Prolog

22 4 0
                                        

"What hurts more: losing him once, or seeing him again like he never died?"

────୨ৎ────

"There's no fucking way..." gumam seorang gadis, matanya terpaku pada sosok pria jangkung yang baru saja duduk di bangku taman sekolah. Jantungnya berdetak tak karuan, dan air matanya yang sejak tadi ia tahan, akhirnya menyerah juga, mengalir membasahi pipinya tanpa aba-aba.

Ia terus menatap pria itu, tak peduli meski pandangannya mulai kabur karena air mata. Isakannya pelan, tapi cukup membuat pria yang ia tatap mulai menyadari keberadaannya. Pria itu menoleh sekilas ke arahnya, dahinya mengernyit, matanya tampak heran. Kenapa cewek itu menangis? Apa-apaan?

Terkejut karena tatapan itu, gadis tersebut buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah pohon rindang di atasnya. Tangannya sigap menghapus air mata di pipi, berusaha seolah tak terjadi apa-apa. Sementara itu, pria tadi kembali tenggelam dalam bukunya, seperti tak pernah terjadi sesuatu.

Tak lama kemudian, seorang lelaki lain berlari mendekatinya.
"Jaquelle!" serunya.

Pria yang duduk membaca buku itu sontak menegang. Ia mengenal nama itu.

Jaquelle menoleh. Wajahnya masih menyimpan sisa kebingungan dan syok.

"Jaquelle!"

"Lo ngapain di sini? I thought you just went to class, tapi pas gue nyari, lo gak ada. Literally semua tempat gue cari, ini tempat terakhir, untung ketemu," ujar lelaki itu, Dean.

Namun, Jaquelle masih sibuk memproses apa yang baru saja ia lihat. Siapa tadi? Itu... Jo? Tidak mungkin. Jo sudah meninggal dua tahun lalu. Tapi… wajahnya. Caranya duduk. Bahkan buku yang dipegangnya.

Semua terasa terlalu akrab.

Pikiran itu membuat kepalanya berdenyut. Ia menunduk, memejamkan mata, lalu perlahan berjongkok.

Dean ikut panik. "You good?" tanyanya pelan.

Jaquelle menggeleng pelan. "I'm not sure..." bisiknya.

Ia menunjuk ke arah pria tadi.
"Dean, do you see him?" suaranya sedikit gemetar. Dean mengikut arah tunjuknya. "Dean, you're seeing him too, right? Itu Jo, Dean. That's him. That's really him!" Nada suaranya naik. Air matanya pun kembali mengalir.

Dean terdiam. Matanya membelalak saat mengenali sosok itu.
"You must be kidding me..." desisnya. Jantungnya berdebar keras, seolah tubuhnya menolak percaya apa yang sedang dilihat.

Jo? Itu Jo?

Dua tahun sejak kepergiannya, dan kini, ia duduk di taman sekolah, tenang, membaca buku.

Mustahil.

Jaquelle menyeka wajahnya kasar. "Dean, I need to talk to him."

“Elle, jangan... Jo's gone..,” kata Dean perlahan, mencoba membawa Jaquelle kembali ke kenyataan.

“Tapi lo lihat dia juga, kan?” suara Jaquelle meninggi. “Lo juga lihat dia, Dean! It wasn't just me!”

Dean menatap pria itu sekali lagi, lalu kembali pada Jaquelle. “Mungkin cuma orang yang mirip.”

“Mirip?” Jaquelle tertawa pendek, nyaris putus asa. “Semua detail di dia tuh Jo. His hair, the way he looks, the way he sits, that's him."

Dean menghela napas panjang. "Come on, let’s go back to class. We can talk about this later, okay?"

Ia mencoba menarik tangan Jaquelle, tapi gadis itu tak bergeming. Kakinya seperti terpaku di tempat. Ia masih menatap ke arah pria itu, tatapannya kosong, penuh sesuatu yang bahkan ia sendiri belum bisa pahami.

Dean menghela napas lagi, kali ini lebih berat. Ia menunduk, lalu meletakkan kedua tangannya di bahu Jaquelle, mencoba menggiringnya perlahan.

Dari kejauhan, pria di bangku taman itu menoleh lagi. Ia memperhatikan keduanya yang mulai menjauh. Jemarinya mengepal di atas buku yang sejak tadi tak lagi ia baca. Ada dorongan untuk berdiri, untuk mengejar, untuk berkata sesuatu. Tapi kakinya menolak. Rasa yang bertahun-tahun terkubur, kini kembali. Mendesak. Menyiksa. Tapi ia hanya bisa diam.

Hatinya tahu, pertemuan ini tak akan berhenti di sini.
________

Fair Pair.
Julukan yang dulu terdengar manis, kini terasa seperti ironi.

Tapi siapa yang tahu?
Mungkin semesta sedang menyiapkan bab berikutnya.
Mungkin ini bukan akhir.
Mungkin mereka akan bertemu lagi.
Entah sebagai orang yang sama, atau... sebagai versi baru dari diri mereka yang dulu.

———

Hola! Aku baru aja nulis cerita setelah memikirkan ide sekian lamanya. Aku sebenernya udah drafting dari tahun lalu, tapi baru sempet publish sekarang hehe :p. Aku harap kalian suka ya! Karena ini pertama kali aku buat cerita, bener bener gak ada pengalaman sama sekali 🥲. Mohon dukungannya ya supaya aku makin semangat buat lanjutin cerita ini, hehe :O Sorry if there are some typos guysss.

Fair Pair | Yang JungwonWhere stories live. Discover now