Bab 1

134 8 5
                                        


Namaku Adrian, usiaku baru 16 tahun.
Di usiaku yang baru 16 tahun ini, aku sudah mampu memimpin kerajaan.

Orang tuaku meninggal ketika umurku 10 tahun, sejak saat itu aku yang menggantikan mereka mengerjakan pekerjaan negara.

Penampilan dan umurku sama seperti anak remaja seusia ku. Tapi pekerjaan ku tidak sesuai dengan umurku.
Aku tidak ada pilihan selain menerima tugasku mengurus negara.

Hari minggu adalah hari libur ku, dan hari ini adalah hari minggu.
Ketika hari minggu tiba, aku akan pergi ke taman rahasia milikku untuk menemui pacar rahasia ku.

Aku sudah berpacaran dengannya selama 6 tahun, setiap hari minggu kami akan bertemu di sini untuk menghabiskan waktu bersama, seharian.

Dia hanya gadis desa biasa, tidak punya nama keluarga yang berstatus tinggi, dia hanya gadis desa biasa.
Tapi karena dia hanya orang biasa, aku menyukainya.

Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja. Hubungan kami baik-baik saja, tidak ada pertengkaran atau hal-hal yang dapat mengakhiri hubungan kami.
Dia adalah obat dari rasa lelahku, entah kenapa aku selalu nyaman berada di dekatnya.

Suara langkah kaki terdengar di indra  pendengaran ku. Aku langsung menoleh ke sumber suara.
Mataku langsung menangkap sosok perempuan berambut merah pendek sebahu dengan mata hijau zamrud yang bersinar terkena cahaya matahari.

"Selamat pagi Tuan" aku langsung berdiri dan menghampiri nya, langsung memeluknya.
Sudah seminggu aku tidak memeluknya, rasanya kangen sekali.

"Selamat pagi juga" pelukan di lepas.
Tangan nya terarah untuk mengelus kepalaku. Rambut biru muda milikku di elus dengan penuh kasih sayang olehnya, mata hitamku menunjukkan tatapan senang di elus.

"Ayo makan dulu, belum makan kan?"

"Belum lah~ kan nunggu masakanmu yang selalu enak" kami duduk di bawah pohon besar yang ada.

Keranjang anyaman selalu di isi dengan masakannya, tidak ada masakannya yang gagal. Semuanya enak.

Apapun makanan yang di bawanya pasti enak.

Namanya Rea, umurnya 15 tahun. Beda 1 tahun denganku, dia punya dua adik perempuan yang umurnya ga jauh berbeda.

Mereka ber 3 terkenal sebagai 3 perempuan tercantik di desa, karena rambut dan mata mereka unik, jarang sekali melihat rambut merah asli seperti milik Rea.

Kami menghabiskan makanan yang di bawa Rea. Perutku yang sedari tadi kosong belum di isi sekarang sudah terisi dengan penuh.

Biasanya kami akan duduk sambil ngobrol biasa, atau bermain di sekitar taman, atau pergi ke desa untuk berbelanja.
Hari ini kami hanya duduk duduk saja, mengobrol tentang banyak hal.
Seharian ngobrol dengan Rea aku sanggup ko.

Apapun yang ku obrol kan dengan Rea pasti seru, kami tidak pernah membahas masalah politik, masalah keuangan negara, atau masalah krisis pangan. Kami hanya membahas hal hal random yang lewat di kepala.

Rea orangnya sulit di tebak, tapi karena sifatnya yang sulit di tebak, aku menyukainya. Lebih tepatnya menyukai apapun yang berhubungan dengan Rea.

Sekitar jam 11, kami memutuskan untuk pergi ke desa. Berjalan-jalan sambil cari makan siang.
Di taman itu ada rumah kecil, di sana banyak sekali peralatan yang mungkin berguna. Aku mengganti pakaian ku menjadi pakaian orang biasa, Rea juga mengganti pakaiannya. Alasannya agar kami bisa berbaur.

Lalu aku menggunkan sihir ku untuk merubah warna rambut.
Rambutku berwarna coklat dengan mata berwarna ungu.
Sementara Rea berambut hitam dengan mata berwarna coklat.
Rea tetap cantik walau beda penampilan.

Bukan Mati, Hanya Terlahir KembaliCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang