Waktu istirahat telah tiba. Satu persatu murid mulai meninggalkan ruang kelas. Suasana kelas yang tadinya ramai, perlahan-lah berubah menjadi sunyi. Tak ada suara lain yang terdengar selain suara AC di atas papan tulis.
Lima belas menit kemudian, Bara kembali ke kelasnya. Dari balik pintu, dia melihat ada seorang gadis tengah duduk dengan posisi kepala yang disandarkan di atas meja.
"Tumben gak keluar" Bara membuka suara sambil berjalan ke arah gadis itu. Tampaknya suara Bara membuat gadis tersebut sedikit terkejut. Gadis itu menegakkan badannya dan menatap Bara yang sedang berdiri di hadapannya.
"Iya, lagi males" jawab gadis itu singkat.
"Itu kenapa pipinya kok basah?" Bara menunjuk pipi gadis itu yang nampak sedikit basah.
"Oh ini, keringetan". Gadis itu mengelap pipinya yang basah.
"AC-nya mati ya?" Bara melihat AC di atas papan tulis. Dia ingin memastikan AC-nya masih berfungsi dengan baik atau tidak. "AC-nya hidup kok, dingin juga" ucap Bara sambil mengarahkan telapak tangannya ke arah AC untuk memastikan bahwa AC-nya mengeluarkan udara dingin. "Oh apa kurang dingin? Itu kayanya mata kamu juga ikut keringetan " lanjut Bara kemudian sambil memperhatikan sekeliling mata gadis itu yang nampak basah.
"Apaan sih" jawab gadis itu dengan kesal.
"Hehehe bercanda. Loe kenapa Liv? Eh nama loe Livia kan?" tanya Bara.
"Iya, gue Livia. Gue gak kenapa-napa kok" jawab Livia.
"Oh ya ini gue ada jus. Nih buat loe. Siapa tau badmoodnya berkurang" Bara menyodorkan cup gelas berisi jus jambu pada Livia.
"Gak usah Bar, loe minum aja. Gue bawa minum sendiri kok" Livia menyodorkan balik cup gelas tersebut.
"Gak papa Liv ini buat loe. Ambil aja. Gue maksa" Bara menarik tangan kanan Livia dan meletakkan cup gelas tersebut pada telapak tangan Livia.
"Makasih ya" ucap Livia sambil memberikan sebuah senyuman tipis.
"Ya sama-sama. Btw, ternyata loe tau nama gue ya" goda Bara.
"Ya tau lah, kita kan udah 3 bulan les bareng. Masa iya gue gak tau nama temen sekelas gue" jawab Livia.
"Selama ini kita gak pernah ngobrol, jadi gue kira loe gak tau nama gue. Oh ya, buruan diminum jus jambunya. Keburu bel nanti". Bara menunjuk cup gelas di atas meja Livia. Tanpa pikir panjang, Livia langsung meminum jus jambu tersebut.
Satu persatu murid mulai memasuki ruang kelas. Mereka duduk di bangku masing-masing sambil menunggu bel jam kedua. Bara menyadari kedatangan teman-temannya. Dia pun memutuskan untuk kembali ke bangkunya dan meninggalkan Livia yang sedang menyeruput jus jambu pemberiannya.
Sejak saat itu, Bara dan Livia mulai tampak akrab. Mereka sering ngobrol di sela-sela waktu les. Bahkan, mereka sering menghabiskan waktu istirahat bersama di tempat makan sebelah gedung Arunika Academy, tempat mereka berdua bimbingan belajar. Tanpa disadari, kehadiran Bara telah membuat Livia move on dari mantannya yang telah membuatnya menangis kala itu.
BINABASA MO ANG
Second Horizon
Short StoryAlbert Einstein pernah berkata "Dalam kekacauan semesta, selalu ada hukum yang memastikan segalanya bertemu pada titik yang tepat. Begitu pula dua hati yang telah ditakdirkan."
