Bagian 1

19 2 0
                                        

"Meong...meong" Ruangan itu dipenuhi suara berisik kucing mengeong. "Permisi ibu, ada yang bisa saya bantu?" sambut penjaga ramah, mengenakan seragam berwarna biru muda dengan logo berbentuk kucing di dadanya. Ia tersenyum, menunggu respon dari wanita yang baru saja masuk ke shelter.

Wanita itu, sekitar usia enam puluhan, tampak ragu. Matanya memindai ruangan, melihat kandang-kandang kecil yang berisi berbagai jenis kucing, dari yang berbulu lebat hingga yang tubuhnya kurus. Beberapa kucing tampak bermain dengan bola kecil, sementara yang lain tidur nyenyak. Tapi yang paling menarik perhatian adalah seekor kucing kecil berwarna abu-abu yang terus mengeong tanpa henti.

"Saya sedang mencari kucing untuk diadopsi," jawab wanita itu pelan, suaranya hampir tenggelam di antara suara mengeong.

"Oh, tentu. Apakah ibu sudah punya kriteria tertentu? Atau mungkin ingin bertemu beberapa kucing dulu?" tanya penjaga dengan nada lembut. Ia mengambil clipboard dari meja dan mulai mencatat sesuatu.

Wanita itu menggigit bibir, tampak berpikir sejenak. "Saya ingin yang... mungkin sedikit pendiam, tapi penyayang. Saya tinggal sendiri, jadi saya ingin teman yang bisa menemani."

"Sebentar bu, sepertinya wajah ibu tidak asing, kalau tidak salah ibu pernah mengunjungi kami beberapa Minggu lalu" Penjaga itu menyelidik. "Ah, saya baru pertama kali kesini... mungkin kamu salah orang. Semua lansia punya wajah yang mirip dimata orang yang baru bertemu" Jawab ibu itu santai, memaklumi kesalahan penjaga.

"Oh maaf Bu, saya hanya merasa pernah bertemu dengan ibu sebelumnya. Omong-omong kami punya banyak kucing seperti yang ibu inginkan. Bagaimana kalau saya perkenalkan beberapa? Tapi sebelum itu, boleh saya tahu nama ibu?"

"Lila," jawab wanita itu singkat.

"Baik, Bu Lila. Mari ikut saya." Penjaga itu melangkah menuju salah satu kandang di sudut ruangan, di mana seekor kucing berbulu hitam dengan mata kuning cerah sedang duduk diam memperhatikan mereka. "Ini Miko. Dia agak pemalu, tapi kalau sudah dekat dengan seseorang, dia sangat manja."

Namun, perhatian Lila tidak tertuju pada Miko. Ia terus menoleh ke arah kucing kecil abu-abu tadi, yang masih mengeong tanpa henti. "Bagaimana dengan yang itu? Kenapa dia mengeong terus?"

"Oh, itu Kumis," kata penjaga sambil tertawa kecil. "Dia baru saja tiba dua hari lalu. Masih menyesuaikan diri. Lulu memang sedikit cerewet, tapi dia sangat aktif dan ceria."

Lila mendekati kandang Kumis, berjongkok untuk melihat lebih dekat. Kumis menempelkan tubuh kecilnya ke jeruji kandang, mengeong lebih pelan seolah memohon perhatian. Tanpa sadar, tangan Lila terulur, dan Kumis menyambutnya dengan mengusap kepalanya pada jari-jari Lila.

"Aku akan memilih yang ini," gumam Lila dengan senyum kecil.

Penjaga itu mengangguk. "Pilihan yang bijak Bu, sekarang kita urus izin adopsinya"

Sore itu, Lila membawa Kumis pulang ke rumahnya yang kecil namun nyaman. Di dalam perjalanan, Kumis terus diam, tidak lagi mengeong seperti sebelumnya, terus memikirkan apakah Lila adalah majikan yang tepat untuknya. Matanya yang bulat besar mengamati setiap gerakan Lila dengan tajam, seolah sedang menilai wanita tua itu.

Sesampainya di rumah, Lila membuka kandang dan meletakkan Kumis di atas sofa. "Nah, ini rumah barumu," kata Lila sambil tersenyum. "Kau pasti akan suka di sini."

Namun, Kumis tidak segera bergerak. Ia hanya duduk diam dalam kandang, menatap Lila dengan pandangan yang sulit diterjemahkan. Dalam pikirannya, Kumis merasa tidak percaya pada kebaikan Lila. Manusia selalu punya agenda tersembunyi, pikirnya. Mereka selalu berjanji untuk merawat, tapi berapa banyak kucing seperti dirinya yang berakhir di jalanan?

KumisStories to obsess over. Discover now