Woo Seul gi, gadis desa berhati lembut dan cerdas, menjalani hari-harinya di panti asuhan kecil di Daegu. Kehidupannya yang sederhana berubah drastis ketika Lee Min Jung Soo, seorang pebisnis kaya raya, datang dan mengadopsinya. Seul gi dibawa ke Seoul, ke sebuah rumah mewah yang lebih besar dari panti asuhannya.
Saat memasuki rumah megah itu, Seul gi disambut barisan pelayan yang menunduk hormat. "Selamat datang, Tuan dan Nona," ucap mereka serempak. Lee Min Jung Soo dengan bangga memperkenalkan Seul gi sebagai putrinya. "Mulai sekarang, panggil dia Nona Seul gi."
Seul gi merasa gugup dan canggung. Ia khawatir bagaimana penerimaan anak kandung Lee Min Jung Soo, Lee Jae Yi. Kamarnya yang luas dan mewah membuatnya terkejut, seolah mimpi menjadi kenyataan.
Saat menjelajahi rumah barunya, Seul gi menemukan sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka. Rasa penasaran membawanya masuk. Di sana, ia melihat seorang gadis cantik sedang berolahraga. Gadis itu tak lain adalah Lee Jae Yi.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jae Yi dengan nada dingin, membuat Seul gi tersentak. "Ini kamarku, tidak ada yang boleh masuk tanpa izinku."
Seul gi menunduk, meminta maaf. Namun, Jae Yi tiba-tiba tersenyum dan mengangkat dagu Seul gi. "Ternyata kau manis juga," ujarnya, membuat Seul gi bingung. "Aku Lee Jae Yi. Senang bertemu denganmu, Woo Seul gi."
"Bagaimana kau tahu namaku?" tanya Seul gi.
"Tentu saja aku tahu. Kita sekarang keluarga," jawab Jae Yi, lalu pergi mandi, meninggalkan Seul gi yang masih diliputi kebingungan.
Tirai kamar Jae Yi yang berat dan mewah sedikit tersibak, membiarkan seberkas cahaya matahari menyelinap masuk. Debu-debu halus menari-nari dalam cahaya itu, menciptakan suasana misterius yang membuat bulu kuduk Seul Gi meremang. Dengan jantung berdebar kencang, Seul Gi mengamati sekeliling kamar yang luas dan tertata rapi itu. Namun, keindahan kamar itu ternoda oleh pemandangan yang membuatnya membeku ketakutan: seekor ular kobra besar melingkar di atas meja kayu di sudut ruangan.
"Ya Tuhan..." bisik Seul Gi, matanya membelalak ngeri. Ia mundur perlahan, berusaha menjauh dari ular itu tanpa menarik perhatiannya. Namun, gerakannya terhenti oleh suara dingin yang tiba-tiba terdengar dari belakangnya.
"Apa kau takut?"
Seul Gi berbalik dengan jantung hampir melompat keluar dari dadanya. Jae Yi berdiri di sana, hanya mengenakan handuk mandi yang melingkari pinggangnya, rambutnya yang basah meneteskan air ke lantai. Seul Gi menelan ludah, berusaha menenangkan diri.
"Jae Yi, bukannya kau pergi mandi tadi?" tanyanya, suaranya bergetar.
"Sudah selesai," jawab Jae Yi singkat, menatap Seul Gi dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.
Seul Gi mengalihkan pandangannya dari Jae Yi, kembali menatap ular kobra yang masih melingkar dengan tenang di atas meja. "Kenapa kau memelihara ular di kamar?" tanyanya, suaranya masih bergetar.
"Lucu, kan?" jawab Jae Yi, nada suaranya datar. "Aku menemukannya saat aku berumur 12 tahun, saat aku pergi berburu bersama ayah."
Jae Yi melangkah melewati Seul Gi, menuju lemari pakaiannya. Tanpa ragu, ia melepaskan handuk mandinya, memperlihatkan tubuhnya yang hanya mengenakan bra dan celana dalam saja. Seul Gi tersentak, memalingkan wajahnya dengan pipi yang memerah.
"Kau akan sering melihatnya kalau kau datang ketika aku mandi," kata Jae Yi, nada suaranya terdengar geli.
Seul Gi tidak tahan lagi. Ia berbalik dan berlari keluar kamar, meninggalkan Jae Yi yang tersenyum tipis. "Menarik," gumam Jae Yi, menatap pintu yang tertutup di belakang Seul Gi.
Di luar kamar, Seul Gi bersandar di dinding, mencoba mengatur napasnya yang terengah-engah. Jantungnya masih berdebar kencang, dan bayangan ular kobra serta tubuh Jae Yi masih terpatri jelas di benaknya. Ia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi, tetapi ia tahu satu hal: Jae Yi adalah sosok yang misterius dan berbahaya, dan ia harus berhati-hati di dekatnya.
Tirai malam perlahan turun, menyelimuti rumah Jae Yi dengan kehangatan rembulan. Di ruang makan, aroma masakan lezat menguar, hasil karya sang ayah yang ingin menyambut Seul Gi dengan jamuan istimewa. Namun, kehangatan itu terhalang oleh dinding keheningan yang tebal.
"Ayah harap kalian berdua bisa akur dan menjadi saudara yang baik untuk satu sama lain," ucap sang ayah, memecah kesunyian yang menyesakkan.
Jae Yi, dengan senyum tulus, menyahut, "Tentu saja, Ayah. Aku akan menyayangi Seul Gi seperti adik kandungku sendiri."
