Under the Infinite Sky (BasFuaiz)

2.5K 15 10
                                        

Cast :

Bas & Fuaiz!

Di ketinggian pegunungan yang sunyi, malam tahun baru menyelimuti langit dengan bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Di ketinggian pegunungan yang sunyi, malam tahun baru menyelimuti langit dengan bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya. Udara dingin menggigit kulit, namun di dalam tenda kecil yang diterangi lampu temaram, kehangatan cinta sedang dirajut dengan perlahan. Bas Asavapatr dan Fuaiz Thanawat duduk berdekatan, selimut tebal melilit tubuh mereka, sementara secangkir cokelat panas mengepul di tangan masing-masing.

"Kenapa harus gunung? Kita bisa saja merayakannya di kota," Fuaiz membuka suara, suaranya lembut namun terdengar menggoda, seperti selalu ada rasa usil yang terselip dalam setiap ucapannya.

Bas tersenyum tipis, matanya yang tajam menatap Fuaiz sejenak sebelum mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan luar tenda. "Karena di sini, aku bisa menikmati malam tanpa gangguan. Tanpa kebisingan, tanpa orang lain. Hanya aku dan kamu."

Fuaiz mendengus pelan, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. "Klise sekali," gumamnya, meski hatinya berdebar lebih cepat dari biasanya.

Namun Bas tidak membalas. Sebaliknya, dia meraih tangan Fuaiz, menggenggamnya erat. "Aku serius, Fuaiz. Aku ingin malam ini menjadi malam yang kita kenang selamanya."

Hening menyelimuti mereka, hanya suara angin yang berbisik lembut di luar tenda. Fuaiz, yang biasanya pandai menyembunyikan perasaannya, kali ini tidak bisa melawan kehangatan yang perlahan menjalar dari genggaman Bas. Dia mengalihkan pandangannya ke arah luar, mencoba menyembunyikan senyumnya.

"Kalau begitu, tunjukkan pemandangan yang istimewa. Jangan hanya kata-kata manis saja," tantang Fuaiz, mencoba memecah keheningan.

Bas tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti melodi di telinga Fuaiz. "Ayo, aku akan tunjukkan."

Mereka keluar dari tenda, melawan udara dingin yang menusuk. Bas memegang tangan Fuaiz erat-erat, membimbingnya ke tepi jurang kecil yang aman. Di depan mereka terbentang pemandangan lembah yang dipenuhi lampu-lampu kecil dari desa di bawah. Langit malam yang gelap menjadi kanvas sempurna untuk ribuan bintang yang bersinar terang.

Fuaiz tertegun. "Ini... indah sekali," bisiknya, suaranya hampir tenggelam dalam kekaguman.

Bas tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap Fuaiz, seolah pemandangan di depannya tidak ada apa-apanya dibandingkan keindahan wajah orang di sampingnya.

"Kau tahu, Fuaiz," Bas akhirnya berbicara, suaranya rendah namun penuh perasaan. "Aku pernah mendengar orang bilang, di ketinggian seperti ini, kau bisa mendengar hatimu sendiri lebih jelas."

Fuaiz menoleh, tatapannya bertemu dengan mata Bas yang penuh kesungguhan. "Lalu, apa yang hatimu katakan sekarang?" tanyanya pelan.

Bas tersenyum, tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam senyumnya kali ini. Lebih dalam, lebih tulus. "Hatiku bilang... aku mencintaimu. Lebih dari yang bisa aku ungkapkan dengan kata-kata."

Fuaiz terpaku. Jantungnya seperti berhenti sejenak, sebelum akhirnya berdetak lebih kencang. Kata-kata Bas terasa begitu nyata, begitu mendalam, hingga dia tidak bisa berpura-pura tidak terpengaruh.

"Aku..." Fuaiz mencoba berbicara, tetapi kata-katanya tertahan. Dia menggigit bibir bawahnya, berusaha menyusun keberanian untuk menjawab.

Namun Bas tidak menunggu. Dia meraih wajah Fuaiz dengan kedua tangannya, menatapnya dalam-dalam. "Aku tidak butuh jawaban sekarang. Aku hanya ingin kau tahu, aku ada di sini. Dan aku akan selalu ada untukmu."

