Seo Yuna berdiri di ruang tamu megah keluarganya, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Matanya yang biasanya tenang kini dipenuhi amarah. Di hadapannya, Seo Jonghyun, ayahnya, duduk dengan tatapan dingin seperti biasa.
“Kau tidak berhak mengatur hidupku seperti ini, Ayah!” suara Yuna meninggi, menggema di ruangan yang terlalu besar untuk hanya mereka berdua. “Aku bukan boneka yang bisa Ayah mainkan sesuka hatimu.”
“Kau memang bukan boneka,” Jonghyun menjawab santai, suaranya begitu stabil hingga membuat Yuna semakin geram. “Tapi kau juga bukan anak kecil lagi. Kau harus belajar menerima tanggung jawab, termasuk pernikahan yang sudah aku atur.”
Yuna tertawa kecil, getir. “Pernikahan? Dengan pria yang bahkan tidak aku kenal? Itu yang Ayah sebut tanggung jawab?”
“Ini bukan untuk dirimu saja, Yuna. Ini untuk masa depan keluarga kita.”
Kata-kata itu seperti pukulan. Masa depan keluarga. Kata-kata yang selalu diulang, seolah kebahagiaannya tidak pernah menjadi bagian dari masa depan itu.
“Kalau begitu, lupakan saja aku sebagai bagian dari keluarga ini!” Yuna berbalik, meraih tas kecil yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
“Yuna, jangan bertindak bodoh!” seru Jonghyun, kali ini suaranya mulai terdengar tegas. Tapi Yuna tidak berhenti. Ia membuka pintu rumah dengan keras, meninggalkan segala kemewahan di belakangnya.
---
Di luar, udara malam menusuk kulitnya, tetapi Yuna tidak peduli. Ia terus berjalan, tanpa arah, hanya ingin menjauh sejauh mungkin.
Beberapa jam kemudian, ia duduk di bangku taman kecil, matanya kosong menatap trotoar. Ia merogoh ponselnya, tetapi tidak ada nama yang bisa ia hubungi. Teman-temannya? Mereka semua sibuk dengan hidup mereka sendiri.
Saat ia sedang tenggelam dalam pikirannya, sebuah suara menghentikan lamunannya.
“Maaf, permisi, boleh duduk?”
Yuna mendongak. Seorang pria berdiri di hadapannya, mengenakan jaket hitam dan membawa kotak besar di tangannya. Ia terlihat lelah, tapi matanya tajam, seperti seseorang yang sudah terbiasa menghadapi kerasnya hidup.
“Kau siapa?” Yuna bertanya tanpa tenaga.
“Jung Minho. Kurir,” jawab pria itu singkat. Ia menunjuk ke bangku di sebelah Yuna. “Itu tempatku biasa duduk sambil istirahat. Kalau tidak keberatan...”
Yuna bergeser sedikit, memberi ruang. Minho duduk di sampingnya, menurunkan kotak yang ia bawa dan menghela napas panjang.
“Aku tidak tahu kurir bekerja sampai larut malam,” gumam Yuna.
Minho menoleh, mengangkat alis. “Tidak tahu banyak soal pekerjaan biasa, ya?” tanyanya. Tapi ia segera menggeleng, merasa tidak sopan. “Maaf, itu tadi agak kasar.”
Yuna hanya tertawa kecil, untuk pertama kalinya malam itu. “Tidak apa-apa. Mungkin kau benar.”
Hening sejenak. Kemudian, tanpa berpikir panjang, Yuna berkata, “Bolehkah aku tinggal di tempatmu malam ini?”
Minho membelalak. “Apa?”
“Aku serius.” Yuna menatapnya, penuh harap. “Aku... tidak punya tempat untuk pergi.”
Minho berdiri, menggeleng. “Tidak. Itu tidak mungkin. Aku tinggal di tempat kecil. Lagipula, aku tidak kenal kau.”
Yuna berdiri juga, memegang lengan jaket Minho. “Tolong. Aku tidak punya pilihan lain.”
