Serpihan udara malam menghembuskan angin sejuk di sebuah danau. Sinar bulan purnama terpancar indah di permukaan air, menciptakan kilauan seperti permata yang menari-nari. Riak air perlahan membentuk gumpalan dari dasar danau, menjulang ke atas, membentuk wujud manusia. Sinta, Spirit Knight yang telah meregenerasi setelah pertarungan sebelumnya, bangkit dengan kibasan rambut yang terhanyut dari derasnya air.
"Kau akan menjadi bonekaku yang indah," seru sesosok wanita yang mengayun kakinya di dahan pohon besar dekat danau. Jubah putih keemasan yang dikenakannya menambah kesan memukau, ditambah penutup wajah yang menutupi seluruh parasnya.
Bibirnya yang lembut bergerak, melantunkan melodi yang bergema di seluruh danau. Suara itu, meskipun indah, memiliki daya pikat yang merasuki jiwa dan pikiran Sinta. Dia merasakan kebangkitannya disambut dalam alunan yang membuatnya bersenandung dalam pikiran. Namun, keindahan suara itu perlahan merenggut kendali atas tubuhnya. Ia terpaku di tepi danau, matanya rabun, kesadaran semakin hilang, terperangkap dalam pengaruh melodi merdu yang merasuk dalam hati dan pikirannya.
Suasana pagi terpancar, sebuah bola cahaya tertutup awan yang terkumpul dalam satu waktu, beribu-ribu embun menyelimuti seluruh kota. Embun pagi menjalar terbawa tertiup angin halus. Amber dengan langkah terakhirnya memasuki gerbang sekolah yang berderit saat tertutup perlahan oleh penjaga sekolah. Kakinya terayun pelan, memandang embun yang semakin kabur dari pandangan. Mata kirinya tertutup rambut yang terurai lembut , langkahnya perlahan dengan tatapan matanya yang hanya satu, melihat ke arah pintu kelasnya.
Saat memasuki ruang kelas, terlihat dari mata Amber pandangan teman sekelasnya yang bingung. Secara bersamaan, mereka menoleh saat Amber memasuki ruangan, namun mereka tidak menghiraukannya, karena kejadian di rumah sakit waktu itu semua terlibat. Mereka hanya berpikir itu adalah sebuah kecelakaan yang terjadi pada kejadian itu.
Amber terduduk dalam diam, menatap jendela di sebelah kursinya, menatap embun yang semakin tebal. Napasnya berhembus, membuat kaca jendela berembun dari hembusannya.
Suara langkah kaki mendekati Amber. "Hey, Amber. Jangan melamun saja," ejek Lydia sambil menepuk pundak Amber sehingga membuatnya sedikit tersentak.
Amber mengelus dadanya. "Duh, bikin kaget aja kamu," ucapnya sambil napasnya berhembus pelan.
Lydia terkekeh kecil, menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Maaf ya, tidak bermaksud bikin kaget kok," seru Lydia tersenyum manis.
"Oh iya, gimana keadaanmu? Dari kejadian kemarin kan, kamu yang paling parah lukanya," tambah Lydia dengan pandangan matanya ke arah mata kiri Amber yang tertutup rambut nya.
Amber tersenyum manis. "Tenang aja, Lid, aku udah mendingan sekarang," balasnya dengan tangan terlipat di meja.
"Walaupun sekarang hanya bisa melihat dengan satu mata saja," tambah Amber sambil tersenyum lembut.
Tangan Lydia mengelus lembut pundak Amber. "Jadi ikut sedih, Er. Turut prihatin ya atas apa yang terjadi ke kamu, kita semua juga bingung apa yang terjadi kemarin," ujar Lydia dengan raut wajah sedih.
Suasana sedih hilang seketika saat kedatangan Luois. "Udah, jangan mellow terus. Mending kita keluar bentar," ucap Louis sambil berdiri dari kursinya.
Lydia menoleh tajam ke arah Luois. "Kamu enggak dengar suara langkah kaki yang mendekat? Itu pasti Bu Ani. Dia yang ngajar hari ini," ujar Lydia, terlihat serius sambil menempelkan telinganya, sedikit berdenyut seolah mendengar sesuatu yang tidak bisa ditangkap orang lain.
Luois menggaruk kepalanya, kebingungan. "Aku enggak dengar apa-apa, kok. Lagipula, jarak kantor guru dan kelas kita jauh," balasnya sambil menghela napas panjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Soul Of Eternity
Fantasi"The Soul of Eternity" Ketika masa lalu kelam dan takdir saling bertaut, Amber terjebak di tengah pusaran misteri yang mengancam jiwa dan dunianya. Sebuah platform misterius memancing jiwa-jiwa putus asa, meninggalkan jejak darah dan rahasia kelam d...
