#1 PERMISSION

22 4 0
                                        


Di tengah teriknya matahari pada hari libur, Fino memberikan secarik kertas persetujuan untuk menjelajah hutan bersama teman angkatan dan gurunya kepada Soraya.

"Mah, tolong tanda tanganin" pinta Fino terhadap Soraya.

Soraya yang menerima kertas tersebut tak langsung menandatangani, Soraya harus jelas mengetahui isi yang tertera di kertas tersebut. Tak heran, ia adalah Soraya Luzura, seorang ibu dari putra tunggal yang sangat kuat walaupun telah ditinggal suaminya ke alam yang berbeda. Soraya memiliki penyakit step yang sudah tergolong cukup parah. Meski begitu, penyakit step bukanlah alasan bagi Soraya untuk tidak mengurus Fino.

Soraya terus mencermati isi kertas tersebut hingga ia mendapati keterangan biaya yang tercantum disana. "Fino, buat pembayaran bagaimana?" tanya Soraya, kondisinya sekarang sedang berjarak dengan harta yang membuatnya keberatan pasal biaya.

"Fino bisa pakai uang tabungan Fino. Mama tenang aja" ujar Fino dengan santainya.

Soraya semakin gelisah dengan pernyataan yang terlontar dari mulut Fino. "lalu bagaimana dengan impian kuliah kamu?" tanya Soraya dengan hati gusar.

"Biaya yang diperlukan tidak menghabiskan uang tabungan Fino mah. Untuk kuliah, Fino masih bisa menambah tabungan dan menghemat. Fino juga dengan sekuat tenaga akan memperjuangkan beasiswa. Fino butuh banyak support dari mama" jelas Fino membuat hati Soraya sedikit lega.

"Untuk urusan makan disana, mama akan buatkan kamu makanan kesukaan kamu" Soraya mengacak puncak kepala Fino singkat lalu mengambil pulpen untuk menandatangani kertas persetujuan.

"Mama kalau capek gapapa, Fino jelajah hutan buat fokus tambah nilai, takut nanti makanan buatan mama ga Fino makan karena terlalu kebawa suasana disana" ujar Fino seraya mengambil kertas yang sudah ditandatangani oleh ibundanya.

Inilah Finolexo Rhoyanza, seorang anak laki-laki ambisius yang baik hati, dan penurut. Fino sangat peka terhadap sekitarnya, terutama ibunda dan sahabatnya. Semenjak ditinggal oleh mendiang ayahnya, Fino didewasakan oleh keadaan. Namun sayangnya, kondisi yang seperti itu justru mendorong Fino hingga cenderung memiliki sifat yang tertutup.

Fino tersenyum melihat kertas persetujuan yang sudah ditandatangani oleh Soraya "Terimakasih mah!" seru Fino dengan girang, kemudian ia mencium kening dan punggung tangan Soraya sebelum kembali ke kamarnya.

Sampai di kamar, Fino mendapati handphone yang dicharge disamping ranjangnya berdering lantaran ada penggilan masuk. Fino bergegas untuk melihat siapa yang memanggilnya. 'OAZARAAA' nama tersebut yang muncul di layar panggilan. Sontak Fino tersenyum, kemudian ia mengambil benda pipih tersebut kemudian mengangkat panggilan yang tak kunjung berhenti.

Dering panggilan sudah berhenti akibat gerak jari Fino yang mengangkat panggilan. Fino mengangkat tangannya dan menempelkan handphone di telinganya untuk mendengar suara dari lawan bicaranya.

"NONO!!"

Fino terkejut bukan main kala lawan bicaranya berteriak menyebut namanya. Sontak ia sedikit menjauhkan handphone dari telinganya sejenak kemudian menempelkan benda itu lagi ke telinganya seraya memberi protes "Aku punya jantung Zara, kalau copot gimana? Aku baru angkat telepon loh" protes Fino.

"Abisnya kamu angkat telepon lama bangettt" Zara memprotes Fino balik.

"Yaudah, udah hakikatnya laki selalu salah" ujar Fino membuat Zara terkekeh. "Ada genting apa ini nelpon?" tanya Fino.

Misteri KelampauanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang