.
.
Happy Reading
.
.
☆
Bulan purnama menghiasi , bertengger dibalik gunung tinggi. Langit gelap tak berpenghuni , bahkan bintang pun enggan mengisi.
Dibawah pohon mati, termenung jauh, iris merah yang diterpa cahaya bulan itu tak memiliki apa apa selain tatapan tak berarti.
Hembusan nafas kembali menggumpalkan asap di cuaca dingin. Matanya yang lelah mulai menutup , hendak memejamkan mata dan tertidur lelap.
Suara sekitar hening, seakan mengerti tubuh itu, dan jiwanya butuh ketenangan saat ini.
Beberapa saat terasa tenang. Jiwanya nyaris terombang ambing oleh mimpi yang hanyalah sebuah kabut bayangan. Hingga sebuah tangan menepuk surai kecoklatannya , membuat ia tersentak dan kembali membuka mata.
Ia tau siapa yang mengusiknya. "Kaizo? Ada apa?" Mata merah nya bertabrak dengan mata merah delima , menatap sosok berbaju zirah dan pedang digenggaman nya.
Kaizo duduk bersebelahan , memandang kedepan—lembah hutan kering kerontang yang terasa hampa dipandangnya. "Kau sudah bekerja keras. Aku minta maaf sudah mengganggu" Suara berat keluar , dingin dan datar.
Tak menjawab dan tak mendapat jawaban , Kaizo mendengus lalu kembali bicara "Aku tahu kau tak tidur. Kau bukan tipikal yang akan tidur untuk hari esok. Benar kan , Halilintar?" Ucapnya sembari memandang si manik merah—Halilintar namanya.
Halilintar tak menanggapi , memilih menatap kembali hamparan hutan tandus. Menekuk kedua kaki dan memeluk nya. Ia tenggelamkan wajah lelah nya diantar lipatan tangan.
Kaizo melirik dari ekor mata. Kembali mendengus. "Sekurangnya rawat kesehatan mu , idiot!" Kaizo menjambak poni lembut Halilintar , membuat nya mendongak dan menampakkan wajah nya. Dari balik baju ia keluarkan sebuah apel dan menyumpalkan pada mulut Halilintar.
"HASYAR HILLA!!" Halilintar meraung dibalik sumpalan apelnya. Jika ia tidak lelah , mungkin pedang miliknya sudah dilepas dari sarung dan menancap di jakun kecil Kaizo sekarang. Tapi ia lelah , terlalu lelah. Apa dia bilang? 'Dasar Gila!'
Kaizo menyeringai sejenak lalu berkata , "Anggap saja apel itu sebagai nyawa cadangan untuk pertempuran besok" Setelah itu ia bersandar pada batu besar , mulai tertidur.
Halilintar sedikit tertegun , segigit apel lolos memasuki perutnya , namun tidak yang kedua kalinya. Apel itu tak mampu ditelan , perutnya menolak makan dan mulutnya terlalu lelah untuk mengunyah. Ia mengambil sehelai daun dan membungkus sisa apel disana. Memasukan kedalam saku dan bersandar dikayu pohon.
"Besok.." Lirih nya pelan. "Mungkin besok aku mati"
"Omong kosong apa itu?" Suara dingin dan berat dari Kaizo terdengar lantang. "Kau? Mati? Cih.." Kaizo mengoceh , masih dengan mata tertutup. "Tanpa berpamitan pada mereka?"
Halilintar bingung , mengangkat sebelah alisnya. "Mereka?" Ia membeo.
Kaizo berdecak , menunjuk ke arah utara , tepatnya ke gunung tertinggi yang memancarkan samar samar cahaya. Itu Istana Tens Element Empire. "Ibunda ratu , dan ke enam pangeran yang merupakan adik kandung mu. Alahkah baiknya jika kau meminta restu untuk mati besok daripada pulang sebagai mayat kaku. Kau hanya akan ditertawakan"
Halilintar memalingkan wajah ketika anggota keluarganya disebut. Lebih memilih menatap gunung tertinggi kedua disebelah Selatan. Disana terletak istana kegelapan , Istana Darkoreo Empire.
"Aku tidak bisa pulang" Halilintar memulai. Kaizo yang tertarik membuka matanya dan kembali duduk. "Apa maksudmu tidak bisa?"
Halilintar hanya menghela nafas. "Aku... ya.. hanya tidak bisa"
VOUS LISEZ
ENDLESS SUFFERING [•Halilintar•] Empire Era
ActionBagaimana perasaan mu ketika kau hanyalah bocah polos tak berdosa berumur lima tahun , bukannya dibawa ke taman bermain penuh keseruan , tapi ke medan perang tempat mayat tergeletak sejauh mata memandang , tempat dimana kaki mu tak luput dari darah...
![ENDLESS SUFFERING [•Halilintar•] Empire Era](https://img.wattpad.com/cover/389524038-64-k993956.jpg)