chapter 1" awal pertulangan

36 20 0
                                        

*Awal Pertemuan*

Pagi itu di sekolah, Sekar, gadis berambut panjang dan cantik, asyik membaca buku. Riswan, teman baiknya, menghampirinya.

"Hei Sekar, nanti malam ikut aku, yuk, ke rumah tua itu," ajak Riswan.

Sekar mengernyit. "Rumah tua yang mana, Ris?"

Riswan tersenyum misterius. "Kamu nggak tahu, ya? Yaudah, nanti malam ikut aku saja, ya, Sekar," katanya sambil tersenyum tipis. Ia sedikit ragu, namun tetap memaksakan ajakannya.

Sekar, yang menyimpan rasa pada Riswan, hanya bisa mengiyakan. Ia ingin dekat dengan Riswan, meskipun sedikit takut. Malam harinya pun tiba...

*Perjalanan Menuju Rumah Tua*

Hujan rintik-rintik membasahi jalan setapak yang dipenuhi dedaunan kering. Kabut tipis menyelimuti pepohonan, menciptakan suasana mencekam. Riswan menarik tudung jaketnya, sementara Sekar menggigil di sampingnya.

"Kenapa kita harus ke sini malam-malam begini?" tanya Sekar, suaranya bergetar.

Riswan tersenyum tipis, meskipun sebenarnya ia juga merasa was-was. "Karena kalau siang, kita nggak bakal dapat sensasi misterinya," jawabnya, berusaha meyakinkan diri sendiri dan Sekar.

Di hadapan mereka berdiri rumah tua itu-bangunan lapuk yang nyaris ditelan waktu. Cat temboknya mengelupas, jendela-jendelanya pecah, dan pintu kayu tua itu berderit pelan tertiup angin. Rumor tentang rumah itu-tempat tinggal seorang pembunuh berantai yang menghilang tanpa jejak-sudah lama beredar di desa.

Sekar meremas lengan Riswan. "Aku nggak yakin ini ide bagus..."

Riswan berusaha meyakinkan, "Tenang aja, Sekar. Ada aku di sini." Namun, raut wajahnya menunjukkan ketakutan yang sama.

*Di Dalam Rumah Tua*

Dengan senter di tangan, Riswan mendorong pintu yang berdecit nyaring. Udara pengap dan bau apek langsung menyergap mereka. Lantai kayu berderit di bawah langkah kaki mereka. Sekar menyinari dinding dengan senternya, menemukan coretan-coretan aneh yang tampak seperti simbol atau kode.

"Kayak kode atau simbol..." gumamnya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari lantai atas. Sekar menahan napas. Riswan menoleh, ekspresinya serius. "Kita nggak sendirian."

Sebuah tawa lirih, dingin, dan menusuk memecah kesunyian. Rambut Sekar berdiri. Mereka berpandangan, jantung berdebar kencang. Petualangan mereka baru saja dimulai...

*Ketegangan Meningkat*

Sekar mencengkeram lengan Riswan erat-erat. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tersengal. Suara tawa itu terasa sangat dekat, seperti ada seseorang yang mengintai mereka dalam gelap.

"Ris, kita pergi saja, ya? Ini bukan tempat yang aman..." bisik Sekar, suaranya gemetar.

Riswan menelan ludah. Rasa penasarannya masih lebih besar daripada ketakutan. Ia menyinari tangga tua yang menuju lantai atas dengan senternya. Debu beterbangan, dan suara langkah kaki itu menghilang.

"Siapa pun itu, dia tahu kita di sini," bisik Riswan.

Suhu ruangan tiba-tiba turun drastis. Sekar menggosok lengannya, merasakan hawa dingin menusuk tulang. Dari balik dinding, terdengar suara berbisik pelan, seperti bahasa yang tak mereka mengerti.

"Dengar itu?" Sekar menoleh ke Riswan, matanya melebar.

Riswan mengangguk, "Mungkin... tempat ini benar-benar berhantu, atau ada orang lain di sini."

Riswan melangkah lebih dalam. Setiap langkahnya terasa berat, seperti ada sesuatu yang menahannya. Sekar mengikutinya dengan hati-hati. Mereka tiba di ruang tamu yang luas. Perabotan tua berserakan, beberapa kursi terbalik, dan meja kaca berdebu penuh retakan.

