Di suatu pagi yang lembut, saat bunga-bunga di taman istana baru saja mekar, lahirlah seorang bayi perempuan dengan rambut pirang keemasan yang berkilau bagai sinar mentari pertama. Matanya... ungu. Unik, langka, dan begitu memikat, seolah memantulkan langit senja yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya.
Ia diberi nama Reverie.
Sejak kecil, Reverie tumbuh menjadi putri kesayangan Kerajaan Alvania. Sifatnya lembut, tutur katanya santun, dan setiap langkahnya membawa kehangatan. Rakyat mencintainya. Para bangsawan memujanya. Bahkan para pelayan yang menemani harinya pun menyebutnya "bunga yang hidup dalam bentuk manusia."
Namun, tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya yang lembut, takdir telah menunggu dalam diam.
Tepat di usianya yang kesembilan belas tahun, kabar itu datang-tanpa peringatan.
Ia... dijodohkan.
"Untuk perdamaian," ucap Ayahandanya, Raja Alvania, dengan suara berat yang menyimpan beban besar.
Sang calon suami bukanlah pangeran dari selatan. Bukan juga bangsawan dari timur. Ia adalah Duke Luke Handwik, penguasa wilayah utara yang misterius. Seorang pria yang jarang terlihat di hadapan umum.
Konon, ia hidup menyendiri, jauh dari ibu kota, dan... terkutuk.
Mereka bilang wajahnya mengerikan. Mereka bilang ia menyembunyikan dirinya di balik topeng hitam yang tak pernah dilepaskan.
Mereka bilang... ia bukan manusia seutuhnya.
Namun tidak ada yang pernah melihatnya secara langsung.
Dan hingga hari itu tiba-hari pernikahan yang ditentukan oleh kerajaan-, Reverie hanya bisa diam di dalam keretanya, jantungnya berdebar tidak menentu, sementara pemandangan sekitar mulai berubah.
Langit menjadi lebih gelap. Udara mulai dingin. Salju tipis menyelimuti tanah.
Dan di hadapannya, perlahan muncul siluet istana megah berwarna kelam, berdiri kokoh di atas perbukitan tinggi yang diselimuti kabut putih. Gerbangnya menjulang, menebarkan kesan dingin dan sunyi. Pilar-pilarnya tinggi dan hitam berkilau. Atapnya menjulang seperti tanduk-tanduk tajam yang menjangkau langit kelabu. Tapi justru karena itu, istana tersebut terasa indah dalam cara yang menyeramkan.
Istana milik Duke Luke Handwik. Tempat ia akan tinggal mulai hari ini.
Saat kereta berhenti dan pintu dibuka, Reverie menahan napas.
Langkah pertamanya turun ke salju terasa sangat berat.
Hingga dari kejauhan, sosok itu muncul.
Tinggi. Tegap. Mengenakan mantel hitam yang panjang, rambutnya gelap dan sedikit berantakan ditiup angin utara. Ia berjalan perlahan, penuh wibawa... dan di sisi kiri wajahnya, sebuah topeng hitam menutupi separuhnya, meninggalkan kesan misterius sekaligus dingin.
Itulah pertama kalinya Reverie menatap mata suaminya.
Dan untuk alasan yang tak dapat ia jelaskan, ia tidak melihat monster di sana.
Ia melihat... kesedihan.
Singkat cerita...., setelah sampai di kediaman Utara, Reverie mengikuti langkah pelayan wanita berpakaian gelap yang membawanya masuk ke dalam istana. Dinding-dinding tinggi dari batu abu tua, lantai marmer yang dingin, dan langit-langit bergaya gotik memberi kesan seolah ia sedang berjalan di dalam lukisan lama yang hidup. Sunyi. Terlalu sunyi.
Tak ada sambutan. Tak ada pesta. Bahkan bunga pun tak terlihat di ruang utama.
Seolah kedatangannya hanya formalitas. Bukan penyatuan dua kerajaan.
Di ujung ruangan, Duke Luke berdiri membelakanginya, menatap api yang membara di perapian besar. Mantelnya masih menempel sempurna di tubuh tinggi tegapnya, dan topeng hitam itu tetap tak bergeming di sisi wajah kirinya.
"Putri Alvania telah tiba, Yang Mulia," ucap pelayan dengan membungkuk dalam.
Luke menoleh perlahan. Mata tajamnya mengarah tepat pada Reverie. Tak ada senyum. Tak ada sapaan.
"Ruanganmu sudah disiapkan," ucap Luke akhirnya, suaranya rendah dan datar.
Hening. Tidak ada 'selamat datang'. Tidak juga 'senang bertemu denganmu'.
Reverie menunduk pelan. "Terima kasih, Yang Mulia."
Luke menoleh lagi ke arah api, seolah tak tertarik melanjutkan percakapan. Tapi sebelum pelayan membawa Reverie pergi, ia berbicara tanpa melihat.
"Mulai besok, kau bebas berkegiatan selama tidak melanggar batas-batas wilayah pribadi."
Reverie mengangkat wajahnya pelan. "Dan... kita?"
Luke diam sejenak.
"Kita sudah menikah. Itu cukup," jawabnya pelan, dingin, namun tidak kasar.
Hati Reverie terasa mengerut. Ia mengangguk pelan, lalu mengikuti pelayan keluar dari ruangan itu-tanpa menoleh kembali pada pria yang kini sah menjadi suaminya.
___
Malam pertama di kamar barunya terasa asing. Kamar itu besar, penuh perabotan mahal, namun tidak ada satu pun sentuhan kehangatan. Tak ada pot bunga, tak ada lukisan. Seolah tidak pernah ditinggali.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap langit dari balik jendela tinggi berbingkai besi hitam.
Ia belum menangis. Tapi... rasanya seperti dikhianati oleh dunia yang dulu selalu menyayanginya.
Apakah seperti ini rasanya... menjadi istri dari pria yang tak mengenal cinta?
Namun entah kenapa, dalam hatinya-ia ingin tahu.
Apa yang disembunyikan pria bertopeng itu?
Dan... mengapa saat mata mereka bertemu tadi, ia merasa seperti melihat seseorang yang lebih kesepian dari siapa pun yang pernah ia temui?
TO be continued..
KAMU SEDANG MEMBACA
𝙈𝙮 𝙝𝙖𝙣𝙙𝙨𝙤𝙢𝙚 𝙢𝙤𝙣𝙨𝙩𝙚𝙧
Fantasy👀baca doang?? jangan lupa vote dan ikuti author yaa~❤️ 🌒Dijodohkan dengan monster dari utara adalah kutukan... atau justru takdir?" Putri Reverie terpaksa menikah demi perdamaian kerajaan. Tapi suaminya, Duke Luke Handwik, bukan pria biasa. Ia dik...
