Mimpi Itu Lagi

19 0 0
                                        

Suara gemericik hujan pagi ini terdengar sangat deras. Angin bertiup dengan kencang, membawa aroma tanah yang segar, membuat udara pagi ini sangat dingin. Tetapi, pagi ini Kyra harus sekolah. Dan aktivitas paginya dimulai dengan sarapan bersama keluarganya.


"Aku sudah selesai." Sembari membawa piring bekas sarapan ke dapur dan mencucinya.

"Ayo berangkat."

"Ayo." Ucap ayahnya seraya tersenyum.


Setelah keluar Kyra dan ayahnya menaiki mobil. Dia menurunkan jendela mobil sambil melambaikan tangan kepada ibunya, dia buru-buru masuk kembali karena takut bajunya basah. Diperjalanan, sang ayah bertanya kepada sang anak.


"Nak, mau hadiah apa dari ayah?"

"Hadiah apa ya?"

"Memangnya kamu mau hadiah apa?"

"Bagaimana kalau berlibur sambil melihat bintang bersama?"

"Baiklah...." Ujar sang ayah seraya mengelus kepala anaknya.


TINN TIN TINNNN


BRAKKK


"Hahh hahh hhah, mimpi itu lagi." Matanya terbuka dengan napas yang tersengal-sengal.


Tak lama suara ponselnya berbunyi, Kyra bangun dengan malas dan mengambil ponselnya di atas nakas.


"Hmm..."

"Sial! aku terlambat!"


Ia melompat dari tempat tidur dan bergegas mandi. Dia mengambil kunci motor dan ponselnya, lalu turun kebawah.


"Aku berangkat!" dengan tergesa-gesa.

"Non, ayo sarapan dulu." Ucap bibi Siti dengan sedikit berteriak.

"Enggak bi aku sudah terlambat." Ucapnya sembari melihat pintu kamar ibunya dan berlari menuju garasi.

"Aku berangkat." Ucapnya lagi.


Dalam perjalanan ke kampus, dia mempercepat membawa motornya. Untungnya hari ini tidak macet, kalau macet habislah dia. Di kampus, dia memarkirkan motornya dan bergegas lari menuju ruang kelas.


"Semoga enggak telat." Seraya melihat jam tangannya sambil menaiki tangga menuju ruang kelas.


Sesampainya didepan kelas, dia mengetuk dan membuka pintu dengan ragu dan khawatir.


"Permisi." Membuka pintu dengan mata tertutup.

'Loh? kok sepi?' Pikirnya.

"Ngapain lo? enggak masuk?" Ujar Keisya terkekeh.

"Loh? Bapak nya mana? Enggak jadi masuk?" Ucapnya bertubi-tubi.

"Wih wih wih tenang tenang, mata kuliah kita di tunda 1 jam." Ujar Diki.

"Huft, enggak apa-apa deh dari pada telat." Ucapnya sambil mencari kursi untuk duduk.

Jejak Kaki dalam HarapanDes histoires addictives. Découvrez maintenant