manantang Matohari

21 5 0
                                        

Di sebuah desa terpencil terdapat sebuah rumah yang halamannya di sekat-sekat dengan kayu bambu berwarna coklat, rumah itu adalah rumah Rati, Rati tinggal bersama kedua orang tua dan adiknya yang masih berusia 3 tahun sedangkan Rati adalah siswi kelas 5 SD di sekolahnya.

Ayah Rati bernama Sodik adalah seorang buruh harian lepas, tentunya tidak ada penghasilan tetap yang diperoleh setiap harinya. Sedangkan ibunya setiap pagi membuat kue-kue yang akan di bawa Rati ke sekolah untuk di jual.

Rati selalu senang membawa kue-kue buatan ibunya ke sekolah, begitu pula teman-teman Rati yang suka membeli kue-kue Ibu Rati. Jihan satu-satunya teman dekat Rati sangat senang melihat jualan temannya itu selalu di serbu warga sekolah, walaupun terkadang juga ada yang tersisa bahkan tidak terjual, semangat Rati tidak pernah pudar untuk membantu ibunya agar mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Setiap pagi dia terbangun di kamarnya yang dindingnya dapat di tembus oleh cahaya dari luar dan di sambut hangat oleh suara bisingnya ayam di pagi hari.
“Rati apakah kau sudah bangun?” teriakan ibunya sembari menyiapkan kue-kue yang akan dibawa Rati ke sekolah.

“Tuan putri siap” jawab Rati yang selalu memanggil dirinya tuan putri ketika berada di rumah, ya walaupun bukan terlahir dari keluarga Kerajaan.

Di sekolah, Rati adalah siswi yang berprestasi tidak heran jika ia banyak di senangi oleh guru dan teman-temannya. Prestasi yang di perolehannya tidak membuat dirinya tinggi hati, dia tidak malu menawarkan guru dan teman-temannya untuk membeli kue-kue buatan ibunya.

Suatu hari ayah Rati mendapatkan pekerjaan untuk mengantarkan barang ke luar kota . Rati dan ibunya senang karena ayahnya mendapatkan pekerjaan dan tentunya juga akan membawa uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selama ayahnya pergi Rati selalu teringat dan khawatir karena ayahnya tidak ada kabar sama sekali, sudah hampir seminggu lamanya ia di tinggalkan oleh ayahnya.
“Bu kenapa ayah belum juga pulang?” tanya Rati dengan perasaan yang cemas.
“Yang sabar ya, kan ayah pergi bekerja juga untuk kita semua, doa’ kan saja ayah baik-baik saja “ jawab ibunya yang sebenarnya juga merasakan hal yang sama dengan Rati, demi kedua anaknya ibu Mala berusaha terlihat baik-baik saja.

Hari-hari Rati di jalani dengan harapan ayahnya pulang dan berkumpul lagi dengan ibu dan adiknya, sudah hampir dua Minggu akhirnya ibu Rati di kabari oleh teman ayah Rati, bahwa suaminya itu sudah dalam perjalanan pulang dari kota tempat ia mengantarkan barang. Ibu Mala sangat senang mendengar kabar tersebut dan tidak sabar untuk memberitahu Rati mengenai hal tersebut.

Sepulang sekolah Rati di sambut hangat oleh ibunya dengan penuh senyuman dan harapan yang besar karena akan kedatangan orang yang ia tunggu-tunggu.

“Ibu kenapa kelihatan sangat senang, ada apa dengan ibu?” tanya Rati dengan heran, sambil membuka sepatunya, dan meletakkan kotak bekas kue-kue yang di bawanya.
“Tadi ibu di beri tahu oleh pak Mamat kalo ayahmu sudah dalam perjalanan pulang “ jawab ibu dengan raut wajah yang bahagia.
“Apaa..? Ayah pulangg, yeyyy ayah pulang aku sudah tidak sabar menunggu ayah pasti ayah membawakan kita oleh-oleh kan Bu ? “ Rati bersorak-sorai mendapatkan kabar bahagia dari ibunya.
Saat bulan sudah mulai menampakkan diri , ayah Rati belum juga sampai di rumah perasaan cemas itu lagi-lagi menghantui pikiran Rati dan ibunya.
“Kenapa ayah belum juga pulang Bu?” tanya Rati dengan wajah kecewa.
“Kamu sebaiknya tidur dulu ya, mungkin ayah masih di perjalanan barang kali besok pagi sampai di rumah” jawab ibu yang berusaha menenangkan Rati .

Azan subuh pun berkumandang, ibu Mala segera sholat subuh dan menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue seperti biasanya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah ya g membuat Adik Rati kaget dan menangis kemudian Rati pun ikut bangun. Ternyata yang datang adalah pak Mamat teman ayah Rati.
“Ada apa pak? Subuh-subuh datang ke rumah?” tanya buk Mala
“Maaf Bu saya harus menyampaikan berita buruk , saya harap ibu bisa ikhlas ya buk” jawab pak Mamat.
“Ikhlas untuk apa pak, ada apa sebenarnya?” ujar Bu Mala dengan cemas.
“Semalam terjadi kecelakaan di JLN kenangan Bu, dan ternyata pak Sodik termasuk salah satu korban yang tewas akibat kejadian tersebut Bu” jawab pak Mamat.

