Sierra Morgan, tanpa sengaja menjadi saksi pembunuhan. Demi lolos dari kejaran si pembunuh, dia pura-pura buta. Siapa sangka pilihan itu justru membuat dia malah diperkosa oleh Ethan Davis, pria paling berbahaya di Chikago.
Apa yang akan terjadi pa...
Sebelum kalian mulai baca cerita ini, Guys, Melo warning buat yang masih di bawah umur stop jangan baca. Melipir dulu ya!!! Ini bener-bener cerita 21+ yang memuat konten dewasa dengan sangat eksplisitttttt
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Tiga hari yang lalu, Sierra Morgan, mahasiswi baru di jurusan hukum kriminal, tanpa sengaja menyaksikan sebuah pembunuhan brutal di pelataran parkir belakang galeri seni kampus. Tubuh seorang pria tua tergeletak di genangan darah, sementara dua sosok berdiri di dekatnya. Yang satu membawa pistol, yang satu lagi memberi perintah dengan suara bergetar menahan amarah.
"Habisi juga gadis tadi. Jangan meninggalkan bukti apa pun, atau kau harus menanggung semuanya."
Yang bersuara adalah Brissia Orland, putri seorang pejabat eselon III di Oregon. Keluarganya dikenal sebagai keturunan bangsawan modern yang kerap muncul di kolom sosialita dan politik. Dari caranya memerintah, Sierra langsung tahu bahwa Brissia bukan tipe orang yang bisa dilawan secara terang-terangan.
"Dia cuma gadis buta," ujar Liam, pria bertubuh kekar dengan luka bekas sayatan di pelipis. "Dia bahkan tidak melihat apa pun. Aku yakin semua akan baik-baik saja kalau membiarkannya lolos kali ini."
Namun Brissia tak menyukai risiko, sekecil apa pun bentuknya.
"Kalau begitu, pastikan dia benar-benar buta. Bawa gadis itu ke tempat Ethan Davis besok malam. Setelah itu, baru aku putuskan nasibnya."
Di balik semak-semak, Sierra membekap mulutnya sendiri, menahan napas yang nyaris terpecah karena ketakutan. Tangannya gemetar saat meremas tongkat lipat milik almarhum kakaknya, seorang tunanetra yang meninggal lima bulan lalu. Bertahun-tahun hidup bersama kakaknya membuat Sierra hafal betul gerak-gerik seorang yang buta sejak lahir. Bahkan sejak kecil, dia sering memerankan "si buta" dalam drama teatrikal. Tentu saja aktingnya sangat bagus dan mendapat banyak pujian.
Dan kini, permainan itu rupanya menjadi satu-satunya cara untuk tetap hidup.
Ia tahu, melapor ke polisi tidak menjamin keselamatan. Kota ini, dan sistem hukumnya, terlalu rapuh di hadapan nama besar keluarga Orland. Karena itu tanpa berpikir panjang, Sierra memutuskan untuk tidak lari. Ia memilih berpura-pura buta. Menyamar. Bersembunyi di balik kelemahan.
Malam ini, sesuai perintah Brissia, Sierra dibawa paksa ke mansion milik Ethan Davis, seorang pria kaya raya yang dikabarkan memiliki koneksi luas, namun tak banyak diketahui publik. Liam menjemputnya dari kampus dengan dalih bahwa Michael Thatcher, si pemberi beasiswa, ingin menemuinya secara pribadi.
Sierra tahu itu jebakan. Namun ia tetap datang. Karena ia hanya perlu satu hal, meyakinkan mereka bahwa ia memang buta. Jika berhasil, mungkin mereka akan membiarkannya hidup. Setidaknya itu yang ia harapkan.
Mobil berhenti di depan mansion berarsitektur neo-klasik, mewah dan sepi seperti istana kuno. Liam menuntunnya masuk ke dalam. Wangi botani dari diffuser mahal menyambut saat langkah mereka mencapai lantai dua. Mereka tiba di depan sebuah pintu besar.
Liam membuka pintu, membiarkan Sierra masuk sendiri. Tak ada kata perpisahan. Hanya keheningan yang menekan.
Ruangan itu remang-remang. Lampu gantung bergoyang pelan, cahayanya jatuh ke ranjang besar yang tertata rapi. Di tepi ranjang, duduk seorang pria mengenakan piyama sutra berwarna kelabu, dengan cerutu di antara jemarinya. Wajahnya setengah tersembunyi dalam bayangan.
Sierra tahu, inilah Ethan Davis.
"Mr. Thatcher?" suaranya lirih, seperti gadis lugu yang gugup. Ia menunduk dan meraba dinding seolah benar-benar buta.
Pria itu diam. Matanya menyapu tubuh Sierra dari ujung kaki hingga pucuk kepala. Wajah polos tanpa riasan. Gaun abu-abu sederhana. Mata yang tampak sedikit kosong, tapi terlalu bersih untuk benar-benar buta. Namun gerak tubuhnya, cara ia meraba, cara ia berhenti dan mencium udara di sekitarnya, terlalu meyakinkan.
Ia menarik napas. "Ya," jawab pria itu. Suaranya rendah, berat, dan mengandung kuasa.
Sierra tersandung kaki meja kecil di samping tempat tidur. Pria itu segera bangkit, bergerak cepat dan menopangnya sebelum ia jatuh sepenuhnya.
Sierra gemetar dalam pelukan singkat itu. Namun ia tersenyum pelan, menyisipkan rasa terima kasih yang sopan. "Maaf, saya agak panik tadi."
"Tidak apa-apa." Pria itu menatap wajahnya dalam-dalam, menyimpan ekspresi aneh, campuran keingintahuan dan kegelisahan. "Kau Sierra Morgan?"
"Iya, Tuan."
"Duduklah." Ia menuntunnya ke tepi ranjang, seperti pangeran yang membantu putri. Begitu Sierra duduk, pria itu tetap berdiri, menatap dari atas, masih dengan cerutu menyala di antara jari.
"Apa ini kamar tidur?" tanya Sierra, mengedarkan tangan seolah menyentuh udara.
"Ya. Aku sengaja mengundangmu ke sini. Apa kau keberatan?"
Pertanyaan itu mengganggu. Suaranya tidak menuntut, namun ada tekanan halus dalam nada bicara Ethan Davis. Sierra berpura-pura bingung. "Saya tidak mengerti maksud Anda."
"Apa kau masih menginginkan beasiswa itu?"
"Tentu saja, Tuan."
Tubuh Sierra menegang saat pria itu mulai melangkah memutari ranjang. Langkahnya pelan, tenang, seolah sedang menilai seekor rusa mungil yang tersesat ke kandang harimau.
Sierra mencium aroma tembakau dan musk yang berat. Ia tahu pria itu mendekat bahkan sebelum merasakan sentuhannya.
Lengan Ethan menyentuh punggungnya. Lalu turun perlahan ke pinggang, berputar ke depan. Sentuhan itu seolah mengukur setiap inci tubuhnya.
Sierra menahan napas. "Anda ... mau apa?"
Ethan tidak langsung menjawab. Jemarinya masih menelusuri tubuh gadis itu. Terlalu lama untuk sekadar membantu menyesuaikan posisi duduk. Terlalu berani untuk pria yang baru dikenalnya.
"Tak ada yang perlu ditakutkan," ujarnya pelan. "Kau hanya perlu diam dan membuktikan bahwa kau memang gadis buta yang tak tahu apa-apa."
Sierra mencengkeram tongkat lipat di pangkuannya. Ia tak tahu, apakah pria itu hanya ingin mengujinya atau menghukumnya.
Pada saat tangan Ethan berhenti di perut bagian bawah, mendekati batas bahaya, Sierra tahu. Permainan ini akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.
"Anda mau apa, Tuan Thatcher?"
"Aku mau tubuhmu, Cantik." Suara Ethan terdengar tenang, tetapi dalam nada itu tersembunyi keserakahan yang membuat udara menjadi lebih berat. "Jangan takut. Aku lebih baik dari siapa pun dalam memuaskan wanita di ranjang."
Tangan Ethan bergerak cepat, menyapu ke arah dada Sierra, membelai dua gundukan kecil dengan sentuhan yang agresif. Refleks, Sierra mundur dan menepis tangan itu.
"Tunggu. Suara Anda...." Sierra mengernyit, napasnya memburu karena syok. "Ini bukan suara Tuan Thatcher. Siapa sebenarnya Anda?"
Tawa rendah menggema dari pria itu. Suaranya dalam, dingin, dan sedikit terhibur. "Ternyata kau gadis buta yang cukup pintar."