"Jae Yi, kau harus membantu Seul Gi untuk beradaptasi di sekolah barunya nanti," lanjut sang ayah.
"Baik, Ayah," jawab Jae Yi, patuh.
Sang ayah menoleh ke Seul Gi, "Seul Gi, jangan merasa canggung. Kita sekarang adalah keluarga."
"Iya, Ayah," jawab Seul Gi, suaranya pelan.
Usai makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing. Seul Gi merebahkan diri di ranjang, namun pikirannya melayang-layang. Mimpi buruk menghantuinya, bayangan sang ayah yang berteriak dalam ketakutan.
"Ayah..." teriak Seul Gi, air mata membasahi pipinya.
"Lari... Seul Gi... lari!"
Seul Gi terbangun dengan napas terengah-engah. Mimpi itu terasa begitu nyata, membuatnya sulit untuk kembali terlelap. Dengan gelisah, ia melangkah ke balkon kamar, mencari ketenangan di bawah sinar rembulan.
Bulan malam itu bersinar begitu indah, memancarkan cahaya perak yang menenangkan. Seul Gi menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Ia menatap langit malam yang luas, berharap menemukan jawaban atas mimpi-mimpinya yang membingungkan.
Malam itu, bulan purnama menggantung sempurna di langit, menerangi balkon kamar Seulgi. menikmati ketenangan malam, ketika matanya menangkap sosok mencurigakan di kejauhan.
Sosok itu, berpakaian serba hitam dengan hoodie menutupi kepala, mengendap-endap keluar dari gerbang rumah . Di tangannya, sebuah skateboard terlihat samar-samar. Seulgi mengerutkan kening. Ada sesuatu yang familiar dari gerak-gerik sosok itu.
Jantungnya berdetak lebih cepat saat ia menyadari kemungkinan identitas sosok tersebut. Jae Yi, memiliki koleksi skateboard beberapa dikamarnya .Tapi, mengapa Jae Yi keluar larut malam seperti ini?
Rasa ingin tahu Seulgi bergejolak. Ia ingin tahu ke mana Jae Yi pergi dan apa yang akan dilakukannya. Namun, naluri lain menahannya. Itu bukan urusannya. Jae Yi memiliki hak untuk privasinya, dan Seulgi tidak ingin ikut campur.
Seulgi menghela napas, mengalihkan pandangannya dari sosok yang semakin menjauh. Ia memutuskan untuk kembali ke dalam, meninggalkan misteri malam itu untuk dirinya sendiri. Tapi, dalam hatinya, ia tidak bisa menahan rasa penasaran yang menggelitik. Apa rahasia yang disembunyikan Jae Yi?
Malam itu, di sebuah gedung tua yang remang-remang, ketegangan menyelimuti ruangan. Beberapa pria berwajah sangar berdiri gelisah, menanti kedatangan sang bos. Suasana hening, hanya suara tetesan air dari langit-langit yang menambah kesan mencekam.
Tiba-tiba, pintu berderit terbuka. Sosok wanita berjubah hitam dengan tudung menutupi wajahnya muncul, aura dinginnya menyapu ruangan. "Apa ini saja?" tanyanya, suaranya tajam dan menusuk.
Salah seorang pria tergagap, "Ma-maaf, Bos. Ini yang berhasil kami kumpulkan."
Wanita itu menggeram, "Aku membayar kalian terlalu mahal untuk hasil seperti ini! Aku tidak peduli bagaimana caranya, besok aku ingin melihat hasil yang jauh lebih besar. Paham?"
Tanpa menunggu jawaban, wanita itu berbalik dan menghilang dalam kegelapan, meninggalkan para pria yang saling pandang dengan wajah pucat.
Pagi harinya, mentari pagi menyelinap masuk ke kamar Seul Gi, membangunkannya dari tidur lelap. Ia meregangkan tubuh, lalu bergegas menuju kamar mandi. Hari ini adalah hari pertamanya di sekolah baru, dan ia ingin tampil sempurna.
Setelah selesai bersiap-siap, Seul Gi hendak meraih tasnya, namun tiba-tiba sepasang lengan melingkar di pinggangnya. "Pagi, Seul Gi," bisik suara lembut di telinganya.
Seul Gi terkejut, "Jae Yi? Apa yang kau lakukan?"
"Kenapa? Kau tidak suka dipeluk?" goda Jae Yi, melepaskan pelukannya.
Seul Gi tersenyum tipis, "Bukan begitu."
Jae Yi menarik tangan Seul Gi, membawanya turun ke ruang makan. Di sana, meja makan panjang telah dipenuhi berbagai hidangan lezat, para pelayan berdiri siaga menunggu perintah.
Jae Yi menarik kursi untuk Seul Gi, "Silakan"
"Terimakasih" jawab Seul gi
Saat mereka menikmati sarapan, pikiran Seul Gi melayang. Ia merasa ada sesuatu yang aneh, seperti ada rahasia yang tersembunyi di balik senyum Jae Yi yang ceria.
YOU ARE READING
venom
Mystery / ThrillerWoo Seul gi, gadis desa berhati lembut dan cerdas, menjalani hari-harinya di panti asuhan kecil di Daegu. Kehidupannya yang sederhana berubah drastis ketika Lee Min Jung Soo, seorang pebisnis kaya raya, datang dan mengadopsinya. Seul gi dibawa ke Se...
