Di sebuah resto mewah yang berkilauan di bawah cahaya lampu gantung, suasana malam dipenuhi oleh suara lembut piano dan nyanyian merdu Ava Elizabeth. William Michael duduk di sudut ruangan, matanya terpaku pada sosok wanita yang membuatnya terpesona. Setiap kali Ava menyanyi, ia merasa seperti terhipnotis, tidak bisa berpaling meskipun ia tahu bahwa rasa ini sudah melampaui batas.
"Sore ini, lagu yang akan saya bawakan adalah tentang cinta yang tak terbalas," kata Ava, memandang penonton dengan senyuman yang menawan. "Semoga kalian menikmati."
William merasakan denyut jantungnya meningkat. Ia ingin menghampiri Ava, menyatakan perasaannya, tetapi ia tahu bahwa keinginannya sudah lebih dari sekadar rasa suka. Dalam benaknya, Ava adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat hidupnya berarti. Namun, ketertarikan yang berlebihan ini mulai menuntunnya pada jalan yang kelam.
Saat pertunjukan selesai, William berdiri, berniat untuk mendekati Ava. Tetapi sebelum ia melangkah, sebuah suara menghentikannya.
"William! Kau di sini lagi?" tanya Sarah, teman lama William yang kebetulan datang.
"Ya, aku... suka musiknya," jawab William, masih tidak bisa melepaskan pandangannya dari Ava yang kini tengah berbincang dengan seorang pengunjung.
"Sepertinya kau perlu lebih berani. Ayo, ajak bicara!" Sarah mendorongnya, tetapi William hanya menggelengkan kepala.
"Saya tidak yakin, Sarah. Dia... dia sudah terlalu jauh."
"Jangan bilang begitu! Kamu pantas untuk bahagia. Dia mungkin bisa jadi milikmu jika kau berusaha," ujarnya dengan penuh semangat.
William berbalik, menatap Sarah. "Tapi dia tidak tahu aku ada. Bagaimana mungkin seseorang sepertinya mau tahu tentang seseorang sepertiku?"
Sarah menghela napas, "Coba saja, William. Jangan biarkan kesempatan ini lewat begitu saja."
Dengan dorongan dari Sarah, William mengumpulkan keberanian. Ia melangkah ke arah Ava yang kini tengah bercanda dengan seorang pria bertubuh kekar yang tampak seperti penggemar setia.
"Selamat malam, Ava," katanya, berusaha terdengar santai meski jantungnya berdebar.
Ava menoleh, senyumnya merekah. "Oh, selamat datang! Terima kasih telah datang lagi."
"Aku... aku sangat menyukai lagu-lagumu. Suara dan liriknya begitu menyentuh," William berusaha berbicara dengan percaya diri.
"Terima kasih! Itu sangat berarti bagiku," Ava menjawab, tetapi pria di sampingnya menyela.
"Dia memang hebat. Tak ada yang seperti dia di kota ini," kata pria itu, menatap William dengan skeptis.
William merasa sedikit terintimidasi, tetapi ia tidak mau mundur. "Aku hanya... ingin tahu lebih banyak tentangmu, Ava. Mungkin kita bisa berbincang lebih jauh?"
Ava tersenyum, tetapi ada keraguan di matanya. "Aku baru saja menyelesaikan pertunjukan. Mungkin lain kali?"
William merasakan jantungnya terjatuh. "Tentu, aku mengerti. Sampai jumpa."
Dia kembali ke tempat duduknya, memikirkan setiap kata yang diucapkan Ava. Dalam sekejap, gelombang emosi memenuhi hatinya—harapan bercampur rasa putus asa. Ia tidak bisa membiarkan ini berakhir. Ia harus memiliki Ava, tidak peduli dengan cara apa pun.
Beberapa malam kemudian, ketika William datang kembali ke resto, ia melihat Ava tengah berbincang dengan pria yang sama. Rasa cemburu membakar hatinya. Pria itu tampak terlalu dekat, terlalu akrab. William merasa kemarahan meluap, mengubah rasa cintanya menjadi obsesi yang berbahaya.
"Ava, bolehkah aku berbicara denganmu sebentar?" William memanggil saat Ava tampak siap meninggalkan panggung.
Ava tersenyum, tetapi kali ini ia tampak lebih berhati-hati. "Tentu, William. Ada yang ingin kau bicarakan?"
William merasakan ketegangan di udara. "Aku hanya ingin... mengingatkanmu bahwa aku ada untukmu. Kau tidak perlu dekat dengan orang itu."
Ava mengerutkan kening, "William, dia hanyalah teman. Kita semua di sini untuk menikmati musik."
"Teman?" William menekankan, nada suaranya meninggi. "Dia lebih dari sekadar teman. Dia menginginkanmu."
Ava tampak terkejut, "William, kamu tidak bisa berpikir seperti itu. Itu tidak adil."
"Adil? Tidak ada yang adil ketika itu menyangkutmu! Aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu kita," jawab William, suaranya bergetar dengan emosi.
Ava mundur sedikit, terlihat ketakutan. "William, kamu mulai membuatku merasa tidak nyaman."
Sebuah kilasan kegelapan melintas di mata William. Ia tahu ia harus mengubah segalanya—apa pun yang diperlukan untuk membuat Ava melihatnya, untuk membuktikan bahwa cinta yang ia tawarkan lebih kuat daripada yang lain. “Ava, tunggu. Aku hanya ingin melindungimu.”
“Melindungi? Dari siapa?” Ava bertanya dengan nada skeptis.
“Dari diriku sendiri,” bisiknya, dan saat itu, ia menyadari bahwa kegelapan dalam dirinya telah mulai mengambil alih. Ia harus mencari cara untuk membebaskan Ava dari rasa takutnya, meskipun itu berarti ia harus mengabaikan batasan moralnya.
Dalam hatinya, William berjanji, "Aku akan melakukan apa saja untuk membuatmu menjadi milikku."
Perasaan itu menggerakkan langkahnya menuju kegelapan, dan ia tidak tahu bagaimana cara kembali. Ava Elizabeth, dengan semua pesonanya, telah mengikatnya dalam jaring cinta yang berbahaya.
YOU ARE READING
Crazy Obsession!
RomanceWilliam Michael adalah seorang pria tampan yang berusaha mati-matian untuk memenangkan hati Ava Elizabeth, seorang penyanyi di sebuah resto mewah yang ia sering kunjungi. Namun, keinginan William yang tidak wajar untuk memiliki Ava memasukinya ke da...
