Malam itu, hujan lebat disertai hembusan angin kencang membuat dedaunan berguguran dan beterbangan. Jalanan sepi tanpa pencahayaan sedikit pun, dikelilingi pepohonan rindang yang sudah tua, semakin menambah kesan seram.
Di tengah kesunyian itu, sebuah mobil melaju perlahan. Di dalamnya, ada tiga perempuan dan dua laki-laki.
"Len, yakin ini jalan menuju villa? Lo gak salah jalan, kan?" tanya Iza dengan nada ragu dan penasaran.
"Tenang aja, Za. Ini bener kok jalannya. Gak mungkin gue lupa," jawab Valen dengan percaya diri, berusaha menenangkan Iza dan teman-teman lainnya.
"Tapi... serius, Len? Di tengah hutan kayak gini?" Iza masih belum yakin dan terus bertanya.
"Berisik lo, Za! Duduk diem aja susah, ya? Bikin gue gak fokus nyetir," omel Azel, merasa terganggu karena Iza terus bertanya pada Valen, membuat konsentrasinya menyetir semakin terganggu.
Beberapa menit kemudian, Iza tiba-tiba melihat sosok misterius melintas di depan mobil mereka. Kaget, ia langsung berteriak.
"AZEL AWAS!!" Teriakan Iza membuat Azel menginjak rem mendadak. Mobil berhenti seketika. Namun saat Iza dan teman-temannya menoleh ke sekeliling, tak ada apa-apa hanya deretan pepohonan rindang yang tampak sunyi dan menekan.
"Ada apa, Za?" Tanya Ella kepada Iza yang terlihat sedikit shok dan ketakutan.
"Engga ada ko, El. Mungkin gue cuma salah liat," Ucap Iza sambil tenang dan berfikir positif.
"Kalo lo capek, tidur aja dulu, Za. Nanti kalo udah sampai, gue bangunin." Kata Valen pada Iza.
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian, Iza kembali dikejutkan oleh sosok misterius. Namun, dengan wujud yang berbeda. mata Iza terbelalak, sosok itu tiba-tiba menyebrang namun hilang begitu saja pada detik berikutnya.
"ZEL!!" teriak Iza, membuat Azel refleks menginjak rem mendadak. Mobil berhenti mendadak, menciptakan keheningan sesaat yang tegang. Dafa, yang sejak tadi tidur pulas di bangku depan, langsung terbangun karena teriakan itu.
"Ada apa, Za? Muka lo pucat banget. Lo nggak apa-apa, kan?" tanya Dafa, terlihat benar-benar khawatir. Sorot matanya menatap Iza lekat-lekat, memastikan semuanya baik-baik saja.
Valen yang duduk di sebelah Iza cuma melirik, merasa tak nyaman melihat perhatian Dafa yang begitu besar ke Iza.
"Gue nggak apa-apa, kok. Mungkin tadi cuma salah lihat," jawab Iza pelan, mencoba menenangkan suasana, meski senyum tipisnya terasa dipaksakan.
"Beneran nggak apa-apa, Za? Kalau lo lagi nggak enak badan, kita balik aja, ya. Kita pulang," sambung Ella, lembut tapi tegas, menunjukkan kalau dia juga ikut khawatir.
"Balik lagi? Serius, El? Kita udah hampir sampai," kata Valen dengan nada setengah memaksa.
"Iya, gue juga capek nyetir dari tadi. Lanjut aja, lagian Valen bilang bentar lagi nyampe, kan?" protes Azel.
Pada akhirnya, mereka melanjutkan perjalanan kembali. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di villa milik keluarga Valen. Iza, yang sebelumnya merasa ragu dan dipenuhi pikiran negatif selama di perjalanan, kini merasa lega. Villa itu ternyata jauh berbeda dari apa yang ia bayangkan.
"Udah sampai nih. Masuk yuk, guys," ajak Valen sambil membuka pintu dan melangkah masuk membawa tasnya.
Mereka semua masuk dan langsung dibuat takjub oleh isi villa yang begitu rapi dan mewah. Ruang tamunya luas, dapurnya tertata rapi, dan setiap sudut villa tampak bersih dan terawat. Perabotannya pun terlihat masih baru. Mulai dari meja, sofa, lemari kaca, hingga perlengkapan lainnya.
Namun, di balik keindahan dan kemewahan itu, tersimpan kisah kelam yang disembunyikan oleh keluarga Valen. Terutama berkaitan dengan sebuah pohon beringin yang berdiri tak jauh dari villa.
Pohon itu adalah saksi bisu dari kematian para korban yang dijadikan tumbal oleh keluarga Valen.
Keluarga Valen begitu lihai menyamarkan kebenaran. Mereka membangun villa ini seolah seperti villa biasa, tempat peristirahatan yang nyaman dan damai. Tak ada yang akan menyangka, apalagi mencurigai, bahwa di balik dinding-dinding mewah ini tersembunyi rahasia mengerikan yang hanya diketahui oleh keluarga Valen sendiri.
Hari mulai larut. Udara terasa semakin dingin, meski lampu-lampu villa menyala terang dan suasana di dalam masih terasa hangat. Mereka duduk di ruang tengah, bercengkerama sambil menikmati camilan yang dibawa dari kota.
Namun, sesekali Iza melirik ke luar jendela. Entah kenapa, matanya terus tertuju pada pohon beringin besar di halaman depan. Meski samar tertutup kabut tipis, bentuknya yang besar dan menjulang terlihat mencolok. Ada sesuatu yang terasa... tidak biasa.
"Eh, itu pohon beringin ya?" tanya Iza, berusaha terdengar santai.
Valen menoleh cepat, sejenak diam, lalu tersenyum. "Iya, udah lama banget ada di situ. Dari zaman kakek gue masih muda."
"Serem, ya. Kayak di film-film horor gitu," sahut Ella sambil menggigil kecil, mencoba mencairkan suasana.
Valen tertawa pendek. "Biasa aja kali. Malam-malam gini emang suka berasa mistis."
Meski mereka tertawa, Iza tetap merasa ada yang janggal. Saat semua sudah mulai sibuk dengan permainan kartu dan obrolan, ia diam-diam keluar dari villa, mengikuti rasa penasarannya menuju pohon beringin itu.
Angin malam berembus pelan, daun-daun kering berderak di bawah langkahnya. Semakin dekat ia melangkah, semakin kuat pula perasaan tak nyaman yang menyelimuti dirinya. Pohon itu berdiri dengan akar menjalar ke permukaan tanah, besar dan tua, seolah menyimpan ratusan tahun rahasia.
Tiba-tiba, ia mendengar bisikan. Lirih. Seperti suara dari dalam tanah.
Iza...
Ia menoleh cepat ke kanan dan kiri, tapi tak ada siapa-siapa. Jantungnya berdetak cepat. Saat ia hendak berbalik kembali ke villa, pandangannya tertumbuk pada sesuatu di akar pohon. Sebuah kalung tua, penuh debu dan tanah, separuh terkubur. Ia meraihnya perlahan.
Begitu tangannya menyentuh kalung itu, kilatan bayangan menyeruak dalam pikirannya. Jeritan. Darah. Sosok wanita menangis di bawah pohon itu, diseret, namun tiba-tiba ada suara memanggil Iza.
"Iza!"
Suara Valen membuyarkan semuanya. Iza terkejut, nafasnya terengah-engah.
"Lo ngapain di sini?" Tanya Valen, kali ini suaranya dingin, nadanya tajam, tak seperti sebelumnya.
Iza menatap Valen, matanya mulai menyadari sesuatu yang lebih besar sedang tersembunyi di balik senyuman temannya itu.
"Iza! Lo ngapain? Masuk yuk, makan."
Suara Dafa terdengar dari arah depan pintu, memecah keheningan malam itu. Iza yang tengah berdiri di dekat pohon beringin sontak menoleh, kebingungan. Ia melirik ke kanan dan kiri, tapi tak ada siapa pun di sekitarnya.
"Lo oke, Za?" tanya Dafa pelan, kini sudah berdiri beberapa langkah darinya.
Iza buru-buru mengangguk. "Gue gapapa, yaudah yuk masuk." katanya, lalu berlari kecil menghampiri Dafa.
"Beneran lo oke, Za? Kalau mau cerita, gue dengerin kok," ujar Dafa sambil berjalan mendekat, sorot matanya penuh perhatian.
"Iya, Daf. Gue gapapa," jawab Iza, mencoba tersenyum meski samar.
Mereka berjalan berdampingan menuju dapur, langkah kaki menyatu dengan keheningan malam. Namun, pikiran Iza terus melayang. Ada sesuatu yang mengganjal. Kalung tua, dan perasaan aneh yang ia rasakan saat berdiri di dekat pohon beringin itu.
Dan yang paling mengganggu... Jika bukan Valen, lalu siapa yang tadi diajaknya bicara?
•••
KAMU SEDANG MEMBACA
Misteri di Villa Tua [end]
HororLiburan seharusnya jadi momen istirahat dan seru-seruan. Tapi tidak untuk Iza, Ella, Dafa, Azel, dan Valen. Saat mereka menginap di sebuah villa tua yang terletak jauh dari kota, satu per satu kejadian aneh mulai terjadi-dari boneka berdarah, suara...
![Misteri di Villa Tua [end]](https://img.wattpad.com/cover/392478726-64-k562296.jpg)