Fuaiz tidak bisa menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. Dia memejamkan mata, membiarkan Bas menariknya ke dalam pelukan. Di tengah udara yang membeku, tubuh Bas terasa seperti perapian yang membakar dinginnya malam.

"Phi Bas," bisik Fuaiz akhirnya, suaranya bergetar. "Aku takut..."

"Takut apa?" Bas bertanya lembut, tangannya mengusap punggung Fuaiz dengan gerakan menenangkan.

"Takut kalau perasaan ini hanya sementara. Takut kalau... aku tidak bisa membalas cintamu seperti yang kau harapkan."

Bas tersenyum, kali ini lebih hangat. Dia menjauhkan tubuhnya sedikit, cukup untuk menatap mata Fuaiz. "Cinta tidak pernah meminta balasan, Fuaiz. Aku mencintaimu karena aku memilih untuk mencintaimu, bukan karena aku mengharapkan sesuatu darimu."

Fuaiz terdiam, matanya mencari kejujuran di dalam tatapan Bas. Dan dia menemukannya—kejujuran yang begitu tulus hingga dia tidak bisa meragukannya.

"Terima kasih," bisik Fuaiz akhirnya. "Terima kasih karena mencintaiku."

Mereka kembali ke tenda setelah beberapa saat menikmati pemandangan. Di dalam tenda yang kecil, mereka duduk berdampingan, saling berbagi kehangatan di bawah selimut tebal. Bas mengambil gitar kecil yang dia bawa, memetiknya dengan lembut.

"Ini lagu untukmu," katanya sebelum mulai bernyanyi. Suaranya rendah dan penuh emosi, liriknya sederhana namun penuh makna.

Melodi sederhana memenuhi udara malam, lembut dan penuh makna. Fuaiz, yang duduk bersandar pada dinding tenda, memejamkan mata, mendengarkan setiap nada dengan hati yang perlahan melunak.

“Lagu ini...” Bas berhenti sejenak, menatap Fuaiz dengan senyum kecil. “Lagu ini mengingatkanku pada perasaan yang tidak pernah bisa kusampaikan dengan kata-kata.”

Fuaiz membuka matanya, menatap Bas yang kini tampak lebih tulus dari sebelumnya. “Apa kau selalu begini, Phi Bas? Membuat orang lain merasa kecil dengan ketulusanmu?”

Bas tertawa pelan. “Jika aku terlihat seperti itu, aku minta maaf. Tapi aku tidak bisa mengubah cara hatiku berbicara tentangmu.”

Fuaiz mendengarkan dengan saksama, hatinya perlahan meleleh dengan setiap nada dan kata yang keluar dari mulut Bas. Di tengah lagu, tanpa sadar dia menaruh kepalanya di bahu Bas, membiarkan dirinya larut dalam momen yang terasa seperti mimpi.

Malam semakin larut, tetapi bagi mereka, waktu seolah berhenti. Ketika akhirnya hitungan mundur menuju tahun baru dimulai, mereka berdiri di luar tenda, menatap kembang api yang meledak di kejauhan

Mata Bas membulat sejenak, sebelum perlahan melembut. Ia meletakkan gitarnya, mendekati Fuaiz dan menggenggam kedua tangannya.

"Selamat tahun baru, Fuaiz," bisik Bas, suaranya hampir tenggelam dalam dentuman kembang api.

"Selamat tahun baru, Phi Bas," balas Fuaiz, suaranya penuh dengan kehangatan yang baru.

Dan di tengah kegelapan malam yang diterangi cahaya kembang api, mereka saling memandang sebelum akhirnya bibir mereka bertemu dalam ciuman pertama yang manis dan penuh perasaan.

Di puncak gunung yang dingin itu, dua hati yang rapuh menemukan kehangatan satu sama lain, menciptakan kenangan yang akan mereka bawa selamanya.

Malam itu, di bawah langit yang dipenuhi bintang, Bas dan Fuaiz menemukan sesuatu yang lebih hangat daripada api unggun, lebih terang daripada cahaya bulan. Mereka menemukan satu sama lain—dua hati yang perlahan mulai berdetak dalam harmoni.

Happy New Year!! 2025 will be best year for us guys....i hope🙂

ONE SHOOT STORIES (BL STORY)Stories to obsess over. Discover now