Di tempat aku tinggal, hutan bergoyang
Dan atap mengikis langit
Dan aliran airnya ganas
Dan badai ... saljunya badai
Dan serigala ada di depan pintu kita
Dan semua anak memahaminya
Kami dengar teriakan New York dan perahu Seine
Aku akan pergi bersamamu
Kau akan jadi bangsaku
•
Sudah lama kau menyadari, lama kau mengamati.
Kalau dilihat dari sini, sudut gelap itu memang tengah bersenandung, lirihannya menakutkan.
Makin diperhatikan, akan muncul siluet janggal sebagaimana otakmu melihatnya di film-film horor.
Yang ada di situ bukan bayangan menjulang hitam. Bukan juga sepasang mata putih menyeramkan.
Biasanya hanya tangan muncul dari kegelapan itu. Ruas jari mirip ranting, menyapa setiap sepertiga malam.
Lalu intensitasnya meningkat. Perlahan rangka tangan merayap dan karena terkejut, kau membungkus semua tubuhmu ke dalam selimut, bernapas panik. Selimut tebal ini memanggangmu bagai dalam oven, napas terasa sempit, pengap, suara menjerit tertahan.
Kau akan begitu sampai terlelap, dan esok paginya kau bangun dengan baju yang basah. Kau anggap semalam itu mimpi buruk.
Orang tuamu mendengar ceritamu setengah minat. Sibuk membaca koran atau menyiapkan sarapan juga bekal sekolahmu. Apabila ayahmu tidak menanggapi, ibumu yang datang setiap akhir pekan itu akan berkata, "Hanya mimpi buruk."
Kata-kata yang sama dengan pemikiranmu.
Jadi ketika malam-malam berikutnya kau mengalami hal serupa dengan sedikit variasi, kau berusaha menganggap sesuatu yang merayap di langit-langit itu mimpi buruk.
Kau anggap itu sesuatu yang tidak nyata ketika kepalanya berputar dan melihatmu dengan masing-masing mata berpencar.
Atau saat tangan panjang itu tergantikan dengan lidah yang keluar dari mulut bergerigi kuning. Hitam, berlendir. Tetesan liur kental menimpa dahimu.
Ah, ini terasa nyata, pikirmu. Kau menyeka cairan itu dan tak sengaja mendapati aromanyaㅡ
Sebentar ....
Kau berhenti mengusap dahi, di situㅡdi situ, kau sadar, air liur yang berbau bangkai ikan bukan mimpi buruk.
Ketika kau lihat lagi sudut gelap di sana, segalanya menghilang. Tapi aroma itu masih ada hingga kau remaja. Masih tertinggal di dalam hati dan pikiran. Memberikanmu rasa trauma mendalam. Kau tidak pernah menyentuh makanan laut maupun mengunjungi pasar ikan. Seolah kau dikutuk olehnya.
Kau menjalani hidupmu dengan normal. Meski pertanyaan bagaimana menyingkirkannya selalu ada, kau tidak berniat mengunjungi psikiater atau kuil, pendeta atau biksu. Kau bertekad untuk memendamnya.
Sampai temanmu yang selalu kau pikir setengah bodoh itu berceletuk begini:
"Sesuatu yang berlendir dan berbau bangkai ikan itu, bagaimana bisa kau mengabaikannya begitu lama?"
KAMU SEDANG MEMBACA
SONO VERI
FantasiDi penghujung jalan itu, Wine masih menunggu. Ketika ditanya apa yang ditunggu, begini jawabnya, "Bisa orang, bisa arwah." ( slow update )
