Perpisahan Memang Selalu Menyakitkan Tapi itu Kenyataan

28 2 0
                                        

“Hati-hati Kadiz, ntar tulang ekor lu patah” ujar salah seorang pemain skateboard kepada temanku Adi. Orang-orang terdekat memanggil Adi dengan sebutan Kadiz. Aku dan Adi menekuni bermain skateboard sudah tiga tahun lebih. Adi adalah sahabatku sejak kecil. Walaupun Adi lebih tua dari aku tiga tahun, tapi aku lebih cepat tamat sekolah daripada Adi. Setelah selesai bermain skateboard rambut Adi sudah menyentuh telinga.

“Kadiz rambut lu sudah panjang habis ini ke rumah guwe dulu pangkas rambut, biar guwe rapihkan.” ujar aku
“Boleh kawan.” Adi menjawab
“Lo mau gaya rambut apa?” aku bertanya lagi
“Biasa bogen (botak ganteng)”
Sekarang Adi sudah kelas 12 yang artinya dia akan segera tamat sekolah dan aku sudah kuliah yang akan memasuki kuliah tahun ketiga. Aku masih ingat moment ketika aku dan Adi masih kecil, kita mencari belut di sawah. Ketika itu aku dan Adi mendapatkan banyak belut dengan rasa bahagia kami berangkat ke pasar untuk menjual belut tersebut.
“Kadiz uang lu mau apain?”
“Guwe tabung kawan.”
“Ini uangnya seratus tiga puluh ribu, tiga puluh ribu kita jajanin aja gimana? Seratusnya baru lu tabung.”
“Gaskan kawan.”
“Enaknya uang tiga puluh ribu ini kita apain?”
“ gimana kalau kita main warnet ambil paket 5 (lima jam) dan pesan Indomie sama cappucino!”
“Ide bagus bro.”

Sejak kejadian itu Aku jarang melihat Adi keluar rumah ketika ku ajak pun dia tidak mau.
Tidak lama setelah itu aku mendengar kabar bahwasanya bapak Adi meninggal dunia, Aku langsung menemui sahabatku itu untuk menenangkan hatinya. Adi benar-benar mengurung dirinya di dalam rumah. Saat hatinya sudah tenang dia datang ke rumahku duduk di teras tanpa memanggil untuk keluar rumah. Aku pun keluar rumah ketika mama memanggil bahwasanya Adi sudah ada di luar.
Sambil keheranan aku bertanya
“Kadiz lu kenapa nggak manggil guwe.”
“Guwe nggak enak sama Lo Wan, soalnyo Lo kemarin-kemarin lo manggil guwe untuk keluar tapi guwe nggak mau.”
“Yaelah lu kayak nggak kenal guwe aja, habis ini kita mau ngapain?”
“Sekarangkan sudah sore gimana kalau kita pergi ke sawah melihat orang main layang-layang, siapa tau ntar kalau ada layangan putus bisa kita ambil dan ditebus sama pemiliknya”
“Ide bagus bro”

Pada saat itu Aku dan Adi langsung ke sawah melihat orang bermain layangan dengan berbagai bentuk dan berbagai ukuran. Ketika itu kejadian yang ku harapkan benar kejadian ada layang putus, aku, Adi, dan anak seumuran langsung berlari mengejar layang putus tersebut. Kita tidak peduli dengan kotornya lumpur sawah ataupun kaki masuk kedalam lumpur dengan kedalaman setinggi lutut yang penting maju terus. Pada akhirnya Adi lah yang mendapatkan layangan tersebut dan ditebus oleh sang pemilik seharga dua puluh ribu. Hasil keringat kami terbayar puas dengan baju kotor.

Kembali pada saat sekarang aku sedang di Padang, Adi berjanji akan datang ke kost ku. Dia pengen melihat saudara sepupunya yang akan dilantik menjadi polisi. Ketika awal kuliah dulu aku pernah mengajaknya pergi ke Padang menemaniku mengantarkan tugas kuliah yang dimana aku berjanji akan mengajaknya berkeliling kota Padang, tapi pada saat itu aku ingkar janji kepadanya. Karena aku langsung mengajaknya balik pulang kampung dengan membatalkan janji yang pernah ku buat.
“Kadiz maaf guwe lama banget tadi Dosennya susah untuk guwe temui.”
“Ngga apa Wan, jadi sekarang bisakah kita keliling kota Padang?”
“Sorry Kadiz kayaknya nggak bisa, soalnya sekarang sudah sore guwe takut ntar kita pulang kemalaman, lain kali aja gimana!”
“Yaudah kalau begitu kita pulang saja.”
Aku benar-benar menyesal pada diriku sendiri saat itu aku tidak menepati janji kepada sahabat ku. Di perjalanan aku mentraktir makanan sebagai bentuk minta maaf ku kepadanya. Walaupun Adi tidak mempermasalahkan tapi aku tidak merasa enak kepadanya.

Sekarang aku sedang menunggu Adi di tempat pemberhentian kendaraan umum
“Info lokasi Kadiz”
“Sedang di Bandar Buek Wan, kata pak sopirnya sekitar sepuluh menit lagi sampai.”
“Ntar kalau sudah sampai di pemberhentian kendaraan umum kabarin guwe, soalnya guwe sudah nunggu elu di persimpangan.”
“Oke Wan.”
Singkat cerita Adi akhirnya turun dari mobil membawa barangnya untuk menemui ku. Aku dan Adi langsung jalan ke kost untuk meletakkan barangnya. Di perjalanan kami banyak bercerita tentang kehidupan masing-masing kita sudah lama tidak bertemu.
“Kadiz gimana keadaan Ibuk Lo di kampung?”
“Alhamdulillah Wan sehat, lu gimana keadaan lu disini?”
“Yaaa seperti yang lu lihat sekarang guwe Alhamdulillah sehat.”
“Gimana kuliah lu, asik nggak?
“Hmmmm, asiknya guwe banyak mendapatkan relasi, pengalaman, dan ilmu. Cuma yang ngga asik tuh tugas kuliahnya berjibunnya minta ampun.”
“Seseram itukah dunia perkuliahan?”
“Ngga juga sih, asalkan lu bisa manage waktu semua bisa terselesaikan.”

