Mata Ken berkunang kunang, ia mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke pupil matanya. Seluruh tubuhnya sakit akibat luka lebam di mana mana, Ken tersadar bahunya terasa sedikit basah, ada seseorang yang memadamkan wajahnya di bahu cowok itu, dengan lembut Ken mencoba mengelus puncak kepala gadis itu.
"Abang gapapa Lyra, jangan nangis abang gasuka."
Tangan rapuhnya mengusap kepala adik perempuannya seraya pikirannya beradu hebat.
"Lagi ya?," tampilan ekspresi muak tertera di wajah cowok itu.
*6 tahun silam
PRANGG!!
"Dasar wanita ga becus!!masakan macam apa ini hah?!?kamu mau meracuni saya?!emang sepantasnya jalang seperti kamu mesti saya beri pelajaran!!," Teriak Reno
Pemandangan kacau seperti ini sudah menjadi makanan sehari hari bagi anak cowok berusia 12 tahun itu, dia dengan telaten akan memeluk dan mendekap telinga ke 2 saudaranya berharap mengurangi rasa trauma dan takut pada adik adiknya, lalu bagaimana dengan dirinya?Ken hanya bisa bertahan dan bertahan.Sedari kecil mentalnya terus di koyak oleh Reno dan Nafisha.Kedua orang tua nya sendiri, tidak.Bahkan Ken tidak sudi menyebut mereka sebagai orang tuanya.Pasangan yang seharusnya membimbingnya dengan kasih sayang, namun mereka hanyalah neraka bagi seorang Aiken.
"Abang, Lyra laper..," gumam Lyra, adik perempuan Ken.
Hanya gumaman kecil, namun sang kakak mampu memahami kata katanya.
Suara kebisingan tadi kini mulai mereda, Ken beranjak berdiri menuju dapur untuk mengambil makanan yang ada.
Bukan pemandangan yang mengejutkan, Ken melihat ibunya duduk termenung di dapur dengan kondisi yang kacau, rambut terurai berantakan, luka lebam di pipinya, dan piring pecah berceceran.Ken hanya bisa melihatnya dengan tatapan hambar, seraya angkat bicara pada ibunya.
"Ada kotak obat di lemari kamar Ken, jika ingin ambil saja, Lyra lapar, Ken cuma ingin mengambil alih tugas ibu," kata kata sarkas, Ken lontarkan untuk Nafisha.
Ken segera memberi makanan dari dapur untuk dirinya dan adik adiknya, suapan telaten dia berikan pada adik bungsunya, usianya masih sangat muda sekitar 5 tahun dan Seano adik pertama laki lakinya berusia satu tahun lebih muda dari Ken.Setelah selesai menyuapi adik bungsunya,Ken mengantarkan mereka ke atas tempat tidur untuk merebahkan badan mereka, Ken dengan lembut menyeka dahi mereka agar cepat tertidur
***
Ken menatapi buku buku pelajaran yang tertumpuk dengan serius, satu persatu essay telah ia selesaikan dengan telaten, Nafisha mendampingi putranya itu untuk belajar, bukan untuk membimbing namun hanya mengawasi, Nafisha bukanlah sosok ibu yang baik bagi Aiken, wanita itu hanya sibuk melimpahkan keegoisan pada dirinya, Aiken terus di tuntut untuk menjadi anak yang berguna di masa depan, tentu saja itu bukan hal yang berlebihan, tetapi cara Nafisha menuntut Aiken yang terlalu berlebihan.Di sebuah keluarga yang hancur itu bukanlah hal yang aneh, anak hanya dijadikan pion mainan bagi orang tuanya.
Pukul 01.00 dini hari, Nafisha tak kunjung beranjak dari tempat duduknya untuk mengawasi Ken.Suara berdenging terdengar di kepala cowok itu, kepala Ken rasanya hampir pecah, matanya sudah tak kuat menahan rasa capek yang ia rasakan, tubuhnya benar benar mulai lemas.
Tes tes
Cairan merah amis mulai menetes dari hidung Ken, mengotori beberapa bagian buku miliknya, ia sesegara mengambil tisu dan mengusapnya secara perlahan.Ini menyakitkan,namun perasaan lega telah menyelubungi hati Ken, pertanda ibunya akan mengizinkan dia untuk beristirahat.Setidaknya Ken harus bermimis atau sampai batas kesadarannya.
Nafisha angkat bicara, "Percayalah nak, Ibu melakukan ini untuk kebaikan kamu, ibu dan adikmu di masa depan, kamu tidak mau kan hidup kita terus di setir oleh ayahmu itu?kamu harus membalas nya dengan sepadan.Baiklah,segera bersih bersih diri lalu langsung tidur."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ocean Pain
Short Story"ku harap hamparan lautan itu mau mendekap tubuh yang rapuh ini." Ketika seorang Aiken Narenka tak lagi mampu berbuat selain hanya bertahan. Saat tak ada lagi sesuatu yang dapat ia lakukan selain bersabar. Hingga ken tau, semua itu hanyalah sebuah k...