Di sudut ruangan, sebuah cermin besar masih utuh. Anehnya, pantulan mereka tidak jelas, seolah-olah bayangan mereka bergoyang samar, seperti ada sesuatu yang mengintai dari balik kaca.

Sekar mendekat dengan ragu. Saat ia menatap cermin, sebuah wajah pucat dengan mata hitam pekat muncul di belakangnya!

*Terjebak dan Penemuan Mengejutkan*

Sekar menjerit. Riswan langsung menariknya menjauh, menyinari cermin dengan senter, tetapi wajah itu sudah hilang.

"Kita harus keluar dari sini, sekarang!" seru Sekar panik.

Tetapi pintu tiba-tiba tertutup dengan keras. Mereka terjebak.

Riswan mencoba membuka pintu, tetapi tak bergerak. Sekar merapat ke dinding, napasnya masih tersengal.

"Kita terjebak..." bisiknya ketakutan.

Riswan menyinari ruangan dengan senter. Pandangannya terhenti pada lemari kayu besar di pojok ruangan. Lemari itu sedikit terbuka, dan ada bekas goresan di lantai, seperti sering digeser.

"Mungkin ada sesuatu di sana," katanya, mendekati lemari.

Ia membuka pintu lemari yang berdebu itu. Sebuah ruangan kecil tersembunyi di baliknya, dipenuhi dokumen tua, foto-foto hitam putih, dan senjata berkarat yang tersusun rapi di atas meja.

Sekar menelan ludah. "Ini bukan cuma rumah kosong..."

Riswan mengambil sebuah foto yang hampir tertutup debu. Saat dibersihkan, matanya melebar. Foto itu menunjukkan seorang pria tinggi berjas hitam dan seorang wanita bergaun, dengan latar belakang rumah tempat mereka berada sekarang.

Di bawah foto itu, ada catatan tangan yang pudar: "Pergi kalian semua dari rumah kami. Jangan ganggu kami."

Sekar mundur, merasa lemas. "Jadi... rumah ini milik mereka?"

Riswan mengangguk, membaca beberapa dokumen. Ia menemukan daftar nama dan tanggal, banyak yang dicoret, seolah menandakan korban.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari lantai atas. Bukan suara gaib, melainkan langkah kaki nyata.

"Ris... ada orang di atas," bisik Sekar ketakutan.

Riswan mengambil pisau berkarat. "Kalau di sini ada orang jahat... kita harus siap."

Bagian 6: Pertemuan dengan Samsara

Langkah kaki itu mendekat. Seorang pria muncul di tangga. Tingginya menjulang, tubuhnya kurus tetapi kuat. Wajahnya tertutup bayangan, kecuali sepasang mata tajam.

"Kalian seharusnya tidak ada di sini," suara pria itu dalam dan serak.

Riswan menelan ludah. "Siapa... siapa kamu?"

Pria itu melangkah maju, memperlihatkan wajahnya. Bekas luka panjang melintang di pipinya, rambutnya memutih dan berantakan. Di tangannya tergenggam pisau yang lebih besar dan tajam.

"Mereka menyebutku Samsara," katanya tenang. "Tapi kalian sudah tahu itu, kan?"

Sekar mundur, tetapi Samsara tidak bergerak. Tatapannya seperti menilai mereka.

"Kami hanya ingin tahu tentang rumah ini," kata Riswan, mencoba mengendalikan suaranya.

Samsara tersenyum tipis-senyum yang lebih mirip seringai. "Semua orang yang masuk ke sini ingin tahu. Dan mereka tidak pernah keluar untuk menceritakan kisahnya."

Sekar tersentak. "Jadi... semua rumor itu benar? Kau seorang pembunuh?"

Samsara memiringkan kepala. "Pembunuh? Aku hanya menyingkirkan orang-orang yang seharusnya tidak ada. Sama seperti sekarang."

Samsara menjelaskan bahwa istrinya meninggal karena ulah sekelompok pemuda yang berisik di dekat rumah mereka. Ia menyimpan dendam dan membunuh siapapun yang mendekati rumahnya.

Riswan siap bertarung, tetapi bayangan di belakang Samsara bergerak sendiri, berubah menjadi sosok wanita dalam foto itu, dengan mata hitam pekat yang kosong.

Samsara terlihat ketakutan. "Kalian membangunkannya," bisiknya.

Bayangan itu bergerak, dan ruangan berubah menjadi neraka...

-Bersambung-

The Adventure of Riswan and SekarHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora