Prolog.

688 49 0
                                        

Malam begitu kelam tanpa hiasan bulan ataupun gemerlapnya bintang. Hanya kilatan petir yang terus menyambar disepanjang langit seolah ia adalah sang penguasa. Hujan baru saja berhenti beberapa menit yang lalu meninggalkan bayang-bayang hampa yang membeku diterjang hawa dingin.

Gemericik air terdengar dari tetesan sisa hujan yang jatuh dari dedaunan. Suasana nampak sangat sunyi menyelimuti waktu yang terus berlalu, bahkan hembusan angin lirih menjadi gemuruh yang bising ditelinga.

Rumah itu nampak sangat mewah dari luar dengan dua lantai dan sangat luas. Gemerlap lampu yang menghiasi di setiap sudut rumah seolah menggantikan bintang yang malam itu seolah padam begitu saja. Rumah tinggal itu nampak luas dengan cat putih sebagai warna yang membalut setiap ditail lekukan bentuk rumahnya. Terasa begitu hidup dipandang mata pun terasa menenangkan dirasa.

Apa yang terlihat diluar tak semua mencerminkan segalanya yang didalam. Ketenangan yang tampak diluar, sangat kontras dengan gemuruh ribut dibalik pintu yang terkunci rapat itu.

"Benar-benar bodoh"

Maki dan cemoohan itu sudah seperti makanan sehari-hari. Terkadang itu diwarnai dengan pukulan disetiap makian yang dilontarkannya. Saat-saat itu ia akan mendapatkan banyak luka baik fisik dan hatinya.

Dia adalah seorang anak yang melalui banyak hal dalam hidupnya. Perjuangannya untuk tetap hidup dalam terjangan ombak yang selalu meruntuhkan bentengnya. Usianya masih muda, namun kewarasannya dibanting habis-habisan oleh segala beban yang dimilikinya.

"Seandainya aku bisa melawan"

"Lalu apa yang akan kau lakukan, membunuhku ?"

Lalu kekehan terdengar begitu nyaring. Membiarkan begitu saja tubuh sang anak yang mendamba akan belas kasihnya. Sejujurnya bukan ia tak bisa melawan, ia bisa, ia mampu, namun bagaimanapun juga dialah ayahnya. Orang tua yang sangat dihormatinya, ayah yang telah membuatnya ada di dunia ini. Ia tak menyesal telah lahir, ia tak berani menyalahkan mereka orang tuanya.

Ia perlahan bangkit sedikit menunduk karena petutnya terasa nyeri. Beberapa lebam tampak membiru di wajahnya tak menyurutkan niat untuk tetap tersenyum lembt kepada ayahnya yang tengah mabuk di bawah pengaruh alkohol.

"Selamat malam ayah. Beristirahatlah lebih awal"

Namun meskipun sang Ayah tengah mabuk dan marah. Setelah kepergian sang anak meninggalkannya dalam sunyi yang menusuk semakin dalam, hatinya terhimpit semakin sakit. Tangannya gemetar ketika otaknya mengingat apa yang telah dilakukannya pada sang anak.

Namun mengucap maafpun tetap percuma. Dia tetap akan mengulanginya.

"Selamat malam. Li Lun" balasnya lirih seakan tertelan keheningan. Ia merebah disofa panjang menutup diri dati bayang-bayang rasa bersalah bersamaan dalam kemarahan yang terus membakar nuraninya.






Pintu Yang Terkunci (LiZhu)Stories to obsess over. Discover now