Prolog

6 0 0
                                        

Sedari dulu aku ingin sekali memelihara anak anjing, bagiku mereka sangat menggemaskan. Bulunya yang halus, tatapan mereka yang mengiba, ketika mereka menggonggong. Tidak hanya itu saja! Aku ingin anak anjing yang dapat berbicara, yang dapat ku ajak berkomunikasi. Sungguh gila, pasti kalian akan menganggapku begitu, iya kan? Haha aku tau aku memang sedikit gila, dunia ini bukan seperti film Doraemon sang robot kucing yang dapat berbicara, dapat memenuhi berbagai permintaan sang tuan layaknya jin pengabul permintaan dengan kantong ajaibnya, mengeluarkan pintu ke mana saja yang dapat tembus ke berbagai sudut bumi lainnya bahkan ke tempat yang tidak terduga sekalipun!

Besar bersama film Doraemon membuatku berangan-angan yang tidak realistis, ketika semua orang ku ceritakan tentang angan-anganku terhadap dunia pasti respon mereka hanya tertawa dan berkata "Itu sangat konyol! Kamu kebanyakan nonton kartun."

Tapi... Semua pemikiranku tentang dunia dan anak anjing itu berubah, aku sudah tidak menginginkan anak anjing yang dapat berbicara. Duniapun sudah berubah, ketika dunia sudah diambil alih oleh anjing. Ya, kalian tidak salah baca, dunia sudah dipimpin oleh para anjing-anjing diktator!

Sepertinya aku salah memasuki goa ketika aku sedang mendaki seorang diri di gunung belakang rumah kakekku, sebenarnya kakek dan nenekku sudah mewanti-wantiku agar tidak sembarangan memasuki goa yang berada di gunung itu. Tapi aku yang terlalu bersemangat hingga lupa nasihat mereka, mereka hanya mengatakan bahwa di gunung itu terdapat dua goa saja, nyatanya aku berhasil menemukan satu goa lainnya.

Goa pertama dan kedua seperti goa-goa pada umumnya, gelap dan lembab hingga kelelawar sangat suka bersarang di tempat seperti ini. Dan yang terakhir aku mencoba menjelajahi goa ketiga, goa yang berhasil aku temui. Memang letaknya sangat jauh dari goa pertama dan kedua, dan jalan menuju ke goa ini masih dipenuhi semak belukar dan belum ada jalan pembuka, bahkan pintu goa ini juga ditutupi oleh semak belukar. Aku berasumsi bahwa hal ini lah yang menyebabkan para penduduk tidak mengetahui bahwa ada goa lainnya di gunung ini.

Aku coba menjelajahi lebih jauh goa ini, goa ini sangat panjang seperti tidak berujung! Beberapa kali aku mengistirahatkan tubuhku yang sudah mulai letih, namun aku masih terus menyusuri goa ini. Hingga di ujung sana aku melihat cahaya matahari yang masuk menyinari goa ini, gotcha! Akhirnya aku menemukan ujung goa ini pikirku, langkahku semakin semangat mendekati ujung goa. Ah! Akhirnya aku keluar dari goa ini, perasaan lega menghampiriku.

Dari atas sini aku bisa melihat pemukiman-pemukiman warga, hari sudah senja tandanya aku harus kembali ke rumah kakek untuk bersiap makan malam. Huh, aku sudah tidak sabar ingin menyantap ayam bakar buatan nenek, ditambah aku baru saja hiking jadi tenagaku sangat terkuras hehe.

Saat aku menuruni gunung ini aku merasa ada yang aneh, mengapa bangunan-bangunan yang aku lihat tidak seperti rumah-rumah warga yang ada di desa tempat tinggal kakek? Apakah aku salah desa? Ah, aku pikir aku keluar di desa sebelah, aku harus segera bertanya ke warga sekitar jalan pulang ke desa kakek!

Aku mencoba menghampiri seseorang yang sedang menyapu halaman rumahnya, aku bertanya dengan sopan kepada orang tersebut "permisi." Ucapku, dia menegok dan membalas sapaanku "iya, ada yang bisa saya bantu?" Jawabnya dengan ramah, tanpa basa-basi aku langsung menanyakan jalan menuju desa kakek. Tapi orang tersebut hanya mengernyit kebingungan dan berkata bahwa tidak ada desa itu di daerah sini, jawabannya membuat aku bingung tapi aku berusaha berpositif thinking mungkin saja dia orang baru di sini jadi tidak mengetahui tentang daerah sini.

Kebingunganku semakin bertambah ketika ada seekor anjing yang membuka pintu dan berjalan ke arahnya, dari perawakannya anjing ini sudah dewasa karena tubuhnya berotot serta fisiknya terlihat kuat dan ramping. Tapi aku dibuat sangat tercengang dengan anjing ini, dia berbicara! Iya, dia berbicara! Mulutku menganga ketika dia berbicara dengan wanita ini. Dia bertanya kepada wanita ini siapa aku, keterkejutanku tidak hanya sampai sini! Yang lebih gilanya dari desa ini, ah bukan maksudku kota ini, merupakan kota yang 60% populasinya adalah anjing yang dapat berbicara dan 40% lainnya adalah manusia, mereka hidup berdampingan. Informasi ini aku dapat dari anjing tersebut, ah aku pasti berhalusinasi karena terlalu lelah hiking.

Ini pasti tidak benar kan, tapi kenyataannya... semua ini benar adanya, aku tidak sengaja masuk ke dunia lain dengan portal goa yang tidak sengaja aku temukan di gunung. Sungguh gila! Aku masih belum mempercayai semua ini.

Aku terjebak di dunia anjing yang mereka sebut Canine Utopia.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 22, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Canine UtopiaStories to obsess over. Discover now