part 1

869 68 2
                                        


Pagi itu, suara alarm yang nyaring tidak cukup untuk membangunkan Oline. Dia masih terlelap, dengan selimut yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Matanya yang lelah belum siap untuk menerima kenyataan bahwa hari ini adalah hari pertama di sekolah baru.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di pintu kamar. Ribka, adik perempuan Oline, membuka pintu kamar. " Ka Olinee, bangun! Kamu nggak mau telat kan?" teriak Ribka dengan semangat, sambil menendang pelan kaki Oline yang menempel di sisi tempat tidur.

Oline menggerakkan tubuhnya sedikit, mencoba melawan rasa kantuk. "Ribii, masih pagi banget... Bisa nggak sih jangan berisik?" jawab Oline dengan suara serak, sambil memalingkan wajah ke arah bantal.

"Tapi kan sekarang hari pertama kamu di sekolah baru! Jangan tidur terus, ka Oline!" Ribka mendekat, menarik selimut Oline dengan paksa. "Ayo, cepetannn"

Oline akhirnya membuka mata, sedikit kesal tapi juga merasa ada sedikit kegugupan. Hari pertama di sekolah baru selalu bikin jantung berdebar. Dengan gerakan malas, Oline bangkit dari tempat tidur dan duduk di ujung ranjang.

"Iyaa... kakak bangunn," jawab Oline setengah malas.

"Ayoo cepetann kak olenn, bunda udah masak sarapan"ucap Ribka.

"hmm, iya iya.. "

---

Oline bergegas menuju kamar mandi setelah melepas selimut yang terasa nyaman. Di depan cermin, dia mengusap wajahnya dan mencoba untuk menyegarkan diri. Masih ada rasa malas yang menggelayuti, tapi dia tahu kalau hari ini penting. Dia harus bisa menghadapinya dengan baik.

---

Oline melangkah turun dari lantai atas menuju ruang makan. Di bawah, Ribka sudah duduk di meja makan, sementara indah sedang sibuk menyiapkan sarapan. Wangi nasi goreng yang harum langsung menyambut Oline, membuat perutnya sedikit keroncongan meski tadi belum begitu lapar.

Oline duduk di kursi yang sudah disiapkan. Indah menyodorkan sepiring nasi goreng yang masih panas dan telurnya yang setengah matang. "Ayo makan dulu sayang. Sarapan dulu sebelum berangkat. Jangan sampai kelaparan nanti di sekolah," kata indah dengan lembut, selalu penuh perhatian.

"Makasih, Bun" jawab oline dan Ribka, lalu mereka menikmati sarapan itu. Ribka yang duduk di sebelahnya sudah hampir selesai makan, tapi terus berbicara. "Kak, pulang sekolah mau gak kita main game? "

"boleh, yang kalah harus turutin permintaan yang menang, gimana? " tanyanya, sambil menyantap makanannya.

"Oke siapa takut"ucap ribka menantang.

Tiba-tiba, terdengar suara Oniel yang datang dari ruang tamu. "Oline di sekolah jangan tebar persona mulu, ntar anak orang baper loh" Ucap nya, lalu mencomot satu cookies Ribka yang sudah indah siapkan.

"yaelah pa, bukan aku yang tebar pesona, tapi mereka yang terpesona" jawab Oline percaya diri

"yeuu, pede ni anak" ujar oniel, dan indah hanya terkekeh

Oniel kembali mencomot cookies ribka

"papaa, cookies akuu!" kesal Ribka lalu menutup cookies nya menggunakan kedua tangan nya.

"Oniel jangan jail ih"tegur indah.

mereka yang ada di ruangan itu tertawa karena oniel berhasil menjahili ribka.

---

Setelah mengantar ribka, oniel langsung pergi bekerja, sedangkan Oline pergi ke sekolah dengan motor nya sendiri.

Bunda memberikan senyum hangat "Hati-hati ya,jangan ngebut"perintah indah pada oline.

Oline mengangguk " Siap yang mulia ratu"ucap Oline memberi hormat, lalu menyalim tangan indah dan dia keluar menuju motor yang sudah menunggu di depan rumah.

---

Motor sport hitam berhenti di depan gerbang sekolah yang besar dan megah. Oline turun dari motor dengan membawa tas selempang yang tergantung di bahunya. Langkahnya santai, tapi tegas. Sekilas, tatapan matanya seperti menyiratkan kepercayaan diri, meskipun di dalam hatinya, dia sedikit gugup.

Begitu dia melewati gerbang sekolah, suasana mendadak terasa hening. Beberapa siswa yang sedang mengobrol di taman depan sekolah terdiam sejenak, memperhatikan Oline dengan pandangan penasaran.

"Eh, siapa tuh? Anak baru ya?" bisik seorang siswa perempuan kepada temannya.

"Iya, keren banget" jawab yang lain, tak bisa mengalihkan pandangan.

Oline bisa merasakan tatapan orang-orang, tapi dia memilih untuk tetap santai.

Saat melewati koridor, tiba-tiba seseorang berlari dari arah berlawanan, tampaknya sedang terburu-buru. Sebelum Oline sempat menghindar, tubuhnya bertabrakan dengan sosok itu.

"Bruk!"

Oline hampir kehilangan keseimbangan, tapi berhasil berdiri tegak. Sebaliknya, orang yang menabraknya justru sedikit mundur, meskipun berhasil menjaga keseimbangannya. Oline menatapnya dengan sedikit bingung, sementara orang itu langsung berkata, "Maaf, gw nggak sengaja..." dengan nada terburu-buru.

Saat Oline menatapnya, dia melihat seorang gadis dengan seragam yang rapi. Rambutnya yang panjang tergerai sempurna, wajahnya cantik dengan gayanya yang anggun.

"Gapapa" jawab Oline singkat,sambil memandang gadis itu.

Gadis itu, yang ternyata adalah Erine, sang ketua OSIS, memandang Oline dengan alis sedikit terangkat. Dia sepertinya belum pernah melihat oline. "lo siswa baru, ya? soal nya gw nggak pernah liat lo di sekolah" ucapnya, nada suaranya tenang tapi ada sedikit rasa penasaran.

Oline hanya mengangkat bahu. "Iya, baru masuk. Gw Oline"

Erine mengangguk singkat. "gw Erine, ketua OSIS di sini. Kalau lo butuh bantuan, tanya aja sama gw atau anggota OSIS lainnya"

Sebelum Oline sempat menjawab, Erine melanjutkan, "Maaf, gw harus pergi. Masih ada banyak yang harus diurus." Dia kemudian berjalan pergi, meninggalkan Oline yang hanya berdiri memandang punggungnya.

Oline tersenyum kecil. "Nama nya Erine, ya? Menarik" gumamnya sebelum melanjutkan langkahnya menuju aula.

TBC

Hati Yang Kupilih (Orine) Where stories live. Discover now