"Feeling and Scars" - Part 1

9 0 0
                                        

Hujan rintik-rintik menghiasi halaman sekolah saat Luna berjalan melewati gerbang, aroma tanah basah dan dedaunan segar mengisi paru-parunya. Dia selalu merasa bahwa hujan membawa kedamaian tersendiri, sebuah momen untuk merenung. Hari ini, dia melangkah dengan penuh semangat meskipun hatinya terasa berat, berusaha menutupi perasaan yang terpendam.

Luna adalah gadis yang ceria, dengan senyum yang mampu menghangatkan hati siapapun yang melihatnya. Namun, di balik senyumnya yang menawan, ada ribuan pikiran yang berputar. Sejak kecil, dia selalu dekat dengan Arion. Mereka berbagi rahasia, tawa, dan kenangan indah yang sulit dilupakan. Arion, dengan rambut hitam legam dan mata cokelat yang cerah, adalah sahabat sekaligus orang yang berhasil merebut hatinya.

Saat dia memasuki kelas, Luna melihat Arion sudah duduk di bangkunya, membolak-balik buku dengan wajah serius. Dia berusaha mengalihkan perhatian dari kerinduan yang mengganggu pikirannya. Sering kali, Luna merasa seolah-olah dia adalah satu-satunya yang merasakan perbedaan di antara mereka. Arion selalu ceria dan dikelilingi oleh teman-teman lainnya, tanpa menyadari bahwa hati Luna menjerit ingin diakui.

"Hey, Lun!" seru Arion, tersenyum lebar saat dia melihat Luna. Senyumnya seolah memberikan kehangatan di dalam jiwa Luna.

Dia membalas dengan senyuman yang sedikit dipaksakan, mencoba menutupi kekosongan yang menggerogoti hatinya. Di sela-sela pelajaran, Luna sering mencuri pandang ke arah Arion. Dia melihat bagaimana Arion bercanda dengan teman-temannya, tawa mereka menjadi melodi yang membuat Luna merasa seolah-olah dia tidak memiliki tempat di sana. Satu sisi hatinya sangat ingin melindungi perasaan ini, sementara sisi lainnya merasa hancur karena ketidakpastian.

Setelah pelajaran berakhir, Luna dan Arion berjalan pulang bersama. Langit mulai menggelap, dan aroma hujan mulai terasa lebih kuat. Luna berusaha mengalihkan pikirannya dari rasa sakit yang menggerogoti.

"Luna, Lo ada rencana akhir pekan ini?" tanya Arion, tanpa menoleh. Dia tersentak, berharap bisa berkata bahwa dia ingin menghabiskan waktu berdua dengannya.

"Um, belum tahu. Kenapa?" jawabnya, suara sedikit bergetar.

"Rencananya gue mau nonton film baru yang keluar. Lo mau ikut?" tawar Arion dengan penuh semangat.

Di saat itu, hati Luna meloncat penuh harapan. Namun, dia menyadari bahwa harapannya hanya akan berujung pada kekecewaan.

"oke, gue ikut. Tapi kalau ada rencana lain, gk apa-apa," jawabnya, berusaha terdengar santai.

Arion menggelengkan kepala, "Nggak, lo harus ikut. Kita harus bersenang-senang!"

Saat mereka melanjutkan langkah, Luna tersenyum dengan perasaan campur aduk. Hari-hari bersama Arion selalu menyenangkan, tapi setiap senyuman yang ia tunjukkan terasa seperti pedang yang mengiris hatinya. Dengan berjalannya waktu, dia tahu bahwa dia harus menghadapi perasaannya. Namun untuk saat ini, dia akan menjaga rahasia ini, berharap bahwa cinta tak terucap ini akan menemukan jalannya sendiri. Luna memandang langit yang mulai gelap, harapan dan rasa sakit bertabrakan dalam pikirannya. Dia tahu bahwa perjalanan ini belum berakhir, dia hanya perlu menemukan cara untuk menyampaikan apa yang ada di hatinya, tanpa merusak hubungan berharga yang telah mereka bangun.

FEELING AND SCARS Stories to obsess over. Discover now