Keluarga Kecil Arif dan Bintang

10 2 0
                                        


Pening, kepala Arif pusing sekali. Pekerjaannya sedang tidak kondusif, klien terbarunya adalah salah satu koruptor, ia harus memutar otak untuk meloloskan dari hukum tertulis. Harapannya untuk kabur dari situasi rumah yang tidak kalah kacaunya hancur.


Keadaan rumah berantakan karena mereka baru saja mengadopsi/melahirkan Alana, anak kedua mereka. Yang pertama Ei, anak pertama yang dibangga-banggakan sudah 5 tahun suka keluyuran dengan sepeda roda empat dibelikan papinya (Bintang).


Balik lagi ke meja, Arif, dan kondisinya sekarang, setumpuk berkas yang dibaca olehnya, sejarah panjang korupsi yang tak habis-habis dari kliennya. Masa pemilu berakhir, waktunya yang berkuasa menyingkirkan lawannya dari kandang, menjerumuskan mereka dengan mengais-ngais kesalahan lampau sengaja dikubur untuk dikibarkan kembali saat mereka menjadi oposisi.


Agaknya ia terlalu fokus dengan pekerjaannya, notifikasi dari suaminya berdering, runtutan teks menyuruhnya untuk pulang: 'Ei tidak sengaja memecahkan TV saat bermain, Alana muntah tidak sengaja memakan sensory play' (yang Bintang kerjakan semalam suntuk setelah melihat konten edukasi parenting)


Arif menghela nafas gusar, dilemparkannya kertas yang ia genggam, tangannya bergegas memijat pelipisnya. Rasa-rasanya ia ingin marah... kepada siapa? Mana mungkin ia menyalahkan anak-anaknya, itu kan keputusannya dan Bintang, terakhir ia pastikan sudah dipikirkan matang-matang juga, atau belum ya? Bagaimana pun, ia tidak akan tega membiarkan suaminya stress sendirian dan memutuskan untuk segera pulang meninggalkan busuk busuknya negara.


Harusnya Arif tau, konsekuensi dari pulang pada saat jam makan siang. Tidak sedikit di jalanan, orang orang dengan lanyard kantornya mencari makan, setengah lainnya yang mengisi macetnya jalan anak-anak pulang sekolah dengan ojek online, berdesakkan di jalan. Perutnya bunyi dia kelaparan juga, tidak sempat makan hidangan ringan di mejanya tadi. Kalau bukan karena Bintang dan keluarga kecilnya dia tidak akan rela menerjang siang bolong. Ditengah-tengah ia bengong meratapi kehidupannya sekarang di balik setir mobil, ternyata hpnya sudah tersambung otomatis ke speaker bluetooth mobil, terdengar alunan bercinta lewat kata. Ia tersenyum, memorinya berputar kembali waktu dimana mereka (ia dan Bintang) pertama kali mengadopsi anak (Ei), kalang kabut bingung, mengikuti setiap kelas parental bernilai ratusan rupiah, selagi sering bertengkar karena orang tua Bintang tidak setuju dengan pilihan mereka untuk adopsi anak.


Hari baru setengah jalan namun Arif sudah menghadapi macet 1 jam, sudah di spam chat sama Bintang yang kewalahan ngurusin dua toddler rewel, dan perutnya sudah mules membayangkan kondisi apartemen. Arif gak buka hp lagi, karena udah otw apartemen dua kamar mereka. Mereka berdua memutuskan, nanti saja beli rumahnya kalau kakak (Ei) sudah masuk SMP, sisa tabungannya buat sekolah kakak dan adek (Alana) di sekolah internasional yang daftarnya setahun sebelum (Bintang sudah daftarkan). Karena menurut mereka pendidikan itu penting, meski bapak dan papinya gak pernah bener waktu sekolah.


Arif sampai di depan pintu, bunyi pintu terbuka menampilkan betapa berantakan apartemen mereka. Yang pertama dilakukan Arif saat sampai adalah memeriksa keadaan Bintang, betul saja dia sudah terlihat seperti hendak memarahi seisi bumi.


Ia jauhkan Bintangnya dari kedua anaknya, didudukkan di kamarnya. Bintang meledak, "what do they want sih? Aku bingung bgt rif, aku harus apa? Gak ada yang pernah ngasih tau gw kalo hal kayak gini bakal kejadian? Kakak dlu juga gak serewel ini, kenapa dia tiba2 jadi caper gitu?" Arif yang sama capeknya cuman diem, melihat Bintangnya penuh dengan emosi membuncah. "Maaf ya, harusnya aku disini bantuin kamu." Tangannya sibuk menenangkan suaminya. "Where did i go wrong? Aku salah apa ya? Aku harus lebih strict lagi ke mereka?" wajahnya memerah, penuh keringat meski di ruangan dengan air conditioner central "Engga bintang, aku yakin ini cuman fase aja. Kakak juga kayak gitu mungkin mau perhatian lebih, semenjak kita bawa Alana dia makin sering tantrum kan?" Bintang mencerna omongan Arif, ada benarnya.

Super Bubur di Paris (Ei dan Alana Universe)Stories to obsess over. Discover now