Kesiangan merupakan mimpi terburuk bagi sang gadis ambisius. Perlahan, gerbang mulai ditutup karena waktu sudah menunjukkan pukul 7.30. Reisya ellena yang sering disapa Eca berlari terbirit-birit menuju gerbang. Tak ia pikirkan apapun selain nasibnya yang akan tertinggal kelas fisika favoritnya. Kala itu, ia yang sudah berkeringat melihat uluran tangan dari seorang pria yang tidak ia kenal. Uluran tangan itu terlihat bak diberi highlight di mata Eca. Tangan Eca yang mungil mulai meraih uluran tangan pria tersebut. Bingung apa yang harus Eca lakukan setelah selamat dari gerbang, ia menatap pria tersebut dan berkata "Makasih" lalu kembali berlari menuju kelasnya. Pria tersebut hanya mengerutkan alisnya lalu tersenyum.
"Del, lu tau ngga tadi pagi gue ditolong sama cowok tau. Pas gue berusaha masuk gerbang, eh cowok itu ngulurin tangannya. Yaudah gue gapai aja yakan, daripada ngga bisa masuk." Ujar Eca pada sahabatnya Adellia Adzira yang sering disapa Adel.
"Gimana gimana? Ganteng ngga tu cowok? Terus lu jawab apa?" Tanya Adel
"Gatau euy biasa aja kata gue mah, gue akhirnya bisa masuk gerbang karena dia. Udah gitu gue bilang makasih, udah deh."
"Lagian ngapain pake acara kesiangan segala sih Ca?. Eh btw, ada ekskul baru nih, gue ditawarin pak Ridwan buat masuk, lu ikut ya. Gue bingung kalo nolak, kalo nerima takut ngga ada temen. Lu ikut ya Ca!." Ajak Adel
"Ekskul apaan?" Tanya Eca
"Tenis meja". Jawab Adel sambil cengengesan
"Salah orang lu, ngapain gue masuk tenis meja. Nggak nyambung banget tau. Basic gue bukan di olahraga."
"Pliss Ca, Eca yang paling cantik sedunia. Saya memohon se mohon mohonnya Ca. Kabulkan lah permintaan temanmu yang lucu ini Ca." Ujar Adel sembari memegang tangan Eca dan menatap matanya
"Yaudah deh iya."
"Wuih, makasih Eca."
"Btw nanti pulang gw nebeng ya Del." Ujar Eca (biasa, beban temen)
"Santai aja. Yang penting lu ikut tenis meja."
Tak pernah mereka tau, kehidupan mereka yang flat akan mulai berwarna setelah masuk ekstrakurikuler yang diluar keinginan mereka. Dua gadis ambisius tersebut yang tinggal di kelas unggulan dengan predikat eligible tertinggi mulai keluar dari zona nyamannya dan memulai petualangan baru di kehidupan mereka.
Keesokan harinya, di sore hari sepulang sekolah diadakan pertemuan pertama ekstrakurikuler tenis meja.
"Anak-anak selamat datang di ekskul baru sekolah ini, meskipun anggotanya baru sedikit, dan itupun karna kebanyakan bapak yang undang, bapak harap kalian betah dan bisa berkembang di ekskul ini."
"Jujur ini ganggu jadwal les gue tau Ca." Ujar Adel yang berbisik kepada Eca
"Lah, lu yang ajak."
"Oke langsung saja kita pilih ketuanya ya, langsung ajuin diri aja kalo bisa."
Ujar pak Ridwan pembina tenis meja
"Pak kalo Akhtar aja gimana? Dia kan cowok populer, kalo dia jadi ketua kemungkinan ekskul kita ini bakal maju, secara kan dia populer di kalangan cewek-cewek, pasti banyak anggota baru yang masuk." Teriak Lathif dari pojok kiri paling belakang, dengan Akhtar disampingnya.
"Akhtar nya mau emang?" Tanya pak Ridwan
"Ngga pak, saya ngga sanggup. Daripada saya nanti ngga bener mimpin organisasi ini." Jawab Akhtar dengan tegas (sok cool si Akhtar mah)
"Yaudah Lathif aja mau?" Tanya pak Ridwan
"Engga pak, hehe" (biasa, oknum gaje)
"Rizky? Gimana kalo kamu?" Tanya pak Ridwan
"Boleh pak, biar saya aja." Jawab Rizky yang akhirnya sanggup menjadi ketua tenis meja
"Pertemuan pertama kita sampai disini aja ya, kebetulan ketua sudah kepilih. Dan menurut bapak, itu sih yang penting. Nanti pemilihan kepengurusannya biar kalian aja yang atur. Kita mulai produktif di Minggu depan ya. Selamat sore." Ujar pak Ridwan
"Sore pak." Ujar murid-murid dengan serentak.
Eca dan Adel yang merasa ekskul barunya membosankan tak bisa berlama-lama di ruangan tersebut. Setelah selesai, mereka bergegas pulang.
"Btw Del.." ujar Eca yang terpotong oleh Adel
"Motor gue rusak, di bengkel." Jawabnya singkat
"Yah, kabar buruk. Tapi sebenernya gue bukan mau nanyain itu sih. Btw Akhtar tu siapa sih? Kok auranya kek sok keren gitu?."
"Lu baru tau? Dia itu cowok populer di sekolah kita, dia dari jurusan IPS." Jawab Adel
"Mukanya kayak orang mau ngajak perang." Ujar Eca dengan datarnya
"Wah parah, dia ganteng Eca. Tinggi, putih, cool, perfect deh pokoknya." Ujar Adel (keliatan banget neng)
"Dih, ngga juga. Udah ah gue mau nebeng ke si Luna, noh orangnya lewat. Bye dell" ujar Eca sembari berlari ke arah Luna dan menyapanya. (modus doang, dia mah tukang nebeng)
Disisi lain gerimis mulai turun setetes demi setetes, meninggalkan kesan yang begitu indah. Ditengah gerimis tersebut kekhawatiran menghantui Adel. Kakaknya yang menjemputnya tak juga kunjung datang. Namun kala itu, sebari menunggu, pandangannya teralihkan pada suara batuk seseorang yang datang dari belakang (caper sok keren orang ini mah). Ia pun menoleh dan mendapati Akhtar yang tiba-tiba duduk di kursi halte di belakangnya.
Tanpa Adel sadari, ia menatapnya begitu lama. Dan tatapannya, seketika ditangkap oleh Akhtar. Tatapan mereka pun terpatahkan oleh suara klakson motor yang datang menjemput Akhtar
"Oy, ayo keburu sore." Ujar Lathif kepada Akhtar (ganggu aje ni orang)
Akhtar pun segera menaiki motor Lathif dan mereka pun pergi meninggalkan sekolah. Tak lama kemudian kakak Adel datang dengan mobil Ferrari nya.
(Disisi lain di rumah Eca)
"Gila, seorang Eca? Jatuh cinta pandangan pertama? Ah apasih Ca. Ca, Eca sadar Eca!. Kok bisa senyumnya semanis itu? Argh!."
(Disisi lain di rumah Adel)
"Apaan sih Del. Stop, stay cool dell, stay cool. Apa itu cinta, ngga ada di kamus Adellia."
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Ambitious Love
Genç KurguDua orang sahabat yang ambisius dan menjadikan pelajaran sebagai prioritas utamanya kini tersadar akan kehidupannya yang kekurangan warna. Mereka menemukan warna lain di kehidupan mereka setelah memasuki ekstrakurikuler baru, yakni tenis meja. Apa y...
