"Family is not just where we begin, but where we are always whole."
💙💛💙💛💙💛💙💛💙💛
Pagi ini, semburat mentari nampak malu-malu menunjukkan kemilaunya. Embun masih menggantung manja di dedaunan halaman belakang, dan aroma rumput basah menyusup lewat jendela yang sedikit terbuka. Di rumah besar itu, suara keriuhan sudah mulai terdengar, memecah kesunyian dengan tawa dan langkah kecil yang bersahutan.
Di dapur yang hangat, Solie tengah sibuk menyiapkan sarapan. Suara dentingan alat masak, aroma roti panggang dan telur yang digoreng menguar memenuhi ruangan. Celemek terikat sembarangan di pinggangnya, rambut digelung asal, namun wajahnya tetap berseri. Setiap hari selalu terasa istimewa bisa menyiapkan sarapan untuk keluarga tercinta.
Ryu masuk perlahan dari arah belakang, tanpa suara. Ia menghampiri Solie, membenarkan ikatan celemek di pinggang istrinya, lalu memeluknya dari belakang, menyembunyikan wajahnya di leher Solie yang harum wangi vanila favoritnya.
"Sayang, malu ah, nanti dilihat anak-anak," Solie menghindar sambil terkikik geli. Telur ceploknya hampir gosong.
"Mereka masih mandi, aman," bisik Ryu, tak menyerah untuk mencium pipi istrinya sekali lagi.
"Ayah...!" suara kecil itu membuat mereka berdua tersentak. Solie buru-buru mendorong tubuh Ryu dan berpura-pura sibuk di kompor.
Ara berdiri di ambang pintu, mengucek matanya yang masih mengantuk. Piyamanya masih kusut, dan rambutnya berdiri ke segala arah. "Kesiangan ya?" tanyanya polos.
Ryu segera menghampirinya. "Belum, Sayang. Ayo cepat mandi, sebentar lagi sarapan siap."
Ara mengangguk, masih setengah sadar dan segera berlari ke kamar mandi.
Solie tertawa pelan. "Cepat bersiap, Sayang. Hari ini kamu mengantar anak-anak, kan?" ucapnya sambil menyiapkan bekal dalam kotak makan warna-warni.
Ryu masih sempat mendaratkan satu ciuman lagi sebelum berlalu ke kamar. Solie menggeleng, tersenyum sendiri.
---
Aluna mendominasi percakapan, suaranya lantang dan semangat, seperti biasa. Ara tak mau kalah, menyela cerita kakaknya dengan celoteh khas anak laki-laki yang selalu ingin ikut serta. Kadang keduanya bersaing adu volume. Sementara itu, Alana hanya duduk diam, asyik menikmati makanannya tanpa berniat menanggapi keributan dua adiknya. Tenang dan kalem, seperti ayahnya.
Ryu yang duduk di ujung meja hanya mengamati mereka dengan senyum lebar. Sesekali ia tertawa kecil, menanggapi ocehan anak-anaknya, mencuri pandang ke arah Solie yang duduk di seberang, ikut menikmati suasana hangat pagi itu.
"Ayah, kan Aluna ada proyek seni. Kelompoknya sama Nazra," kata Aluna tiba-tiba, menyebut seorang anak laki-laki yang juga tetangga beda blok di komplek mereka.
Ryu melirik cepat. Nama itu asing di telinganya.
"Tahu nggak, Ayah? Dia tugasnya memotret kegiatan teman-teman sekolah. Eh, pas Aluna lihat hasilnya, banyak foto Aluna yang dia jepret!" Aluna mengerucutkan mulutnya. Roti panggang isi telur yang tadi ia gigit kini diletakkan kembali di piring.
Ryu, yang sedang minum langsung terbatuk pelan. Solie menahan tawa, menghampiri sambil menuangkan minuman lalu berbisik, "Hmm... Kayak siapa ya? Aku jadi ingat seseorang yang dulu juga sering memotret diam-diam."
YOU ARE READING
My Lovely 2 : Alana & Aluna
RomanceTujuh belas tahun sudah Ryu dan Solie menjalani hidup penuh cinta bersama anak-anak mereka. Tapi ketika Alana dan Aluna secara tak sengaja membuka tabir masa lalu sang ayah, liburan keluarga berubah jadi petualangan yang penuh rahasia. Siapa sosok a...
