cekatan membuka kaleng ocha. Ssst... Suara lembut itu seolah memberi tanda dimulainya momen tenangnya.

Seonghwa mengambil sepotong salmon, dan tanpa sadar, bibirnya bergetar melantunkan melodi. Suaranya keluar pelan, serupa dengung lebah di taman musim semi, lembut, jernih, dan penuh ketulusan. Ia sedang menyenandungkan lagu dari band indie favoritnya, lagu yang selalu menemani hari-harinya saat mengerjakan lukisan.

"When the stars fall like rain, on your window pane..."

Dia tidak menyadari bahwa dari balik rak buku di sudut kafe, sepasang mata tertarik pada alunan itu. Mata itu milik Kim Hongjoong, mahasiswa S2 jurusan Musik yang kebetulan sedang menyelesaikan partitur di meja kerjanya. Hongjoong mengangkat kepala, alisnya yang rapat naik sedikit. Bukan volume suara yang menariknya, melainkan warna suara itu, ada semacam getaran emosional yang jarang ia temui, murni seperti kristal, tidak dibebani teknik berlebihan.

Hongjoong menutup laptopnya, langkahnya pasti mendekati meja Seonghwa. Bayangannya jatuh menutupi separuh bento box di atas meja.

Seonghwa terkejut, mendongak. Dan dunia seolah berhenti berputar.

"Suaramu," ucap Hongjoong, senyum tipis mengembang di sudut bibirnya. "Pernah ikut kompetisi?"

"T-tidak, Senior. Hanya... hobi saja," jawab Seonghwa, jantungnya berdebar kencang.

Dia mengenal Hongjoong. Semua orang di kampus mengenal Kim Hongjoong , jenius musik muda yang sudah menang penghargaan nasional, sering tampil di festival, dan memiliki aura kepemimpinan yang kuat. Bagi Seonghwa, Hongjoong adalah lebih dari sekadar senior. Dia adalah subyek dari selusin sketsa rahasia di buku gambarnya, inspirasi diam-diam yang sering muncul di kanvasnya.

"Aku Hongjoong, dari Musik. Kebetulan aku sedang mencari vokalis untuk penampilan di Festival Kampus bulan depan," ujar Hongjoong sambil menarik kursi di seberang Seonghwa tanpa diminta.

Matanya, yang tajam namun hangat, menatap langsung ke arah Seonghwa. "Aku main gitar. Kolaborasi sederhana. Apa kamu tertarik?"

Seonghwa merasa ocha di tenggorokannya salah jalan. Tertarik? Itu seperti mimpi yang terlalu indah untuk diucapkan.

"Dengan... Senior Hongjoong? Langsung?" tanyanya, berusaha terdengar tenang.

"Kamu punya warna suara yang aku cari. Natural, emosional," jelas Hongjoong sambil mengangguk ke arah kaleng ocha. "Seperti minuman itu. Mungkin tidak wah, tapi menyegarkan dan tulus."

Pujian itu membuat telinga Seonghwa memerah. "Aku... aku mau. Tapi aku tidak terlalu mahir dalam teknik vokal, aku jurusan Seni Rupa."

"Justru bagus. Aku butuh sesuatu yang organik, tidak terlalu terpolakan." Hongjoong sudah mengeluarkan ponselnya. "Mari bertukar kontak. Kita bisa latihan di studio musik kampus, jamnya fleksibel."

Jari-jari Seonghwa gemetar saat membuka aplikasi kontak. Pertukaran nomor itu terasa seperti ritual suci. Di layar ponselnya, kini terpampang nama: Kim Hongjoong (Music Senior) 💫.

"Baik. Aku akan mengirimkan demo lagunya besok," ucap Hongjoong sambil berdiri. "Senang bekerja sama..." dia berhenti, menyadari belum menanyakan nama.

"Seonghwa. Park Seonghwa."

"Senang bekerja sama, Seonghwa." Senyum Hongjoong kali ini lebih lebar, dan untuk sesaat, Seonghwa yakin melihat sedikit kedipan di mata senior itu sebelum dia berpaling dan menghilang di balik pintu kafe.

Seonghwa menatap bento box-nya yang sudah separuh habis. Ocha-nya masih dingin. Tapi di dadanya, ada kehangatan baru yang membara. Ia membuka kembali ponselnya, menatap kontak Hongjoong. Jarinya mengetik pelan, lalu menghapus, lalu mengetik lagi. Akhirnya, hanya satu kalimat yang terkirim:

"Seonghwa. Siap latihan kapan pun, Senior. Terima kasih atas kesempatannya."

Beberapa detik kemudian, balasan muncul. Cepat sekali.

"Hongjoong. Jangan senior-senior. Panggil Joong saja. Besok jam 7 sore, Studio B. Jangan telat, ya."

Diikuti dengan satu emoticon senyuman.

Seonghwa memejamkan mata, mencoba menenangkan jantung yang masih berdegup kencang. Festival Kampus. Bernyanyi di panggung. Bersama Hongjoong. Ini adalah awal dari sesuatu, dan entah mengapa, ia bisa merasakan getaran bahwa kolaborasi ini bukan sekadar tentang musik atau festival. Namun tentang dua garis yang akhirnya bersinggungan, dan arahnya masih sama sekali belum jelas.

Ia menyelesaikan ocha-nya, dan senandung kecil kembali keluar dari bibirnya, kali ini, penuh dengan nada harap dan sedikit kecemasan akan hari esok yang tiba-tiba terasa sangat cerah dan menakutkan.

A THOUSAND YEARS [Joonghwa]ongoingLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora