WARNING!!
Karangan ini saya bikin pakai ai + ada sedikit dari saya, jika gasuka skip!
Oke lanjut.
Langit sore mulai berubah warna, dari biru pucat ke oranye lembut. Angin membawa aroma rumput basah dan kayu tua. Alya Rami duduk di pinggir jembatan kecil di desa Haru, kakinya menggantung pelan di atas sungai yang dangkal. Matanya menatap arus air, tapi pikirannya entah ke mana.
Langkah pelan terdengar di belakangnya, lalu berhenti.
Alya: "Hai, kamu sedang apa?"
Ia menoleh sedikit. Ari berdiri di sana, dengan rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin. Tangan kirinya memegang botol teh dingin, tangan kanannya masuk ke saku.
Ari: "Ohh... gapapa."
Dia duduk di samping Alya tanpa banyak suara. Tidak ada kehebohan, hanya diam yang nyaman. Burung kecil berkicau di pepohonan sekitar. Alya memperhatikan batu-batu kecil di dasar sungai.
Alya: "Kamu... betah nggak di sini?"
Ari: "Lumayan. Enak anginnya. Nggak ribut."
Jawabannya selalu singkat, tapi terasa jujur. Alya tersenyum kecil, lalu menoleh.
Alya: "Aku suka lihat kamu diem-diem minum teh dingin sambil bengong. Kayak mikir dalam banget, padahal kayaknya... kamu cuma mikir mau makan apa nanti sore."
Ari: "Heh... ketahuan, ya?"
Alya ketawa pelan. Suara air mengalir jadi latar yang sempurna untuk momen seperti ini.
Dia tidak banyak bicara, dan Alya tidak butuh banyak penjelasan. Kadang, cukup dengarkan duduk bareng dan dengar suara alam—semuanya jadi terasa cukup.
• • •
YOU ARE READING
gantungan kunci dari kayu
Short StoryAlya Rami mengira liburannya di desa hanyalah jeda sementara dari hiruk-pikuk kota. Tapi pertemuannya dengan Ari-anak laki-laki pendiam yang tinggal di rumah nenek-mengubah segalanya. Hari-hari yang tenang, obrolan ringan di bawah pohon, dan momen c...
