Hai! Aku buat cerita baru nih. Kalau rame aku lanjut. Komentar + vote kalau mau aku lanjut series ini hehehe
Selamat menikmati kalian anak-anak nakal!
*
Siapapun, tolong aku.
Aku terengah, berusaha keras tak mengutarakan apa yang tubuhku rasakan dengan suara yang menghianati moralku-sebuah desahan. Namun desahan penghianat itu tetap terdengar saat lidah lembut dan panas menyentuh puncak payudaraku, digigit lembut, mengaktifkan ribuan ujung syaraf yang bekerja sama membuat tubuhku menerima tiap hentakan kasar, dalam, dan panas dari pinggul Cessare dengan senang hati.
Ada senyum mencemooh tersungging dari wajahnya saat aku mendesah. Ia melepas dadaku dan mendongak, hanya untuk menyeringai dan berbicara dengan nada mencemooh saat pinggulnya menghentak lebih dalam dan membuatku terisak nikmat. Wajah yang tak bisa disebut buruk rupa ataupun tampan dengan struktur yang sangat lelaki itu sialnya sangat seleraku, membuat moralitasku teruji untuk yang kesekian kalinya hari ini. Tapi aku ingin meludahinya, memberikan luka pada wajahnya yang sudah dipenuhi bekas luka.
"Enak, kan?" suara yang dalam dan pelafalan bahasa Indonesia yang disertai aksen bahasa inggris membuat dadaku menggelenyar, mungkin karena terharu pada usahanya berbicara bahasa yang paling kupahami atau karena harga diriku baru saja dilucuti dengan suaraku sendiri. Namun tatapan itu nampak menanti pengakuan dariku, berharap aku menerima kasih sayangnya dengan dua tangan terbuka.
Aku tak bisa melakukannya, bagaimanapun juga, tak peduli selembut apa Ia memperlakukanku, Ia tetaplah kriminal kelas kakap yang akan selalu aku benci sepenuh hati. Entah disini saat merantau jauh dari tanah air atau kelak saat memiliki kesempatan untuk bisa kembali.
"Stop, Cessare, please..."
Aku mulai meneteskan air mata karena merasa terhina dan terbuai sentuhan laknatnya yang terasa nikmat, jadi aku memejamkan mata, mencengkram rantai yang menjuntai dengan erat. Aku menolak berbicara padanya dengan bahasa yang paling jiwaku kenali. Aku tahu Ia menggunakan bahasa ibuku dan bahasa kedua yang Ia kuasai agar bisa lebih dekat denganku, agar aku menerimanya dengan lapang dada.
"Stop?" Cessare tertawa mencemooh, ada kekecewaan disana, Ia terengah, melesakkan kejantanannya lebih dalam dengan kasar, membuat lenguhan sensual kembali pita suaraku ciptakan.
"Ah..." kepalaku mendongak, hentakan pinggul Cessare begitu berbahaya, menyentuh titik-titik sensitif yang tak pernah aku ketahui ada sebelumnya, membuatku memproduksi suara dan air mata yang membuat harga diriku semakin terkoyak karena tubuhku menikmati sentuhannya.
"Kamu ngerasa enak tapi minta aku buat berhenti?" ucap Cessare, terengah dan tertawa disaat yang bersamaan, meremas dadaku dengan erangan karena aku kembali melenguh nikmat.
"I...ya...hah..." rengekku, kali ini aku yang menggunakan bahasa jiwaku sendiri, mulai merasa jiwaku terluka karena tubuhku yang buta diberikan kenikmatan berbahaya dengan paksa, perlahan mengikis penolakan yang ingin kupertahankan.
Cessare tertawa mencemooh, jemarinya tiba-tiba saja berpindah ke titik nikmat lainnya diantara persatuan tubuh kami, membuat pikiranku yang mulai melemah menyerah dan membiarkan pita suaraku kembali mengeluarkan suara kenikmatan lagi.
"Fuck," Cessare tertawa puas, "Stop lying, your body like me... I can feel you're close, hah..."
Aku terisak, mencengkram rantai lebih erat. Jika aku tak terantai aku pasti sudah memukulnya sekeras yang aku bisa meski aku tahu itu sia-sia dan hanya akan membuatnya menyetubuhiku semakin kasar.
Tanpa terantai pun aku tak akan bisa melawannya. Ia jauh lebih tinggi, berat, dan kuat dariku; bahkan jika aku masih memiliki beratku yang dulu kekuatanku tak akan bisa menandingi kekuatannya.
Pikiranku terhenti karena aku bisa merasakan denyutan dan ketegangan yang familiar di perutku.
Tidak... tidak...
Terlambat, aku sudah melenguh dan meluncurkan rengekan dan desahan saat otot-otot kenikmatan itu mencengkram Cessare erat, berdenyut tanpa rasa ragu apalagi malu. Cessare menggeram nikmat, tertawa disela erangan sensualnya, masih menggerakkan pinggulnya tanpa rasa iba.
"Enak, kan, sayang?" ucapnya, mencemooh.
