PROLOG

27 6 0
                                        


***

"Apa rasanya sakitnya semakin menyiksamu?"

Kellan yang tubuhnya sudah dibasahi keringat mencoba untuk membuka kedua matanya yang sejak tadi terpejam erat sebagai salah satu bentuk responnya dalam menahan rasa sakit yang menjalar dari bahu kirinya.

Matahari sudah lama tenggelam, tapi rasa sakit yang menelan Kellan tak kunjung lenyap.

Setelah susah payah, akhirnya Kellan bisa melihat raut wajah seorang wanita yang baru saja menanyakan keadaannya itu.

Tapi entah karena kesadarannya mulai menurun atau apa, Kellan tak bisa mengartikan sorot mata wanita itu. Sorot mata yang seolah berkabut, datang bersama segurat senyum yang terasa dingin.

Tak peduli seberapa keras Kellan berusaha, ia benar-benar tak mampu mengeluarkan suara.

Kellan akhirnya hanya mengangguk sembari menahan tangisnya yang sedikit lagi akan pecah. Anak laki-laki berusia 14 tahun itu masih berusaha untuk terlihat kuat sebagai seseorang yang memangku gelar Putra Mahkota dari Kekaisaran Herschell.

Wanita dengan sepasang mata dengan iris yang gelap itu mengulurkan tangannya, mengusap kepala Kellan dengan hati-hati, "Kau harus menahannya, Kellan." Ujarnya sebelum ia merendahkan tubuhnya untuk berbisik. "Kau juga harus menepati janjimu untuk tidak mengatakan apa pun tentang apa yang terjadi. Kau harus menyimpannya sendiri sampai kau mati. Mengerti, kan?"

Di tengah serbuan rasa sakit yang semakin menyiksa, Kellan tak begitu mengerti apa yang sedang dibicarakan wanita itu. Sebenarnya ia juga tidak terlalu peduli karena tubuhnya sudah sibuk menahan rasa sakit. Meski ingin kembali membuka matanya untuk melihat bagaimana ekspresi wanita itu, Kellan benar-benar tidak mampu. Ia hanya bisa mengandalkan indera pendengarannya ketika suara derap langkah mulai terdengar menjauh darinya, berjalan ke arah pintu kamar.

"Jangan biarkan siapa pun masuk ke dalam kamar Putra Mahkota sampai besok malam. Apa pun yang terjadi padanya, jangan pernah ada yang berani masuk." Wanita itu berbicara dengan penuh penekanan pada Kepala Pelayan istana Putra Mahkota.

"Tapi bagaimana jika Yang Mulia Kaisar ingin berkunjung untuk melihat keadaan Yang Mulia Putra Mahkota?"

"Yang Mulia Kaisar tidak akan datang ke sini. Dia terlalu sibuk tenggelam dalam kerinduannya pada mendiang Permaisuri daripada peduli dengan keadaan putranya sendiri."

Mendengar itu, entah mengapa seperti ada sesuatu yang menghantam perasaan Kellan.

Di penghujung rasa sakit yang lebih burukdaripada kematian itu, pada akhirnya Kellan hanya bisa mengandalkan dirinyasendiri.

***


HIDDEN GAZEMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon