Zhimer, anggota The Police dan juga sekaligus anggota Kepolisian New York, berusaha untuk bertemu dengan anggota The Police yang lain, Fynix, mereka hanya berdua saja sekarang, karena Hartbringer memghilang. Karena konflik antara New York City dan Westcostia, Zhimer sulit keluar masuk untuk bertemu dengan Fynix yang notabenenya adalah Pasukan Khusus Pemerintahan Pusat, meski sudah mau pensiun jadi jarang digunakan.
Zhimer di ruang kantornya masih kesulitan untuk menemukan jejak-jejak dari Hartbringer. Mereka ditinggal oleh Hartbringer entah kemana, dan sekarang Ia menghilang. Lalu temannya Zhimer datang, "Zhimer, Aku ada tanda-tanda lokasi Hartbringer!", namanya adalah Akbar, "Mana liat." Ucap Zhimer. "Terakhir kali dilihat di Newport, ini adalah foto yang diambil oleh anggota Kepolisian yang datang untuk bertugas di Portland." Ucap Akbar dengan penuh semangat, lalu dilanjut "Zhimer, mengapa kamu mencari-cari Hartbringer, kan dia anggota Kepolisian Pusat, dia juga ikut campur dalam kerusuhan di Houston."
"Bukan kenapa-kenapa, sederhananya, dia adalah temanku dulu." Balas Zhimer, "Sudah, sekarang pergi sana, Aku mau fokus bekerja." Lanjut Zhimer, "Ah ayolah, kerja apa sih? Pasti baca koran saja!" Balas Akbar, yang lalu pergi keluar ruang kantor Zhimer.
Zhimer mencari alasan mengapa Hartbringer pergi ke Newport tanpa alasan yang jelas. Menurutnya, Hartbringer adalah orang yang serius dan tidak akan menghabis-habiskan waktunya hanya untuk bersenang-senang, apalagi dia salah satu orang yang menyebarkan informasi mengenai Pembakaran Houston, jikalau bukan karena dia, maka lebih lama lagi orang-orang tahu bahwa Houston dibakar oleh pemerintah. Apa Hartbringer punya pertemuan di Newport? Lagipula, Portland kan jaraknya dekat dengan ibu kota di Seattle.
"Zhimer, ayolah bangun, kamu sudah terlambat ke sekolah, bis sekolah sudah pergi!" Ucap seorang wanita.
"Ibu, mengapa kamu tidak membangunkan Aku dari tadi?" Ucap Zhimer dengan sangat belibet.
"Zhimer, Ibu sudah membangunkanmu sejam yang lalu." Balas Ibunya.
"Ini jam berapa?" Tanya Zhimer.
"Jam 7:30!" Balas Ibunya.
"Apa!? Aku harus cepat-cepat." Ucap Zhimer dengan sangat panik.
Zhimer sampai di sekolah pada pukul 8:30. Beruntungnya, Ia masih sempat masuk ke sekolah. Zhimer bertemu dengan dua temannya yang sangat culun. Di kelas, mereka duduk bersebelahan satu meja. Meski mereka bertiga itu culun, tetapi mereka cukup pintar.
"Zhim, sebaiknya kau pindah sekolah, jangan di sini, ini bukan sekolah untuk pecundang." Ucap salah seorang pembully.
"Mengapa kamu membenci aku?" Tanya Zhimer ke pembully itu.
"Karena kamu pintar." Jawabnya, "Itu alasan yang bodoh, setidaknya membenci karena menentang, bukan karena berbeda." Jawab Zhimer.
Makin lama, Zhimer makin lemah mentalnya, Ia hanya berhasil mengubah satu orang dan menyisakan ratusan menjadi membencinya, mereka mengatakan bahwa Zhimer itu sok bijak. Zhimer juga merasa begitu, dia bukan murid paling pintar di sekolah, hanya di kelasnya saja. Penyebabnya, Zhimer menjadi malas belajar dan bersosialisasi. Dua temannya menjadi heran dengan Zhimer, bahkan, mereka berdua sekarang lebih cerdas dibanding dengan Zhimer. Zhimer sering mendapatkan nilai B, padahal dulu paling rendah hanya A-. Ibunya Zhimer menjadi khawatir sehingga Ibunya membawa Zhimer ke psikiater. Zhimer tidak pernah menceritakan pembullyan yang Ia rasakan di sekolah kepada Ibunya, sehingga Obunya menebak bahwa Zhimer menjadi seperti ini karena Ayahnya yang pergi jauh ke San Diego untuk dinas karena Ayahnya adalah Anggota Kepolisian Pusat. Psikiater Zhimer tidak menganggap itu sebagai masalah utamanya, karena kalau begitu, seharusnya sudah dari lama berubah, bahkan seharusnya tidak sebegitunya jikalau ditinggal dinas oleh orangtuanya. Akhirnya Zhimer menceritakan masalah utamanya.
Zhimer membuka laci kantornya, lalu Ia menemukan surat dari Ayahnya 6 tahun yang lalu. "Ayah sudah tiada jika surat ini sampai ke kamu, karena Ayah meminta teman Ayah untuk membawa surat ini ke Zhimer. Ayah memiliki harta di rumah lama Ayah di Triolia. Ambil saja, di kota Manzanillo, paling orang sekitar sana tahu."
Zhimer melamun, menghadap ke papan investigasi yang menghubungkan seluruh hasil investigasi berdasarkan Pembunuh Misterius di New York City, panggilannya adalah States Killer. Pembunuhan pertamanya ada di Triolia, 6 bulan yang lalu, beberapa hari setelah Prancis sampai di benua Amerika, diperkirakan dia adalah orang Prancis, yang bernama Gerard Grasse. Dan di minggu ini, Gerard ada terluhat di New York City.
Zhimer keluar dari ruangannya, lalu menemui Akbar, mengajaknya jalan-jalan keliling perumahaan di New York City. Akbar menerimanya, lalu mereka berjalan-jalan.
Di perumahaan menengah-atas, Zhimer melihat rumah yang tidak asing, rumah keluarga Nelson Junior. Security rumah tersebut melihat ke arah mereka dengan sangat seram. Zhimer mendekati mereka, dan meminta izin untuk masuk jikalau ada Nelson Junior. "Tidak, Nelson Junior sedang tidak ada di rumah." Ucap salah seorang security. Akbar menyuruh Zhimer pergi. "Memangnya kamu yakin bahwa pembunuhnya adalah Gerard, maksudku, bagaimana caranya Gerard bisa ke Triolia dan membunuh seseorang hanya dalam beberapa hari setelah Prancis berhasil ke sini?" Tanya Akbar.
"Aku juga tidak yakin, cara membunuhnya adalah menikam targetnya, lalu menyisakan gigitan di lengannya, jikalau begitu Prancis memiliki teknologi untuk menelusuri identitas seseorang hanya dengan dna atau sidik jari, kita saja masih tidak tahu apa itu dna." Balas Zhimer.
"Maka dari itu, tidak mungkin Ia beresiko melakukannya, apalagi kalau dia orang Prancis." Lanjut Zhimer. "Apa motifnya?"
Zhimer dan Akbar masih kebingungan, yang telah diyakini dibunuh oleh States Killer ada 3 orang, yang masih dicurigai sebagai korbannya ada 11. Dari 3 yang dikonfirmasi, mereka memiliki ciri-ciri berbadan besar karena otot, banyak bulu di tubuhnya, seperti rambut, kumis, jenggot, bulu dada sampai perut, dan sejenisnya. Kemungkinan States Killer membenci orang-orang seperti itu, tapi ya, belum ketahuan bencinya karena apa.
Mereka memasuki ke perumahan yang lumayan kumuh. Banyak anak-anak bermain di jalanan yang hanya muat 4 orang berjejer dari kanan ke kiri. Akbar berkata, "Rumahku dulu tempatnya seperti ini, sempit, karena tempat seperti ini biasanya dekat dengan pusat kota, untung dulu aku dekat sungai, masih ada lapangan, taman." Zhimer melihat ke sekelilingnya, lalu Ia bertemu dengan seseorang yang sedang mabuk. Ia berkata bahwa ada orang yang mengejarnya, badannya "sempurna", lelaki berambut pirang, berkulit putih, tinggi, kurus lumayan berisi, lengannya besar, kakinya seperti atlet, matanya biru muda. Tiba-tiba pria tersebut tertembak di kepala dengan peluru modern buatan Prancis. Mereka mencari arah peluru tersebut. Lalu tembakan selanjutnya ditembak. "Gerard!", teriak Zhimer.
Gerard lalu kabur dari tempat tersebut.
Zhimer dan Akbar menembakkan tracker mereka ke punggung Gerard, berharap Gerard pergi ke tempat persembunyiannya.
YOU ARE READING
Kambing Ungu: The Police
Non-FictionBeberapa bulan setelah peristiwa di "Kambing Ungu: Overthrown Revelation (Part 1)", kelompok Police Commonwealth mengubah namanya menjadi The Police dengan tujuan agar lebih membaur dengan polisi lain. Sembari menyelesaikan misteri kasus orang-orang...
