Life is Life

2.2K 122 6
                                        

Pertemuan yang Tak Lengkap
Hari itu, mentari bersinar cerah. Sulgi merasa sangat bahagia karena berhasil diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Korea. Di balik kesuksesannya, ia tidak pernah lupa peran Jay yang selalu mendukungnya.

Kampus tampak ramai dan sibuk, Sulgi tahu ia harus bekerja ekstra keras untuk bersaing dengan mahasiswa lain.

Begitu juga dengan Kyung, yang kini menempuh pendidikan di Fakultas Hukum, dan Yeri, yang telah menjadi aktris terkenal berkat bakat aktingnya.
Sulgi duduk di bangku taman, fokus mengerjakan tugas biologi, ketika tiba-tiba Kyung datang menghampirinya.
"Aku traktir, ayo!" seru Kyung, membuat Sulgi terkejut.

"Kyung, kamu ini!" Sulgi sedikit kesal karena konsentrasinya buyar.
"Aku tahu kamu mahasiswa top di sini, tapi kerjakan tugasnya nanti saja," ucap Kyung sambil memasukkan buku-buku Sulgi ke dalam tasnya.

Sulgi segera merebut tasnya dan menyandangnya. Mereka pun bergegas menuju sebuah restoran tempat Yeri sudah menunggu.
"Astaga, kalian lama sekali! Aku sebentar lagi ada syuting," keluh Yeri begitu mereka tiba.
"Huh, sabar sedikit!" balas Kyung jengkel.
"Sudahlah, ayo kita makan," lerai Sulgi.

Mereka mulai mengobrol tentang kegiatan sehari-hari. Sulgi hanya diam, pikirannya kembali ke masa lalu saat mereka sering makan berempat bersama Jay. Kini, hanya tinggal mereka bertiga.

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke ponsel Sulgi, mengganggu makannya. Ekspresi wajah Sulgi berubah cemas. Kyung yang menyadarinya langsung bertanya, tetapi Sulgi hanya diam. Yeri yang penasaran sempat melirik layar ponsel Sulgi, namun telepon dari manajemennya membuatnya harus segera pergi. Kini, hanya Sulgi dan Kyung yang tersisa.

"Coba lihat ini," kata Sulgi, menyodorkan ponselnya.
"Kenapa ayah Jay terus mengganggumu? Apa dia tidak percaya Jay sudah tiada? Atau jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu?" tanya Kyung, naluri detektifnya muncul.

"Kalau Jay benar-benar masih hidup, dia pasti akan menemuiku, kan?" jawab Sulgi santai.
Namun, Kyung masih tidak percaya. Pesan-pesan dari ayah Jay terus berdatangan, seolah meyakinkan mereka bahwa Jay masih hidup dan hanya Sulgi yang tahu keberadaannya.

Petunjuk yang Terungkap
Tanpa sengaja, saat Kyung memasukkan buku ke dalam tas Sulgi di taman, matanya menangkap sebuah foto di antara lembaran-lembaran.

Foto itu adalah pemandangan pelabuhan di desa tempat Sulgi dibesarkan, yang sekaligus menjadi lokasi keberadaan Jay. Hal ini semakin membuat rasa penasaran Kyung membuncah.

"Baiklah, omong-omong, setelah ini kamu langsung pulang?" tanya Kyung.
"Aku akan pulang lebih awal," jawab Sulgi.
Setelah selesai makan, Kyung mengikuti Sulgi secara diam-diam. Sulgi berhenti di sebuah bilik telepon umum dan menelepon seseorang.

"Bagaimana kabarmu hari ini? Bagaimana belajarmu?" terdengar suara di seberang sana.
"Hari ini sangat melelahkan, Jay," keluh Sulgi.
"Apa ada yang mengganggumu di kampus? Siapa? Di mana? Katakan!" Jay terdengar cemas.

"Jay, kamu sudah banyak membantuku. Aku yakin bisa menghadapi ini semua, termasuk ayahmu," kata Sulgi.
"Sial! Kenapa dia terus mengganggumu?" Jay kembali geram.

"Jay, terima kasih," ucap Sulgi lembut, membuat Jay yang tadinya kesal menjadi terdiam.
"Sulgi, kamu tidak perlu khawatir. Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku, mengerti?" ujar Jay, suaranya penuh perhatian.

Kata-kata itu membuat Sulgi tersenyum malu. Di kejauhan, Kyung masih bertanya-tanya dengan siapa Sulgi berbicara.

Sulgi melihat ke sekeliling, lalu buru-buru menutup teleponnya. "Jay, aku pulang dulu!" pamitnya, dan telepon pun terputus.

ObsessedStories to obsess over. Discover now