Hai ......
Setelah 7years aku akhirnya kembali ke dunia orange ini. Sedih banget karena sekarang wattpad udah gabisa aku baca baca lagi. But aku tiba tiba pengen nulis lagi , jadi mau aku nulis lagi. So jadilah cerita ini. Mungkin cerita ini ga akan serame ceritaku sebelum-belumnya. Tapi aku akan berusaha menyelesaikan cerita ini disini. Karena aku cuma nulis yang aku mau aja.
So lets go, SELAMAAT MEMBACA
----------------------------------------------------------------------------
Di sebuah rumah kecil di Desa.
" Gia , umurmu masih 26 , Abi juga sudah besar, mertuamu juga sudah merestui kan? Ibu rasa kamu juga berhak untuk melanjutkan hidup saat ini" Ucap Bu Sarah.
" Ibu , kita sudah sering membicarakan ini. Abi masih 4 tahun bu belum sebesar yang ibu pikirkan, Abi masih butuh aku" Balas sang anak.
" Bu Ratih kemarin ke rumah dan dia menanyakan apakah kamu sudah punya kekasih, itu menunjukkan jika mertuamu juga ingin kamu bahagia nduk" Ucap Bu Sarah berdialog kembali.
" Bu, Gia emang masih 26th tapi Gia ini janda anak satu memang siapa yang mau?? Lagipula Gia sekarang bahagia kok bu, ada Ibu , ada Abi , ada Mira , ada Mbok Sum" Balas Gia masih berkutat dengan laptop cantiknya di dapur karena melakukan perhitungan laba dan rugi usahanya.
" Husshh, anak Ibu masih cantik , memang apasalahnya janda ?? Ibu juga janda jika kamu mikir gitu Nduk, anak 3 lagi" Balas sang Ibu yang masih sibuk memasak sayur untuk makan siang di Weekend ini.
--------------------------------
Author POV
Begitulah percakapan antara seorang Ibu dan Anaknya yang masih muda tapi sudah memiliki predikat "janda beranak satu" . Bukan hanya dirinya yang mengejar-ngejar anaknya untuk menikah. Bahkan besannya pun turut ikut menginginkan bahwa menantunya yang masih muda dan cantik itu secepatnya menemukan tambatan hatinya yang lain. Beda dari mertua lain , Bu Ratih dan Pak Bayu lah yang justru membawa topik ini pertama kali saat liburan keluarga 1 tahun yang lalu. Mereka sadar bahwa menantu nya yang masih muda itu berjuang mati-matian menerima kepergian sang Anak dan membesarkan cucu kesayangannya Abi sendirian. Dibandingkan menantu yang lain , Gia memang terlihat paling kuat. Menantunya ini tidak sama sekali meminta bantuan financial atau menuntut apapun untuk membesarkan Abi, cucu kesayangannya.
Hal lain yang lebih mendorong keinginan orangtua Gama untuk Gia segera menikah adalah tidak lain sang cucu. Pernah ada suatu kejadian saat menjemput Abi disekolahnya , Bu Ratih dan Pak Bayu melihat Abi sedang memandangi sebuah keluarga lengkap bahkan sang anak digendong oleh ayahnya untuk bermain. Tidak ada kata kata yang diucapkan Abi cucunya, anak kecil itu hanya memandanginya begitu lama meskipun tangannya sibuk dengan permainan yang ia miliki. Sejak itu , mulailah sang mertua menginginkan bahwa Menantu dan cucunya juga memiliki kehidupan yang lengkap, mengingat menantunya yang ini masih berusia 26 tahun saat ini.
-----------------------
Di kediaman Gia
Rumah kecil yang dibelinya bersama almarhum suaminya 5 tahun lalu , masih menampakkan foto pernikahan Gia dan Gama , foto kelahiran Abi , foto maternity Gia kala itu. Tidak ada yang berubah terkait dekorasi di rumah kecil itu. Perubahan yang jelas nampak adalah tidak adanya sosok Gama lagi. Gama Mahardika , suaminya yang meninggal 5tahun lalu karena menyelamatkan Bu Ratih ibunya dari truk yang mengalami kerusakan rem tepat di depan matanya yang masih menggendong Abi kecil yang berumur hampir 1tahun itu.
Keluarga mereka adalah keluarga kecil bahagia yang baru saja menyambut anak pertama dan cucu pertama dari keluarga Mahardika . Namun sayangnya , kebahagian kecil itu direnggut tepat di depan mata Gia . Siapa yang salah ?? Tidak ada. Mungkin takdir memang tidak ingin Keluarga kecil Gia bahagia.
Rumah kecil ini saat ini hanya ditempati oleh Gia , Abi dan Mbok Sum. Mbok Sum jelas tau apa yang terjadi selama 6bulan pernikahan Gia dan Gama, bahkan dengan jelas juga tahu betapa 4tahun jatuh bangun perjuangan Gia , sang istri dari majikan yang sudah ditemaninya.
Mbok Sum , simbok yang sengaja Gama (almarhum suaminya) kenalkan karena tahu bahwa istri cintanya sedang hamil . Jelas tujuannya adalah untuk menemani istrinya , Gia.
" Bu Gia , sarapan dan bekal den Abi sudah siap" ucap Mbok Sum.
"Ya mbok, taruh aja , nanti Gia yang packed" Teriak Gia dari kamar Abi, anaknya.
"Sayangnya Ibu, bangun yuk , sekolah, selamat pagi" Ucap Gia pada sang anak yang sudah mengenyam sekolah TK .
