Once Upon a December

2 0 0
                                        


December 1980
Kediaman keluarga Langenberg.

Mentari menyambut hangat sang bumi, membiaskan cahaya terang diseluruh lapisan bumantara, kembang-kembang kembali bermekaran riuh memenuhi kebun. Suara tapak kaki kuda pun bersahut tak mau mengalah, tanda bahwa para penduduk kinipun jua telah kembali bekerja. Mansion yang berdiri menjulang megah itu nampak hidup dengan banyaknya para pekerja yang berlalu lalang.
Naranaya berdiri disana, dengan celana pendek usang serta kemeja lusuh kebanggannya tengah menggenggam sebuah tangkai sapu taman. Ia dengan kepala yang sedikit tertunduk, meratapi seorang diujung taman bunga sana tengah menikmati jamuan teh paginya dengan koran yang menutupi wajah. Hembusan nafas pelan terdengar, Naranaya kembali melanjutkan pekerjaannya. Menyapu halaman belakang mansion Langenberg.

'Tuan, sekiranya saya adalah terlahir sebagai keluarga bangsawan pula, apakah anda bersedia meminang saya secara terbuka didepan publik? Apakah sekiranya tuan sudi merengkuh raga rapuh saya didepan keluarga tuan? Apakah disaat seperti itu, baru saya pantas bersanding dengan anda, tuanku?'

Lirih batin itu ia utarakan dengan pilu, dengan raut wajah yang berubah sendu, seolah hangatnya cahaya mentari tak mampu mengetuk hati muramnya. Namun, apalah daya, sekalinya budak tetaplah menjadi budak.

"Kenapa melamun Naranaya?"

Kepala yang tadinya menunduk sendu kini perlahan mendongak, mendengar suara yang amat familier ditelinganya membuat hati yang murung itu perlahan membaik. Senyum simpul tak lupa ia sematkan pada paras manisnya.

"Selamat pagi tuanku, saya tidak melamun tuanku." Ia menunduk sembari memberi salam pagi hari, tuannya--Julian Langenberg tanpa aba-aba telah berdiri dihadapannya dengan pertanyaan tiba-tiba itu.

"Perhatikan langkahmu Naranaya, saya tidak mau kamu terjatuh karena tersandung, lalu terluka." Perhatian sekali, tuannya ini selalu begitu. Lalu, setiap kali pergerakannya diawasi dan dikhawatirkan, sesaat itu pula jantung Naranaya berdegup lebih cepat. Tidak mengelak, ia memang sangat amat mengagumi tuannya.

"Baik tuanku." Jawaban singkat itu bukan menjadi akhir. Julian melangkahkan tungkainya satu kali kedepan, wajah manis Naranaya kini berada tepat dihadapannya, walau harus agak menunduk untuk mengamati wajah simanis dihadapannya, itu bukanlah masalah. Ia dengan lancangnya mengapit dagu Naranaya, sehingga lelaki itu sedikit mendongak, mengamati sorot matanya lalu mengecup singkat bibir plum yang selalu terasa manis bagi Julian. "Setelah ini, mari sarapan bersama. My mom and dad just left this early morning. We can have a time to breakfast togheter, should we?"

"Saya tahu itu bukanlah ajakan betul tuan? Saya tidak memiliki pilihan lain selain mengatakan saya bersedia bukan begitu tuanku?"

Terkikik geli sejenak sebelum Julian menjawabnya, "you really know me so well, pretty"



December 2024

Ukiyo terbangun dengan napas yang tercekal, tenggorokannya sangat amat kering, menatap jam pada nakas ia dapati bahwa saat ini pukul 03.25. Ukiyo kembali bermimpi, mimpi yang sama sejak 3 tahun lalu. Tidak benar-benar sama, setiap mimpinya terasa seperti potongan sebuah peristiwa dimasa lampau. Sosok yang bernama Naranaya itu sangat mirip sekali seperti dirinya, hanya mungkin di versi yang lebih mengenaskan.
Ukiyo sebetulnya sangat amat bingung dengan segala hal yang terjadi beberapa tahun kebelakang ini, sebelumnya ia tidak pernah tahu bahkan mendengar nama keluarga Langenberg saja tidak pernah, apalagi melihat sosoknya secara nyata. Awalnya ia berpikir bahwa ini semua hanya bunga tidur, namun semakin lama, Ukiyo rasa ia tidak bisa membiarkannya terus menerus, semakin lama ini semakin mengganggu.
Setiap kali terbangun, ia selalu merasa ulu hatinya seperti tercubit, terasa sakit sekali. Terkadang pula jantungnya berdegup sangat kencang sampai ia rasa ia mengalami serangan jantung mendadak.

Bahkan matahari saja belum terbangun, namun Ukiyo harus tetap terjaga sebab dirinya terdistrak oleh mimpi itu lagi. Bangkit dari tidurnya, lelaki itu berjalan keluar kamar menuruni tangga apartementnya menuju dapur dilantai dasar. Sebelum mencapai tangga paling bawah, ia melihat adanya kehadiran seseorang disofa ruang keluarga, tidak sendiri--berdua dengan seorang wanita dewasa yang sedang terengah dan mendesah menjijikan sekali. Ukiyo benci mengakui ini, namun lelaki yang tengah bergerak liar disana adalah ayahnya. Dengan perempuan yang entah siapa lagi kali ini, Ukiyo tidak peduli.
Tanpa mempedulikan keduanya sama sekali, lelaki itu kembali menaiki tangga menuju kamarnya, hatinya semakin tak karuan. Kembali memikirkan rencananya yang sudah tersusun sejak jauh hari, Ukiyo rasa ini adalah waktu yang tepat untuk merealisasikannya.

"Hidupku rasanya kacau sekali ya? Haha. Lahirpun gapernah dianggap ada sama ibu, dibesarkan sama yang katanya ayah, tapi suka sekali bersenggama kesana kemari sama banyak perempuan. Dari lahir, bukannya dapat susu dan makanan layak, aku malah sudah dicekoki sama rasa pahitnya dunia. Tiga tahun mimpikan masa lalu, bukannya dapat hidup aman malah jadi babu dirumah bangsawan. Tuhan, sebenarnya apasih tujuan aku tercipta?"

Helaan napas kasar ia hembuskan, mengambil tas biru dongker dari atas lemari kayu kemudian memindahkan beberapa baju yang menurutnya masih layak untuk dikenakan dan dibawa. Satu jam berlalu, sesi berkemasnya selesai. Ukiyo membuka jendela kamarnya, apartement ini berada dilantai empat, cukup jauh dari tanah tentu saja. Dengan berbekal tali tambang yang sengaja ia simpan dilemari, bekas hasil suicide nya yang gagal tiga minggu lalu itu, Ukiyo mencoba turun melalui jendela. Ujung tali ia ikat dengan erat pada kaki meja belajarnya, kemudian ujung tali lainnya ia lempar kebawah jendela. Pertama ia kenakan dengan baik tasnya, kemudian mengambil dompet, passport dan beberapa lembar uang yang sengaja ia kumpulkan dan simpan pada laci mejanya, setelahnya dengan nekat ia mencengkram tali dengan kuat dan menuruni gedung.

Selamat. Ukiyo berhasil turun, walau kini telapak tangannya dipenuhi darah dan beberapa kulitnya yang mengelupas. Tak dipedulikannya, lelaki itu berlari menjauhi gedung apartement, mencari halte terdekat. Ukiyo mengamati rute bus pagi ini, paling cepat pada pukul 5.00 pagi, dua puluh menit lagi. Terduduk lesu pada halte, ia amati kedua telapaknya yang semakin parah lukanya, darah menetes disepanjang jalan yang ia lalui. Ukiyo rasa, ia perlu perban. Maka dengan sisa tenaganya, ia langkahkan tungkai kurusnya pada sebuah minimarket 24jam yang berada diseberang halte.


Lukanya kini terbalut dengan kain kasa yang ia lilitkan asal, tanpa obat antibiotik apapun, hanya dibalut kain perban asal. Ukiyo tak pedulikan nyerinya, ia rogoh kantong celana panjangnya lalu mengetikan pesan singkat kepada seseorang diseberang sana.

Ukiyo : '
I'm out. I think I'll go to Indonesia to run away. I'll tell you if I'm there, do you wanna help me Hima?'

Hima : '
Kiyo, it's 05.00 am right there? R'u dumb or smth go out rn? When will you get here? I'll pick up you in airport.'

Ukiyo :
'Maybe after tomorrow? I don't really know. If I'm arrived in Juanda airport, I'll tell you.'

Ukiyo tutup kembali ponselnya, saat ini ia telah duduk pada kursi belakang bus yang bersebelahan langsung dengan jendela, ia sandarkan kepalanya disana dengan lesu. Perjalanan menuju Haneda Airport mungkin perlu waktu sekitar 5 jam. Dengan begitu, ia gunakan waktu ini untuk beristirahat sejenak karena rasanya, kedua telapak tangannya semakin nyeri dan kantuk kembali melandanya.

- To Be Continued.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 07, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The Next Soulmate. Stories to obsess over. Discover now