Part 1

6 0 0
                                        

Galen mengelus lembut bingkai foto milik Neneknya yang baru saja menutup usia. Tepat kemarin, ketika Galen masih ada di dalam pesawat menuju Indonesia. Ia bahkan belum sempat berbicara dengan Neneknya secara langsung. Kalimat terakhir yang ia dengar dari Neneknya adalah "Sampai bertemu di rumah." Nyatanya mereka memang bertemu di ruamah, tapi dalam keadaan yang tidak pernah Galen harapkan.

Langit pagi itu mendung. Angin kencang menggerakan awan, menutupi matahari. Alam yang suram terasa memeluk Galen yang kini hanya tinggal sendiri. Tidak ada setetespun air mata yang jatuh ke pipi Galen. Wajahnya terlalu tenang untuk orang yang sedang beeduka. Tangisan orang-orang disekitarnya bahkan tidak mampu membuatnya ikut bersedih. Ia hanya diam, menatap foto Neneknya yang tersenyum manis.

"Seluruh harta jatuh ke tangannya, tapi tidak seorangpun ada di sampingnya. Kasihan." Ucapan salah satu klien Neneknya membuat Galen semakin tersadar bahwa ia tidak lagi memiliki siapapun di sisinya. Kalau Galen bisa meminta, ia juga tidak ingin ditinggal oleh seluruh keluarganya. Kabur ke London ternyata tidak bisa menghilangkan rasa sedihnya. Ia justru menyesal karena tidak menghabiskan lebih banyak waktu dengan Neneknya.

Galen mengucapkan terima kasih pada semua orang yang datang ke pemakan Neneknya. Ketika semua pelayat sudah pulang, ia mendekati kuburan Neneknya. Dielusnya batu tulisan Neneknya dengan sayang. Ditepuknya gundukkan tanah itu berkali-kali dengan pelan seperti menepuk bokong bayi yang sedang tertidur. "Istirahat dengan tenang ya." Ucap Galen sebelum akhirnya pergi meninggalkan kuburan.

Rasanya sangat hampa, tapi setengah dirinya masih menolak kenyataan bahwa Neneknya sudah tiada. Galen masih baik-baik saja karena mengira bahwa dirinya akn baik-baik saja. Ia hanya menganggap Neneknya pergi ke tempat jauh yang masih dapat ia kunjungi.

Dengan wajah santai Galen mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu dan memberikan uang itu pada supirnya yang menunggu di sebelah mobil sejak tadi. Tanpa harus bertanya, supir Galen mengambil uang itu dan membukakan pintu kemudi untuk Galen. Ia sudah paham apa yang harus dilakukannya tanpa harus dijelaskan, bahwa ia harus pulang sendiri dengan transportasi umum. 

Galen merasa sudah biasa menghadapi situasi kehilangan orang tercinta, namun ia sadar bahwa kehilangan Neneknya kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya. Neneknya adalah orang terakhir yang ia anggap sebagai keluarga, jadi rasanya sedikit lebih menyakitkan dari sebelumnya.

Galer mengendarai mobilnya dengan pelan. Jarak dari pemakaman keluarganya ke rumah memang tidak terlalu jauh, jadi ia mencoba mengulur waktu. Ia hanya ingin menikmati waktunya sendiri di dalam mobil, sambil mendengarkan lagu kesukaan Neneknya. Setelah tiga puluh menit berkendara, ia berhenti di depan pagar rumah Neneknya. Menatap rumah besar itu dengan sorot mata yang kosong. Ia sedang berusaha menerima bahwa dirinya akan menempati rumah besar dengan sepuluh kamar itu sendirian.

Dari kejauhan, seorang tukang kebun berlari dengan wajah panik. Ia meminta maaf berkali-kali pada Galer karena tidak menyadari bahwa mobil Galer sudah ada di luar gerbang sejak lama. Padahal memang Galer sengaja berdiam di depan gerbang untuk melihat rumah Neneknya dari jauh. Otaknya terus memutar kenangan-kenangan bersama Neneknya di setiap sudut rumah.

Ketika mobilnya masuk ke dalam perkarangan rumah, tiba-tiba saja seorang wanita muda berumur akhir dua puluhan berlari dari arah taman belakang depan pintu rumah dan terjatuh di tangga karena tersandung kakinya sendiri. Wanita itu adalah Sara, sekretaris Galer yang ditunjuk oleh Neneknya lima tahun yang lalu. Entah Neneknya punya ide dari mana untuk menunjuk Sara yang waktu itu baru berumur dua puluh empat tahun, tanpa pengalaman, dan sangat manja. Seiring berjalannya waktu memang pekerjaan Sara dapat memuaskan Galer, tapi dua tahun tahun pertama adalah masa-masa yang sulit untuk Sara.

Dan juga Galer, tentu saja.

Galer menekan klakson mobilnya untuk menghentikan Sara yang akan membuka pintu rumah. Jika sudah berlarian ke sana ke mari, sudah pasti Sara membawa informasi penting yang ditujukan untuk Galer. Sara berbalik dan melihat mobil Galer sambil menunjuk Galer dengan semangat. Bukannya menunggu Galer di lobi rumah, Sara justru berlari menghampiri mobil Galer. Galer tidak mengehentikan mobilnya, ia tetap mengendarai mobilnya dengan pelan saat melihat Sara mulai mendekatinya. Semakin dekat Sara dengan mobil, semakin terlihat jelas terlihat bahwa ekspresinya sangat panik.

RING OF THE FAITHCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang