Malam Sunyi yang Gila: Petualangan Genta dalam Balutan Kostum Spiderman

4K 20 0
                                        

Malam itu begitu sunyi. Aku berjalan keluar dari area kolam renang, tubuhku masih basah setelah latihan intens. Udara dingin menusuk kulitku, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin segera pulang dan beristirahat. Saat menghela napas panjang, suara mesin mobil tiba-tiba terdengar dari luar ruang ganti. Sebuah van hitam terlihat dari balik jendela dan beberapa pria keluar.

"Hei! Apa-apaan ini?" aku berteriak panik saat dua pria bertubuh kekar keluar dari van. Sebelum sempat bereaksi, mereka langsung menarikku.

"Diam, atau kamu akan menyesal!" salah satu dari mereka menggeram sambil menutup mulutku dengan kasar. Aku meronta sekuat tenaga, tapi mereka terlalu kuat. Suara deru mesin memenuhi keheningan malam saat van itu melaju, meninggalkan area kolam renang yang kini kosong.

Di dalam van, aku dilemparkan ke lantai. Salah satu pria melemparkan sesuatu ke arahku. "Pakai ini."

Aku menatap benda yang mereka lemparkan. "Kostum Spiderman? Serius? Kalian pikir aku badut?"

"Ini buat penyamaran. Pakai kalau nggak mau kedinginan," balas pria itu dengan nada ketus.

Dengan enggan, aku mengenakan kostum itu. Bahannya ketat, dan aku merasa sangat tidak nyaman. Perjalanan kami berlanjut hingga van berhenti di jalan berbatu di tengah hutan. Tanpa peringatan, aku didorong keluar.

"Kalian nggak bisa meninggalkanku di sini!" teriakku, tapi mereka hanya tertawa sebelum melaju pergi. Aku berdiri sendirian di tengah kegelapan, menggigil kedinginan. "Ya ampun... malam ini benar-benar kacau," gumamku sambil melangkah tanpa arah.

Setelah beberapa waktu berjalan, aku melihat cahaya di kejauhan. Mengikuti cahaya itu, aku menemukan sebuah gua besar. Suara tawa keras dan dentuman musik keluar dari dalamnya. Aku ragu sejenak, tapi akhirnya memutuskan untuk masuk.

Di dalam, sekelompok pria berwajah garang langsung menatapku curiga. "Siapa kamu? Dan kenapa pakai baju kayak gitu?" salah satu dari mereka bertanya dengan nada tajam.

Aku memaksakan senyum. "Eh... aku pelayan. Diundang untuk... pesta kalian?" Aku melirik sekeliling, mencari celah untuk kabur.

Mereka saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak. "Pelayan yang tahu cara tampil beda! Masuk sini!" Salah satu dari mereka menarikku lebih dalam ke gua. Sebelum aku sadar, mereka mendandaniku dengan rompi tanpa lengan dan celana ketat. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati, "Ini gila..."

Pesta berlangsung liar, dan aku hanya berdiri canggung di tengah-tengahnya. Beberapa tamu mabuk terus-menerus meledekku. "Hei, Spidey! Bisa panjat dinding nggak?" salah satu dari mereka bertanya sambil tertawa. Aku tersenyum paksa, mencoba mengendalikan rasa malu dan marah.

Ketika pesta usai, mereka menyeretku ke sebuah ruangan gelap dan mengikat tangan serta kakiku. Aku terbaring di lantai, tubuhku berlumur baby oil yang mereka oleskan sepanjang malam. Dengan susah payah, aku mencoba bergerak. Kulihat gunting kecil di atas meja dan memutuskan untuk meraihnya.

Butuh waktu, tapi akhirnya aku berhasil memotong tali pengikat dan membebaskan diri. Aku menemukan sebuah motor di sudut ruangan. Tanpa pikir panjang, aku mengendarainya keluar dari gua, meninggalkan semua kegilaan itu di belakang.

Namun, di tengah perjalanan, aku dihentikan oleh polisi.

"Selamat malam, Mas. Anda tahu ini melanggar aturan, kan? Pakaian Anda... tidak pantas," kata polisi itu sambil menatapku dari atas ke bawah. Aku menunduk, menyadari aku masih memakai rompi dan celana ketat.

"Pak, ini cerita panjang," aku menjawab sambil menghela napas. "Ada baju yang bisa saya pakai?"

Polisi itu berusaha menahan tawa, lalu memberikan seragam cadangan. Sayangnya, seragam itu terlalu ketat. Saat memakainya, aku menemukan surat di saku seragam. Tanganku gemetar saat membukanya.

"Terima kasih sudah datang ke pesta kami. Kebebasanmu hanya sementara. Kami tunggu di pesta berikutnya, atau kami akan menculikmu lagi. Selamat menikmati sisa malam ini..."

Darahku seakan membeku membaca surat itu. Polisi itu menatapku curiga. "Mas, ada masalah?"

Aku menggeleng cepat. "Tidak, Pak. Terima kasih. Saya harus pergi."

Malam itu, aku melaju di jalan sepi, surat itu terngiang di pikiranku. Aku tahu satu hal—petualangan ini belum berakhir.

Cerita Pendek BDSM : Genta (Free)Des histoires addictives. Découvrez maintenant