Rati yang mendengar percakapan pak Mamat dengan ibunya itu langsung berlari ke arah ibunya dan menangis memeluk ibunya, dengan perasaan yang hancur Bu Mala tidak menyangka jika akan menerima berita buruk pagi itu.
Pak Mamat berusaha memenangkan situasi yang penuh duka itu, pagi itu semua warga tampak antusias berdatangan ke rumah Bu Mala, begitu juga dengan guru dan teman-teman Rati juga hadir. Sekitar pukul 09.30 wib jenazah ayah Rati sampai di rumah duka dan di semayamkan di taman pemakaman umum dekat rumah Rati.
Rati dan ibunya sangat merasakan kehilangan, ibu Rati merasa tidak kuat menjalani kehidupan tanpa seorang suami , dan harus menghidupi kedua anaknya tanpa seorang ayah. Hari-hari di lalui dengan rasa yang masih sedih akan kehilangan seseorang penting dalam hidup mereka.

Sejak saat itu, Rati yang awalnya berdagang kue-kue di sekolah kini juga harus berdagang kue-kue keliling kampung ketika sore hari, dan ibunya juga berdagang di rumah karena adiknya masih kecil . Agar dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.
Rati tidak pernah mengeluh untuk membantu ibunya berdagang. Suatu ketika , saat berkeliling sore hari Rati kehujanan di jalan dan ia tidak berteduh karena mengingat hari sudah mau magrib. Sampai di rumah Rati segera mandi air panas agar tidak masuk angin.

Tidak lama setelah ayahnya meninggal dunia, ibu Rati mengalami sakit yang membuat Rati kewalahan karena harus menjaga ibu dan adiknya , bahkan terkadang Rati juga tidak masuk sekolah. Ibu Rati meminta ibu dan adiknya Bujang untuk datang ke rumahnya agar dapat membantu Rati dalam mengurus adiknya. Setelah nenek dan pamannya datang Rati dapat kembali bersekolah karena adiknya sudah ada yang menjaga .

Semakin hari penyakit ibu Rati semakin menjadi, sehingga ibu Rati pun menghembuskan nafas terakhirnya. Rati merasa sangat sedih karena baru saja kehilangan ayahnya sekarang ibunya pun telah meninggalkan ia dan adiknya. Kini Rati tinggal bersama nenek, adik dan pamannya, pamannya yang tidak memiliki pekerjaan tentunya tidak dapat memenuhi kebutuhan Rati dan adiknya.

Rati meminta neneknya untuk membuat kue seperti yang biasa dilakukan oleh ibunya semasa hidup.
“Bu, minta uang untuk beli kopi “ ucap Bujang paman Rati
“Harusnya kau mencari pekerjaan, agar dapat membantu kebutuhan keponakan kau bukannya malah meminta” jawab nenek Rati.
Mendengar hal itu membuat Bujang merasa kesal dan marah, lalu Bujang pergi meninggalkan rumah dan tidak pulang malam itu.

Setiap pulang sekolah Rati selalu setor uang hasil dagangnya kepada nenek agar dapat di simpan untuk kebutuhan mereka. Nenek Rati merasa kasihan melihat kondisi cucunya yang harus ikut membanting tulang untuk kebutuhan hidup di usianya yang masih kecil.

Sore itu, Bujang pulang dengan wajah kesal dan penuh amarah karena ia kalah dari permainan judi. Rati yang melihat pamannya seperti orang yang mabuk merasa takut,
“Nek, paman kenapa wajahnya seperti itu” tanya Rati
“ Sudahlah, biarkan saja palingan dia kalah main judi sudah menjadi kebiasaan pamanmu seperti itu” jawab nenek

Nenek Rati terlalu memanjakan anak laki-lakinya itu, sehingga Bujang jadi kecanduan berjudi.
Sepulang sekolah Rati hendak menyetorkan uang hasil dagangnya kepada nenek tetapi, Rati tidak melihat neneknya di rumah.
“Paman di mana nenek?” tanya Rati
“Oh, nenekmu membawa adikmu main ke luar kenapa kamu cari nenek” ujar Bujang
“Aku mau setor uang dagangan hari ini” sahut Rati
“Sini kasih sama paman saja, nanti di kasih kepada nenek” ujar Bujang dengan pikiran yang akan mengambil uang itu untuk ia gunakan berjudi.
Rati dengan polosnya memberikan uang itu kepada pamannya.

Keesokan harinya, paman Rati selalu meminta untuk setoran kepada Rati dan mengancam Rati jika tidak memberikan uang itu, maka Rati harus kehilangan adiknya atau bahkan dirinya sendiri. Dan Rati di minta agar tidak memberitahu neneknya akan hal itu, bahkan jika neneknya bertanya mengenai uang Rati di minta berbohong kalau uang itu ada pada Rati.

Rati merasa tertekan akan hal itu tetapi, jika ia menolak permintaan pamannya ia khawatir akan keselamatannya dan adiknya.
Setiap hari Rati berjualan namun uangnya tidak dapat ia pergunakan dengan semestinya, selain harus membantu kebutuhan keluarganya Rati juga harus ikut serta membiayai pamannya yang suka berjudi.

Padang, 2024

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 29, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Manantang Matohari Stories to obsess over. Discover now