Hujan deras mengguyur sebuah desa yang nampak sudah nyaris tak berpenghuni. Seluruh penduduk desa itu telah berhasil diungsikan ke tempat yang jauh lebih aman karena tiba-tiba mendapat serangan dari iblis. Semua penduduk desa yang jumlahnya tak banyak itu berhasil diamankan di waktu yang tepat.
"Kalian akan aman disini. Jangan kamana-mana selagi matahari belum terbit. Jangan keluar dari bangunan ini apapun alasannya jika kalian masih ingin hidup."
Tomioka Giyuu, dengan badan setengah basah beranjak setelah selesai berpesan pada seorang gadis muda yang baru saja dia bawa untuk mengungsi di sebuah kuil tua yang jauh dari desa tempat gadis itu berasal. Di dalam kuil tua yang luas itu, nampak beberapa orang yang sedang ketakutan, mungkin nyaris semuanya. Mereka duduk saling berdekatan. Nyaris tak ada sekat diantara mereka. Dinginnya cuaca malam hari ini tak mereka hiraukan karena mereka semua diselimuti ketakutan yang luar biasa.
Desa mereka baru saja diserang segerombolan iblis. Meski bukan tergolong iblis bulan atas, namun jumlah mereka sangat banyak. Iblis itu seakan membelah diri dengan mudahnya. Dan mereka yang ada di dalam bangunan kuil tua itu adalah para penduduk desa yang berhasil diselamatkan tepat pada waktunya.
"Ingat pesanku." Ucap Giyuu lagi pada gadis muda yang nyaris menangis di depannya itu setelah dia menyalakan banyak dupa bunga wisteria ungu di sekeliling bangunan kuil tua itu. Meski sudah dibawa pergi jauh untuk mengungsi, namun bukan jaminan bahwa mereka akan aman dari ancaman iblis. Maka dari itu, Giyuu menyalakan dupa bunga wisteria ungu dalam jumlah yang banyak agar bangunan itu terlindungi dari ancaman iblis lainnya. Sehingga mereka semua aman di dalam bangunan itu hingga fajar tiba.
"T-tunggu! Apa kau akan kembali kesana? Bukankah akan lebih aman jika bersama kami disini, Tuan? Lagi pula, hujan semakin deras." Gadis terakhir yang diselamatkannya itu mencoba menahan Giyuu yang hendak melangkah pergi meninggalkan mereka semua setelah dipastikan aman.
"Tugas pemburu iblis adalah menghabisi setiap iblis yang kami temui. Jadi, aku tidak punya alasan lain untuk berteduh disini."
"Setidaknya hanya sampai hujan ini sedikit mereda, Tuan. Kau sudah menyelamatkan kami, kami ingin orang yang menyelamatkan kami juga merasa aman." Ucap seorang pria tua yang ada di bagian belakang gadis itu.
"Terima kasih, namun aku harus segera pergi. Lagi pula, aku tidak bisa membiarkannya bertarung disana sendirian. Aku permisi."
"Tapi, Tuan-!!"
Giyuu lamgsung membungkuk hormat dan seketika menghentikan kalimat dari pria tua yang hendak kembali menahannya, Giyuu lalu menutup pintu bangunan kuil tua tersebut. Tak lupa, dia kembali menyalakan dupa bunga wisteria ungu di depan pintu utama yang barusan dia tutup rapat-rapat.
Selesai. Dupa terakhir sudah dinyalakan. Tak lupa, Giyuu juga mendoakan keselamatan para penduduk yang tersisa itu di dalam hatinya.
Setelah selesai berdoa sejenak, Giyuu berbalik badan, dia menatap gelapnya langit malam yang kini menurunkan hujan yang memang cukup deras. Kedua iris mata Giyuu masih menatap lurus pada sang langit, mengajak sang langit malam beradu ketenangan dengan warna bola matanya. Ketika Giyuu sedikit tenggelam dalam tatapannya pada langit malam, Giyuu teringat seseorang yang kini sedang berjuang di desa yang dihuni penduduk yang kini sudah berhasil dia selamatkan.
'Sanemi-san.'
Batinnnya memanggil nama seseorang itu. Seorang Hashira sama seperti dirinya. Shinazugawa Sanemi, Hashira Angin yang tak pernah akur dengannya. Pria tempramen yang nampak selalu kesal padanya.
Tanpa banyak membuang waktu lagi, Giyuu berlari secepat mungkin menerjang hujan yang nyaris seperti badai itu. Langkahnya sangat kokoh dan cepat menuju ke desa dimana Sanemi sedang bertempur sendirian disana dengan segerombolan iblis yang nyaris tak ada habisnya.
Semua ini berawal dari suatu kebetulan yang luar biasa dimana malam ini, Oyakata-sama meminta Giyuu dan Sanemi untuk bertugas bersama. Tentu kedua Hashira yang tidak akur ini tidak bisa menolak perintah dari Oyakata-sama. Meski dengan perasaan berat hati, Sanemi dan Giyuu tetap melaksanakan tugas dan perintah Oyakata-sama dengan sebaik mungkin. Profesional dan tanggung jawab mereka sebagai Hashira benar-benar diatas segalanya. Bahkan ketika harus berjuang bersama orang yang setiap harinya tak bisa akurpun, mereka akan tetap melakukannya karena itu semua adalah perintah dan tugas sebagai Hashira.
YOU ARE READING
ONE NIGHT WAVE
FanfictionSanemi dan Giyuu mau tidak mau harus menepi, namun sayangnya keputusan mereka untuk menepi justru membawa mereka berdua dalam keadaan yang tak terduga.