Singkat cerita kami pun sampai ke kost, aku menyuruh Adi meletakkan barangnya dulu. Karena sekarang masih sore aku mengajak Adi berkeliling Padang, Aku ingin menepati janji yang pernah ku ingkari dulu. Aku berkeliling Padang bersamanya sambil menjelaskan banyak hal tentang kota ini. Pada saat magrib kami duduk di pantai sambil melihat sunset.
“Wan sudah adzan, ke Masjid yuk!”
“Ntar aja, kan lu ngga pernah lihat sunset.”
“Guwe sudah sering lihat sunset Wan, sholat lebih penting daripada sunset.”
“Emangnya dimana?”
“Di Facebook, dah cepat jalan ntar keburu ishoma.”
“Bentar guwe bayar dulu minumannya.”
Aku sudah menepati janji yang pernah ku ingkari dulu. Kami akhirnya pulang ke kost pukul sepuluh malam dan langsung tidur karena sudah kecapekan.

Besok paginya kami bergegas ke Kapolda ingin melihat sepupunya Adi pelantikan. Kami datang ke sana dengan waktu yang tepat, Adi merasa bangga karena cita-cita dari sepupunya akhirnya menjadi kenyataan. Selesai dari kami singgah dulu ke rumah makan, karena tadi pagi tidak sarapan. Kami akhirnya duduk memesan minuman dan makanan sambil berbincang.
“Kadiz beberapa hari lagi kan lu sudah mau tamat sekolah, apa rencana lu kedepannya?”
“Wan guwe mau ngomongin ini kepada lu kemarin, cuma Waktunya belum tepat.”
“Ngomong apaan asalkan bagus dan tidak merugikan elu guwe bakalan setuju.”
“Sebenarnya selesai guwe tamat sekolah guwe akan berangkat pergi ke Jambi untuk bekerja.”
Seketika aku terkejut mendengar apa yang di ucapkan.
“Serius lu”
“Dua rius malahan guwe akan berangkat bulan depan.”
“Guwe anterin Lo ya, soalnya guwe bulan depan juga sudah libur semester.”
“Ok Wan.”

Kami pun berangkat pulang kembali ke kost.Adi cuma dua hari nginap di kost ku besoknya aku langsung mengantarkannya ke transportasi umum untuk pulang ke kampung.
Di perjalanan aku merasa sedih karena akan dalam waktu yang lama sekali aku tidak akan bertemu dengan Adi. Tapi Aku juga tidak bisa melarang dia untuk pergi karena cuma dia laki-laki di keluarganya untuk saat ini.

Satu bulan pun berlalu akhirnya aku libur semester. Tidak berpikir lama Aku langsung mengemas barangku yang bisa ku bawa untuk pulang kampung. Aku rindu sekali dengan suasana kampung yang tentram, masakan ibu yang tiada lawannya, aku juga rindu dengan sahabatku. Malamnya aku sudah sampai di kampung tapi aku tidak sempat menemui sahabatku itu karena aku kecapean.
Besok paginya aku datang ke rumahnya.
“Kadiz, Kadiz, Kadiz.”
“Ehhhh Wan kapan lu sampai?”
“Tadi malam, tapi Aku tidak sempat ke tempat mu, Aku langsung saja tidur karena sudah kecapean.”
“Untung lu sudah datang, nanti sore guwe bakalan berangkat ke terminal naikin bis untuk berangkat ke Jambi.”
“Secepat itukah lu berangkatnya.”
“Yaa,  mau gimana tiga hari lagi guwe juga sudah masuk kerja.”
“Oke, oke nanti guwe akan anterin lu ke terminal.”
Akupun mengajak dia berkeliling kampung sambil bercerita mengingat masa lalu tentang masa kecil dahulu.
Tidak terasa hari menjelang sore, aku bersama keluarga Adi berangkat mengantarkan Adi ke terminal. Sebelum naik Adi menyalami Ibu dan adeknya sambil mengucapkan kalimat perpisahan. Adi juga mengucapkan kalimat perpisahan kepadaku, dengan reflek aku langsung memeluk Adi.
“Bjir, lepasin Bro, ntar kita disangka sama keluarga guwe gay.”
“Bro, guwe bakalan rindu dengan elu. Lu disana jangan berubah tetap menjadi Adi yang selama ini guwe kenal.”

Adi sambil tertawa
“lu pikir guwe Ultraman bisa berubah ya enggak lah guwe tetap bakalan menjadi Adi yang lu kenal.”
Adi akhirnya menaiki bus yang akan berangkat ke Jambi sambil tersenyum Aku melihat sahabat ku itu menaiki bus yang akan berangkat. Aku menatap bus yang dinaiki Adi sampai bus itu menghilang dari pandanganku.
“Semoga sukses di rantau sahabatku.”

Hai finito le parti pubblicate.

⏰ Ultimo aggiornamento: Sep 29, 2024 ⏰

Aggiungi questa storia alla tua Biblioteca per ricevere una notifica quando verrà pubblicata la prossima parte!

SahabatLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora