Awal dari Semuanya

78 5 17
                                        

Waktu itu cuaca sedang mendung. Walau begitu ia tak merasa cemas dan tetap melanjutkan permainan gitarnya di taman.

Orang-orang yang melihat dari kejauhan pun mulai berdatangan menghampiri nya, dan tak sedikit dari mereka memberi tip.

Selang beberapa menit setelah bermain, dia pun mengemasi tas dan gitar nya, juga mengambil topi yang telah diisi oleh uang, lalu pergi dari taman itu.

Namun saat berjalan, terdapat rintik hujan yang berjatuhan secara perlahan yang membuat lelaki itu mempercepat langkah.

Dengan nafas terputus-putus sembari mencari tempat berteduh, matanya tertuju pada satu kuil.

Saat memasuki kuil ia buru-buru meletakkan case gitar beserta tas. Sialnya terdapat burung yang bertengger di pundaknya lalu pergi dengan cepat meninggalkan benda berharga

Berupa feses.

Lelaki itu tersenyum lembut, sembari membersihkan feses yang menempel pada kaos kesayangannya.

"Damn," walau kesal ia tak mempunyai keberanian untuk mengumpat.

Selesai membersihkan kotoran yang berada di bajunya, ia melihat sekitar kuil. Disana terdapat banyak pohon bodhi, saat melihat kebelakang, terdapat patung yang dihiasi oleh bunga dan dupa.

Lelaki itu perlahan mendekati patung sembari menginspeksi, ia pun berlutut dan mengepal kan tangannya dengan erat.

Ia berharap bisa menjalani kehidupan ini dengan lebih khidmat dan dilimpahi rezeki.

(Laki - laki yang sedang berdoa itu bernama Han, mahasiswa jurusan pendidikan seni musik.)

Tak mengheran jika orang selalu mengingat Tuhannya ketika mereka sedang berada di masa - masa sulit, maupun hanya sekedar untuk meminta hal - hal yang diinginkan.

Seusai berdoa dia berdiri dan berjalan mundur lalu membungkuk kan badannya di hadapan patung itu, lalu duduk menunggu hingga hujan mereda.

(; ̄^ ̄)ん~

Walau sudah berdoa dengan sungguh - sungguh tak ada tanda bahwa akan ada hari yang menurutnya tenang, bahkan sebulan pun t'lah berlalu begitu saja.

Semakin lama menunggu, semakin lelah juga berharap.

"Gini amat jadi mahasiswa"

Saat merapikan kamarnya yang terlihat seperti kapal pecah, ia teringat akan tugasnya yang perlu di selesaikan. Sungguh malang sekali nasibnya, ia harus menyelesaikan tugas sesegera mungkin karena waktu tenggatnya Minggu depan.

"Ya sudahlah mau bagaimana lagi. Aku tetap harus mengerjakan tugas walau malas"

Lantas ia bergegas mengenakan pakaian hangat serta jaket, lalu pergi keluar ke toko buku terdekat. Tentu tak lupa mengunci kamarnya terlebih dahulu.

Saat keluar dari kamarnya yang sempit, ia merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya. Tak seharusnya musim autum sedingin ini, namun sebelum ia bisa berfikir terdapat tangan yang memegang pundaknya, rupanya hawa yang ia rasakan berasal dari ibu kos yang sejak awal berada di belakangnya.

"Ah nak Han pas sekali, ini ibumu mengirimkan sesuatu" ucap ibu kos sembari menyodorkan paket.

"Terimakasih tante," meski awalnya skeptis akan dimintai uang bulanan, tapi disisi lain optimistis karena rajin membayar uang bulanan.

(Trust issue akwokao)

(⁠⁠╹⁠▽⁠╹⁠⁠)

Berjalan dan berjalan terus, angin selalu berada di sisinya untuk mengacak penampilannya walau begitu ia tetap optimistis dan pede akan penampilannya.

Yang pada akhirnya sampai di tujuan awal, yaitu menuju toko buku.

Saat memasuki toko tersebut, Han disambut oleh temannya.

"Oi ma friend," ucap pegawai disana

"Yooo, lama gak ketemu!"

"Tumben ke sini, mau nyari buku apa Han?"

"Buku teori musik sih, buat tugas"

"Btw, tolong cariin The Complete Musician bukunya si Steven Laitz dong.. kalau ada hehe"

"Sans ku cariin"

Setelah berbincang, Han menunggu sembari bermain ponsel. Akan tetapi dia merasa ada yang menyentuh punggungnya.

Terkejut, dia pun memalingkan wajahnya ke belakang dan di situlah ia melihat laki laki yang menatap dengan hangat kepadanya, tak hanya bibirnya yang tersenyum kedua mata pun ikut tersenyum.

"Kurasa kau sedang mencari buku ini?" Ucapnya

"Ah iya, sesuai apa yang aku cari"

Terdapat hawa canggung diantara mereka berdua

"Kau tau apa, aku tak butuh ini" Ujar Han

"Huh, lalu apa yang kau butuhkan?"

"Nomor telepon mu"

Mata lelaki itu langsung terbelalak mendengar ucapan yang Han lontarkan.

Han yang baru tersadar, dengan cepat langsung berlari keluar dari toko buku tanpa menoleh.

Sayangnya, dia hanya bisa melihat Han pergi dari pandangannya.

"dasar" sembari mengeluarkan tawa kecil.

Saat pegawai yang sebelumnya dimintai tolong datang, ia melihat ke arah pintu dengan tatapan bingung.

"aduh tu bocah kabur, btw kamu kenal dia Lee?"

"Enggak sih, tapi aku tak sabar ngeliat dia lagi "

"Ye kumat juga suka ama twink," pegawai itu menahan ketawa dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Auch"

(⁠┛⁠◉⁠Д⁠◉⁠)⁠┛⁠彡⁠┻⁠━⁠┻ - continue

INFO

INFO

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


-Han Ji-Sung
-20 year's old
-jurusan: seni musik
-hobby: playing guitar


--------------------------------------------

Okay y'all hit that like, comments, share, and subscribe

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Okay y'all hit that like, comments, share, and subscribe.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 26, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Until ThenWhere stories live. Discover now