Adegan 1: Pertemuan Di Restoran Fuku Ichi
Lokasi: Restoran Jepang yang hangat, meja kayu berbaris rapi, lampu kuning redup memberikan suasana nyaman. Musik instrumental Jepang terdengar lembut. Morant duduk sendiri menikmati ramen, mengenakan kemeja kasual yang digulung hingga siku. Ia tampak santai tetapi matanya memperhatikan sekitar. Vanda, duduk di meja dekat jendela, mengenakan blus putih dengan rambut tergerai, sedang sibuk mengaduk ramen sambil sesekali memeriksa ponselnya.
Morant melirik Vanda yang tampak menikmati makanannya. Ia tersenyum kecil, berdiri, dan mendekati meja Vanda dengan percaya diri.
Morant (tersenyum ramah): "Permisi... Saya perhatikan dari tadi, kamu kelihatannya menikmati banget ramen ini. Jadi penasaran, ramen di sini memang seenak itu ya?"
Vanda (melirik Morant, sedikit terkejut tapi tersenyum): "Oh, iya. Restoran ini memang terkenal sih, apalagi kuah ramennya, enak banget."
Morant: "Hmm, kuah ramen, ya? Se kental itu ya rempah-rempah nya jadi enak banget?"
Vanda (tertawa kecil): "iyap benar! Kuah itu esensi ramen."
Morant (tersenyum): "Noted. Boleh rekomendasi topping favorit? Soalnya aku baru pertama kali ke sini."
Vanda: "Telur setengah matang, itu wajib. Trus coba juga rumput lautnya, bikin rasanya makin lengkap."
Morant (mendekatkan kursi ssedikit): "Kamu pasti sering ke sini, ya? Kelihatannya paham banget soal ramen."
Vanda: "Nggak juga, cuma suka coba makanan Jepang. Kalau kamu? Kenapa baru pertama kali?"
Morant (menghela napas kecil): "Kerja. Kebanyakan kerja. Kadang sampai lupa nikmatin hidup, dan aku mau flashback masa kecil nonton naruto yang suka makan ramen jadi pengen. Tapi kayaknya hari ini pilihan aku tepat, ketemu orang yang ngerti soal ramen."
Vanda (tersenyum, tertawa kecil): "Wah, itu berarti keberuntungan kamu lagi bagus."
Morant: "Mungkin lebih dari itu. Aku Morant, by the way."
Vanda (menyambut jabat tangan): "Vanda. Senang kenalan sama pecinta ramen pemula."
Percakapan berlanjut, mereka berbicara tentang pekerjaan, kesibukan, dan sedikit cerita pribadi.
Vanda: "Jadi kamu kerja di bidang IT? Kebayang nggak sih, kerjaan kamu tuh kayak film-film hacker yang selalu nge hack dan membongkar rahasia orang besar?"
Morant (tertawa kecil): "Kalau seperti di film, mungkin aku udah jadi pahlawan. Tapi kenyataannya cuma berkutat sama data dan jaringan. Boring banget."
Vanda: "Nggak kok, menurutku keren. Orang IT itu kayak punya kemampuan super di dunia modern."
Morant (tersenyum, menatap Vanda): "Dan konsultan di media online shop terbesar di indonesia? Itu juga pasti menarik, apalagi kalau berhubungan sama entertainment."
Vanda: "Lumayan sih, cuma kadang sibuk banget. Tapi aku suka. Bisa kerja sambil lihat sisi kreatif dari industri hiburan."
Morant: "Kamu pasti jago banget ngatur waktu. Kalau aku, kadang cuma pengen santai tanpa mikirin apa-apa."
Vanda: "Sama, aku juga. Makanya makanan kayak gini tuh momen relaksasi buatku."
Morant: "Relaksasi ya, kenapa ya kalo cewe kalo pas baru makan itu suka goyangin badan dan tepuk tangan kecil?"
Vanda (Tertawa kecil): "Hahaha itu karena makanan yang dicoba nya enak, dan kami melakukan itu karena gemas aja jadi spontan aja gitu."
Morant (Tersenyum): "Oh begitu, ngomong-ngomong soal relaksasi tadi, kamu suka jalan-jalan nggak? Mungkin nanti kita bisa cari tempat makan lain yang lebih santai, ngobrol-ngobrol lagi."
YOU ARE READING
Unreadable
Mystery / ThrillerDi balik senyum ramah di meja ramen dan obrolan ringan tentang topping favorit, ada rahasia yang tak terduga. Morant, pria yang tampak santai dan bersahabat, memiliki dunia lain yang bergerak dalam kegelapan. Sementara Vanda menikmati pertemuan yang...