"emmh ... pagi" ucap Abi yang matanya masih terlelap meski semua tubuhnya bergerak mengikuti gapaian sang Ibu.
Bersyukur Abi bukanlah anak yang tidak patuh itulah mengapa Abi dengan tenang mengikuti semua yang disuruh sang Ibu , Gia.
"uhh anak Ibu , tampan sekali, waktunya sarapan" Ucap Gia , sambil menggandeng Abi menuju dapur kecilnya.
Abi langsung mengulurkan tangannya kepada sang Ibu saat mendekati meja makannya , memberikan kode bahwa dia siap untuk duduk sarapan.
Dengan tenang Abi makan sarapannya dengan tangan mungilnya.
"Abi , nanti ibu tidak bisa jemput , tapi nenek Ratih jemput ya. Jadi ?" ucap Gia
"Abi sama Nenek" ucap Abi sambil menjilat jilat tangannya yang penuh selai sambil menganggukkan kepala.
"Terimakasih ya Mbok" ucap Gia sambil menyeka pipi dan mulut Abi yang cemong karena sudah selesai sarapan.
Mereka siap menuju sekolah Abi, dengan mobil kecil Gia hadiah dari almarhum suaminya ,Brio warna merah. Akhirnya sampai ke sekolah Abi.
"Dada sayang , baik baik disekolah , cium ibu" ucap Gia , sambil menggandeng Abi menuju gerbang yang sudah berdiri guru Abi disana untuk menyambut murid muridnya.
"Pagi Bu Gia, pagi Abi, pamit sama Ibu" ucap salah satu Guru disana dan kemudian Abi mulai menghilang dari pandangannya.
"Bu Lusi nanti saya tidak bisa jemput , Neneknya yang akan jemput Abi jadi tolong titip ya bu" ucap Gia pada guru yang ia kenal bernama Lusi saat ada sesi konseling orangtua anak.
"Baik , Nenek sarah ya ?" Tanya Bu Lusi
"Bukan , Nenek Ratih, sekalian mau di ajak pergi katanya" Jawab Gia sambil melangkah kembali ke mobilnya dan berangkat kerja.
------------
Gi's Bakery
Toko Roti kecil yang Gia miliki dan menjadi penghasilan untuk keluarga kecilnya. Masih ingat perdebatan nya dengan almarhum suaminya, Gama. Suaminya ingin Gia dirumah , sedangkan Gia diam-diam meskipun dirumah justru membuka usaha kecil kecilan dengan sistem PO untuk bakat kecilnya yaitu Baking. Kemudian lama -lama Gama tau dan justru menyewakan ruko kecil yang sekarang di tempati sebagai toko bakery miliknya.
Orang bilang , menikahlah dengan orang yang tepat. Gama adalah orang yang tepat itu. Begitulah pikir Gia kala itu , Gama mendukung mimpi Gia membangun toko Bakery meskipun awalnya melarang. Tapi jika dipikir-pikir kembali, jika tidak ada toko ini, apa dia mampu menghidupi dirinya setelah ditinggal sang suami ??
Lagi -lagi bayangan tentang sang suami membuyarkan fokusnya.
"Mbak , tadi ada Ibu-ibu dia bilang mau pesen croissant sama brownie cheese nya sekitar 100 mbak , katanya buat acara kantor gitu. Cuma ya gitu mbak , sekalian packing kaya snack gitu mbak. Novi gak berani mbak ngeIYA-in , kita kan belum pernah buat seperti acara snack gitu. Biasanya ya hanya roti roti atau cake nya aja yang kita kirim" ucap Novi panjang lebar .
"100 pcs ya Nov? " tanya Gia
"Iya mbak, 100 croissant , 100 brownie cheese, ini kartu namanya, Ibunya bilang bisa hubungi ke nomor ini, buat offeringnya" ucap Novi
"Ini ibu langganan kita sebenernya Mbak sering beli kesini" Novi berucap
"Kok kamu tau Nov?" tanya Gia kembali
"Soalnya pesenannya selalu sama Mbak, terus mobilnya itu-itu terus, punya membership kita juga mbak. Jadi tadi Novi bingung , takut hilang nanti langganan kita tapi kalo Novi bilang iya, kan kita gapunya kardus snack gitu Mbak, belum pernah juga bikin model snack gitu" jelas novi.
Novi adalah orang kepercayaanku, dia anak mbok Sumi , dia juga lulusan tata boga keahliannya di roti , jadi ya beginilah kedekatan kami dalam dunia kerja.
"Makasih ya Nov, coba nanti aku telpon pakai telpon kantor" ucap Gia sambil masuk ke ruangan kerjanya sambil membawa dan membaca kartu nama yang diberikan Novi.
"Ny. Inge (owner Adhiyaksa Batik) No telp : 08127657xxx" ucap Gia sambil mengetikkan nomor di Hp kerjanya dan duduk di kursi dimana ia bekerja saat tidak didapur bakery nya.
--------------
Jadi gimana ceritanya ?
Semoga suka.
YOU ARE READING
May am I ???
General FictionAuthor POV Di sebuah rumah kecil di Desa. " Gia , umurmu masih 26 , Abi juga sudah besar, mertuamu juga sudah merestui kan? Ibu rasa kamu juga berhak untuk melanjutkan hidup saat ini" Ucap Bu Sarah. " Ibu , kita sudah sering membicarakan ini. Abi ma...
