Prolog

78 17 104
                                        


Pada hari itu, lahirlah ke dunia sepasang bayi kembar laki-laki dari pasangan suami istri bermarga maheswara. Tangisan haru memenuhi seisi ruangan rumah sakit karena kedua malaikat kecil itu telah lahir ke dunia.

Mereka sepakat untuk menamai bayi kembar mereka dengan nama Reza Biyan maheswara si kaka dan Riza Abyan maheswara si ade. Dengan harapan, bahwa kaka beradik kembar itu akan tumbuh dengan kuat, saling menyayangi dan saling menjaga satu sama lain.

Akan tetapi di saat kedua anak kecil Itu berusia 10 tahun. Perceraian terjadi di dalam keluarga bahagia tersebut, Reza dan adiknya Riza hanya seorang anak kecil yang tidak mengerti apa-apa harus menjadi korban perceraian antara kedua orang tuanya.

Tanpa berpikir panjang sang Bunda membawa Rizah untuk pergi bersama dengan dirinya, dan meninggalkan Reza untuk tinggal bersama ayahnya, yang di mana menurut Reza ini adalah ketidakadilan bagi dirinya,di saat sang Bunda pergi bersama sang adik dan meninggalkan dirinya dengan seorang ayah yang katanya adalah pahlawan bagi keluarga dan anak-anaknya, namun itu tidak berlaku untuk ayah Reza dan Rizah.

~••Sama Namun Berbeda••~

"sudah papa bilang, hentikan hobimu menjadi pemain bola basket!!!"bentak ayah memecut punggung Reza dengan cambuk, hingga kulit mulus tersebut terkoyak mengeluarkan darah.

Reza yang hanya duduk lemas di atas lantai dan menatap sedih piala yang sudah pecah dan sertifikat yang sudah robek, akibat ulah sang ayah.

Reza meringis kesakitan, merasakan cucuran keringat membasahi tubuhnya bergeserkan dengan luka cambuk yang ayahnya berikan, yang menghasilkan sensasi rasa sakit yang teramat perih di sana.

Ctas ctas ctas, sang ayah memperkuat cambukan nya sampai suara itu memenuhi seisi ruangan, seperti lupa kalau anak yang sedang iya pukuli ini adalah darah dagingnya sendiri.

Reza menggigit bibir bagian bawahnya kuat-kuat, menahan agar tidak berteriak walaupun sebening air mata sudah keluar dalam pelupuk matanya, yang menandakan seberapa kejam ayahnya.

BI MARNIII!!!!" Teriak sang ayah memanggil pelayan paruh baya, yang membuat perempuan tersebut berlari gelagapan menghampiri majikan.

"Iyah Tuhan Mahen?" Ujar bi Marni yang sudah berdiri di hadapan mahen, dengan kain serbet yang ia pegang.

Bakar piala dan juga sertifikat itu, semua sampai habis dan hangus, Saya tidak mau melihat semua benda itu lagi!!, suruh ayah menunjuk ke arah sebuah piala dan juga sertifikat bola basket yang baru saja Reza dan timnya menangkan, tergeletak di lantai

"Ta-tapi Tuan, i-itu"

"SAYA BILANG BAKAR, YA DIBAKAR TIDAK ADA BANTAHAN!!!"

"Ba-baikn Tuan, akan saya lakukan," balas bi Marni ketakutan, langsung mengambil semua pecahan piala dan sobekan sertifikat tersebut.

Sekali lagi ayah peringatkan kamu Reza, ayah hanya ingin melihat anak ayah menjadi penerus perusahaan ayah nanti nya, ayah sama sekali tidak menyetujui jika kamu sampai melawan, karena bisa jadi akibatnya akan lebih parah dari ini," ujar ayah dengan nada mengerikan dan tatapan yang terlihat tajam.

Dengan perlahan, Reza tertatih berusaha untuk berdiri akibat luka cukup parah yang sang ayah goresan di punggung nya, membuat sekujur tubuh Reza terasa remuk.

"Kalau begitu,"ucap Reza membalikkan badan menghadap sang ayah.

"Kalau memang ayah tidak suka Reza pemain bola basket, kenapa ayah tidak sekalian patahkan saja tangan ku ini? Biar nggak bisa main lagi sambung Reza tersenyum miris, sontak membuat tangan kanan sang ayah melayang hendak menampar pipi kiri anaknya.

