p r o l o g

15 3 0
                                        

Cerita ini dimulai dari bagian sini. Bagian paling tidak masuk diakal karna siapapun tidak tau bagaimana bisa sebuah telepon, menjadi jembatan untuk mengobrol dengan seseorang di masa lampau.


Senada dengan rinai hujan diluar yang jatuh dengan deras, wujudnya memiliki kesamaan dengan jarum namun yang ini raksasa. Dihar merasakan berdarah-darah dibawahnya.

Kalau ditanya apa yang lebih menyakitkan dari perumpamaan diatas, adalah saat mengetahui dengan sadar bahwa ini sudah menapaki hari ke-100 Ibu-nya tak lagi di dunia. Tak lagi menangisinya yang selalu pulang teler, tak lagi merintih saat dia sedang sakau atau yang membuatnya rindu adalah pelukan Ibu yang diam-diam memeluk dan menciumnya ketika tertidur.

Tepat pada hari ke-100 dia baru menyadari bahwa kini, dia ditinggal sendirian. Rasanya jauh lebih gelisah daripada dulu yang pernah dia rasakan sewaktu kecil, tersesat di pusat perbelanjaan.

Dihar hanya punya Ibu.

Seseorang yang tidak pernah menuntutnya menjadi apapun. Tidak pernah menyesali kelahirannya dan tidak pernah berhenti berdo'a untuknya.

Seperti hari ini, didepan pintu rumah tua yang sebelumnya terdapat kehangatan Ibu disetiap sudutnya, kini lebih menyeramkan daripada hutan yang meliar di belakang rumah. Rumah yang katanya sejuta kenangan milik Ibu, milik Kakaknya- yang sudah berpulang waktu berumur balita dan kenangan bagaimana Ibu jatuh cinta.

Dihar merindukan Ibu-nya. Sangat.

Bibirnya memang tidak berkata pada siapapun tentang kerinduan yang merasukinya begitu dasyat. Kakinya yang membawanya berlari, menginjak pedal gas kesini daripada menuju kelab.

Disini ada sisa Ibu, yang ingin Dihar pungut satu per satu. Jika Ibu tidak bisa ia dekap lagi, bagaimana jika bayangannya saja yang menemani? merengkuhnya dan akan berusaha memudarkan rindunya.

Barang-barang yang ada dirumah ini tidak ada satupun yang bergeser satu inci. Wangi deterjen yang biasa melekat pada pakaian Ibu masih tersisa dibawa angin, menyeruak masuk meninju dari belakang bahu Dihar yang rapuh. Kamar Ibu akan selalu dingin begini. Ujung plafonnya akan selalu terdapat jejak air yang membuatnya perlahan lapuk. Dihar menyesal karna membiarkan itu untuk waktu yang lama.

Laki-laki itu menyeret langkahnya hingga dia berhenti pada kasur Ibu yang sudah membeku. Perlahan melemaskan bobot tubuhnya disana dan mulai menangis lebih keras. Lebih tersuara.

Disaat kesunyian sejak tadi akrab tak ingin beranjak, suara dering asing menyergap jadi satu-satunya hal yang terasa sedang menertawainya. Mengolok-ngoloknya karna sudah menangis keras seperti anak kecil. Dering itu masih berlanjut hingga bermenit-menit kemudian dering itu berhenti dan membuat suara tangis laki-laki disana juga ikut mereda.

Hujan diluar masih membadai. Dihar, laki-laki itu, kemudian memutuskan menghidupkan lampu dan membiarkan sinar itu menyirami seisi ruang kamar.

Kamar Ibu yang tidak pernah sama sekali Dihar kunjungi, sampai barang-barangnya terlihat sangat asing. Saat ia sibuk mengamati dengan mata sayu bawaannya, dering itu kembali berbunyi nyaring lantas membuat laki-laki itu menoleh cepat mencari-cari. Hingga akhirnya asal dering itu ditemukan. Dibawah dipan yang dia duduki sedari tadi.

Dihar hanya bisa terheran dengan telepon yang berdering itu. Telepon rumah berwarna kuning dengan kabelnya yang dia yakin sudah sejak lama tak berfungsi dan tidak pernah digunakan lagi dalam jangka waktu yang lama. Dering-dering itu sesegera mungkin dia anggap hanya halusinasi. Tetapi hari ini dia belum meneguk hal haram apapun. Keadaannya sadar atau jangan-jangan dia memang sudah gila akibat merindukan Ibu.

Bisa jadi.

Tetapi dering ketiga akhirnya menyusul dan membuatnya melotot tak percaya. Dengan ragu, tangannya menarik telepon itu hingga berada dipangkuannya yang basah. Mengangkat gagang telepon dan menempelkan benda itu seperti seharusnya. Hal selanjutnya berhasil membuat jantungnya berdegup tak karuan. Telepon itu mengeluarkan suara dari seberang, suara seseorang. Laki-laki.

"Ra? kamu sedang tidak belajar kan?"

Suara itu lebih menakutkan dari apapun. Lebih menakutkan dari hari kematian Ibunya. Lebih menakutkan dari mengetahui fakta bahwa dia tidak pernah merasakan bagaimana memiliki keluarga yang utuh.

Dihar menghempas gagang telepon itu, tetapi yang dia dengar dari sana masih saja suara seseorang berbicara.
Dihar merinding setengah mati. Dia bahkan sampai menampar pipinya sendiri berkali-kali. Saat dia kembali pada kenyataan dan percaya bahwa dirinya hari ini berhasil mempertahankan kesadaran sepenuhnya, gagang telepon itu kembali ia tempelkan pada telinga dan yang dia dapatkan selanjutnya kembali suara seorang laki-laki.

"Ra, kamu angkat tapi diam saja?"

"Ra? Serayu?"

"Lo siapa!" Akhirnya Dihar yang frustasi memilih bersuara, membuat seseorang diseberang telepon terdiam seketika.

Dihar mengumpat kecil dan berfikir dia benar-benar sudah gila dan memutuskan untuk segera mengakhiri kekonyolan ini, tapi suara itu kembali membuatnya penasaran.
Untuk kali ini saja dia meminta kepada Tuhan untuk berhenti membuat hatinya gelisah.

"Lu siapa?" Tanya laki-laki diseberang telepon merespon pertanyaan Dihar sebelumnya.

"Gue anaknya Serayu! jadi lo stop buat telepon-telepon konyol ini! GUE MUAK!" Suara diseberang tidak lagi muncul sampai akhirnya Dihar benar-benar menghempaskan gagang telepon itu kembali ke badannya.

Dia mengacak-acak rambutnya dan sesekali menarik helai-helai hitam itu hingga tanpa sadar membuatnya tercerabut sedikit dengan mengenaskan. Dihar beranjak dari sana, memilih abai. Dia ingin beristirahat disini sejenak. Membiarkan dirinya dikukung kenangan yang dengan mudah dia lihat saat memandang kosong pada setiap sudut rumah ini. Tapi dering sialan itu kembali membuatnya mengerang frustasi.

Wah gue udah gak waras. pikirnya, sampai akhirnya dia kembali ingin meneriaki hantu yang sejak tadi menjahilinya lewat telepon usang yang mungkin Ibunya simpan diam-diam dibawah dipan. Sebelum Dihar kembali berteriak keras dan memaki, suara itu mampu membuatnya terdiam untuk waktu yang lama.

Sebelum Dihar bersuara, hantu di telepon itu sudah menyerobot lebih dulu.

"Apakah nama Ayahmu adalah Darindra Aksa? jika benar, ini aku. Ayahmu."

Membuat Dihar kembali mengumpat, kali ini bersamaan dia membanting telepon itu diatas kasur. Telepon gila itu.. mampu membuatnya hilang akal. Laki-laki itu penyebabnya.

- jejak -

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 03 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Jejak [SHORT STORY]Stories to obsess over. Discover now