Mentari mulai merunduk, meninggalkan langit jingga yang perlahan memudar. Angin membawa aroma tanah basah dan sedikit harum bunga kamboja. Aku duduk di teras rumah, memandangi taman yang sunyi.
Kesunyian malam terasa berbeda. Tidak ada lagi suara Ayah yang biasanya mengiringi bisingnya dunia. Tidak ada lagi tawa Ayah yang membaur dengan kicau burung. Hanya ada kesunyian yang dalam, menyelimuti hatiku seperti kabut tebal.
Aku teringat senja-senja sebelumnya. Ayah selalu duduk di kursi hijau di teras, matanya lelah. Ia tak pernah bercerita tentang hari-harinya, tentang pekerjaannya, tentang teman-temannya. Suara lembut dan menenangkan, aku ingin mendengarnya.
Sekarang, kursi hijau itu kosong. Hanya bayangan Ayah yang tertinggal, terukir.
Kenangan tentang Ayah bermunculan silih berganti. Senyumnya yang hangat, pelukannya yang erat, nasihatnya yang bijak. Semua terasa begitu nyata, namun begitu jauh. Aku merindukan Ayah. Rasa rindu yang begitu mendalam, menusuk kalbu.
Aku memeluk lututku erat, air mata mengalir tanpa henti, membasahi pipiku. Tangisku sunyi, hanya terdengar oleh angin senja. Aku ingin sekali berteriak, meluapkan segala kesedihan ini. Namun, tangisku hanya tertahan di tenggorokan.
Malam semakin larut. Bulan purnama muncul di langit, memancarkan cahaya. Cahayanya menerangi taman, namun tak mampu menerangi kesedihan di hatiku. Aku masih duduk di teras, terpaku pada kesunyian malam.
Aku tahu, Ayah sudah pergi untuk selamanya. Namun, kenangan tentang Ayah akan selalu terukir di hatiku. Ayah akan selalu menjadi bagian dari hidupku. Ayah akan selalu menjadi cahaya dalam kegelapanku.
Aku bangkit dari dudukku, melangkah perlahan ke dalam rumah. Aku menatap foto Ayah yang terpajang di dinding ruang tamu. Senyumnya masih sama, hangat dan menenangkan. Aku tersenyum, mencoba mengikhlaskan kepergian Ayah. Aku tahu, Ayah akan selalu ada di sisiku, meskipun tak terlihat.
Aku berdoa untuk Ayah, memohon agar Ayah tenang di alam sana. Aku juga berdoa agar aku diberi kekuatan untuk melewati hari-hari tanpa Ayah. Aku akan selalu mengingat Ayah, dan aku akan selalu menyayangi Ayah.
Malam semakin tenang. Angin senja berganti menjadi angin malam, membawa kesejukan dan kedamaian. Aku memejamkan mata, membiarkan kenangan tentang Ayah memenuhi pikiranku. Di tengah kesunyian malam, aku merasakan cinta dan kasih sayang Ayah, yang tak akan pernah padam. Aku tidak sendiri. Aku selalu memiliki Ayah di hatiku.
YOU ARE READING
Sepi, Tapi Tak Sendiri
Short StoryKesepian menyelimuti hati yang terluka. Sebuah kisah tentang cinta seorang ayah yang telah pergi. Bisakah kasih yang pergi menjadi penuntun di tengah kehidupan?