Tapi tangan tersebut berhenti, mematung di tempat. Melihat keadaan Reza seperti ini, menurutnya tidak perlu menambah hukuman lagi kepada anaknya itu.

"kembalilah ke kamarmu, obati luka di punggungmu itu dengan obat merah. Jangan mencoba untuk memancing emosi ayah," ujar sang ayah lalu pergi begitu saja meninggalkan Reza seorang diri di sana.

"Hahaha, Bundaa, Rizah. Lihat Kalian berdua sudah khianatin gua," ucap Reza menatap nanar ke arah punggung sang ayah yang sudah mulaii menjauh.

"Kalian tega ninggalin gue, di rumah yang penuh luka ini".

~••Sama Namun Berbeda••~


Reza memutuskan untuk mandi, mengguyur seluruh badannya dengan air dingin, menenggelamkan kepalanya di bawah pancuran shower kamar mandi.

Membiarkan setiap tetes air membasahi sel-sel kulit, menyeruak masuk memberikan sensasi rasa dingin, berharap isi beban di dalam pikirannya ikut hilang dengan guyuran air walaupun tidak sepenuhnya.

Reza menghembuskan nafas hangat keluar dari dalam mulutnya hingga menimbulkan kepalan asap putih membentuk dinding kaca kamar mandi, iya dapat melihat wajahnya di pantulan cermin di sana, sebuah wajah yang terlihat mirip dengan adiknya Rizah, hanya bedanya Reza memiliki satu tahi lalat di atas mulutnya.

"Saudara brengsek!!!!" Kesel Reza memukulkan tangannya, tepat pada pantulan wajahnya di kaca kamar mandi tersebut.

"Kenapa gua harus punya saudara penghianat kayak loo haa!!" Ucapnya menyesal harus lahir dengan memiliki saudara kembar seperti Rizah, Reza merasa diperlakukan tidak adil karena sang adik memiliki nasib baik sedangkan dia hanya mendapat getahnya saja.

Selepas selesai mandi, Reza mengambil sebuah handuk kecil dan segera pergi keluar dari kamar mandi untuk berganti pakaian.

Tok tok tok, terdengar suara ketukan pintu berasal dari pintu kamar laki-laki tersebut. Membuat Reza yang sudah selesai berganti pakaian mengenakan kaos putih dan celana hitam pendek melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu.

"Bi Marni, ada apa bi?" Tanya Reza melihat bi Marni sedang berdiri di sana dengan membawa sebuah kotak kardus berisikan sesuatu.

"Bukannya tadi ayah sudah bilang suruh bakar ya bi?" Ujar Reza yang melihat pecah dan sobekan piala dan sertifikat di dalam kardus yang bi Marni bawa tersebut.

"Bibi nggak mau bakar den, bi Marni tahu ini punya nak Reza, nak Reza sama temen-temennya pasti udah berjuang buat dapetin semua ini. Jadi di sini bi Marni mau kembalikan lagi, tolong disimpan baik-baik ya den, jangan sampai bapak tahu," balas bi Marni sambil menyodorkan kotak kardus itu, dan diterima oleh Reza.

"Terimakasih ya bi," jawab Reza tersenyum kecil.

"Iyahh den sama-sama, oh iya lukanya sudah diobatin belum den?, kalau belum sini biar bibi yang bantu ngobatin.

"Nggak perlu bi, percuma juga kalau diobatin nanti ayah juga bakal kasih lagi".


"Sekali lagi Makasih ya bi, Aku mau masuk dulu Pengen istirahat, Reza capek," ujar Reza dibales anggukan oleh bi Marni, lalu melihat ia kembali masuk ke dalam kamar dan pintu pun tertutup.

"Yang sabar ya den, seandainya ibu ada di sini pasti nak Reza bisa dijaga dengan," batin di marning merasa sedih

.

.

.

Hai, untuk prolognya cukup sampai di sini dulu ya guys. Gimana ceritanya? semoga kalian suka yah:)

Boleh dong komen dan pencet tanda bintangnya, biar aku jadi semangat buat lanjut ke episode selanjutnya, terima kasih bye bye ✨💛




Sama Namun BerbedaWhere stories live. Discover now