story 1

7 2 0
                                        

"My favorite person"

Apa sih yang kalian pikirkan saat mendengar kata mama? Seorang manusia kuat tanpa lelah, seorang pahlawan, atau seorang malaikat tak bersayap.

Bagiku mama adalah seorang manusia yang kuat dan seorang yang sangat baik, seseorang yang tangguh yang mau mengorbankan segalanya demi anaknya. Dia yang melahirkan, merawat dan menjagaku selalu dengan penuh kasih sayang. Dia adalah segalanya bagiku aku sangat menyayanginya dan aku juga kadang terpikir "apa aku bisa menjadi seorang sekuat dan setangguh dia?".

Saat aku kecil, mama selalu mengajarkan ku tentang menghormati orang lain terutama orang yang lebih tua, mengajariku untuk selalu bersyukur dan memaafkan orang lain. Dan mama itu tipikal orang yang ngga nuntut anaknya buat jadi pintar, yang penting belajar dan ngaji yang bener.

Tapi itu malah ngebuat aku makin pengen buat mama bangga sama hasil belajarku.

Dulu waktu aku kelas 5, pas libur semester di sekitar rumahku banyak yang terkena penyakit 'gondokan', yang terlihat seperti benjolan di bagian leher.

Aku saat itu mengalami gejala yang sama ada benjolan di leher dan orangtuaku pikir itu sama seperti teman-temanku yang mengalami gondokan. Namun setelah menunggu 1 mingguan benjolan itu belum juga hilang atau mengempis, orang tuaku heran kenapa benjolan di leherku ini tak kunjung hilang, padahal aku sudah diobati dengan pengobatan yang sama seperti yang teman-temanku yang sudah sembuh. Pada akhirnya aku pergi ke Puskesmas untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Jujur saja saat itu aku takut, apakah ini penyakit yang berbahaya atau bukan. Tapi mama selalu ada untuk menenangkan pikiranku yang berlari-lari entah kemana. Esoknya di Puskesmas aku diperiksa, dan dokter juga tidak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam benjolan ini, dokter bilang "lebih baik dirujuk ke rumah sakit saja pak bu". Bapak yang juga selalu menemaniku langsung mengarahkan dokter untuk membuat surat rujukan ke Rumah Sakit yang pernah dikunjunginya. Seingatku aku pergi kesana pada hari kamis dan melakukan pemeriksaan pada jam 11 siang. Dokter yang mengecek keadaanku bilang "pak sepertinya yang ada di dalam benjolan ini cairan, tapi saya belum bisa memastikan apakah itu berbahaya atau tidak, lebih baik kita melakukan tindakan operasi untuk mengambil cairan yang ada di dalam benjolan itu" . Deg.. dari ekspresi bapak aku tahu bahwa dia cemas, terkejut dengan apa yang dokter katakan.

"Dok, apa ngga ada cara lain untuk mengeluarkan cairan itu? "

"Sayangnya tidak pak, saya khawatir jika didalam cairan itu ternyata mengandung bakteri Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab TBC"

"Ya sudah dok, tolong di jadwalkan secepatnya" ucap Bapak.

"Baik pak saya usahakan minggu ini operasinya akan dilakukan"

Ya seperti yang sudah dijadwalkan, aku pergi kembali ke rumah sakit setelah dua hari aku diharuskan menginap sehari sebelum operasi, karena waktu itu aku masih kecil dan aku sangat takut, tapi mama dan bapak membujukku agar aku cepat sembuh, akhirnya aku mau dengan syarat aku boleh membeli mainan dengan uang lebaran yang aku dapatkan lebaran tahun ini, mama mengiyakan kemauanku. Malamnya aku pergi ke Supermarket untuk membeli mainan yang kumau. Setelah sehari dirawat dan kondisiku stabil sorenya aku menjalani tindakan operasi.

20.00 aku keluar dari ruang operasi dan menjalani perawatan lanjutan. Dan mama selalu menemaniku dan menjagaku, mama selalu membelikan makanan yang aku mau, karena aku tidak suka makan makanan dari rumah sakit. Di hari kedua aku merasa lebih tenang karena semua sudah selesai, nenek dan saudara-saudara ibu datang menjengukku dan ada juga beberapa teman-teman bapak yang datang. Esoknya dokter mengabarkan bahwa cairan yang kemarin diambil sudah terdeteksi hasilnya dan tidak ada bakteri yang berbahaya,untung saja aku cepat dibawa kesana jadi bakteri didalamnya tidak berbahaya.

3 hari berlalu aku sudah kembali kerumah, tapi setiap 2 hari sekali aku tetap harus ke puskesmas mengganti perban di leherku. Waktu sampai dirumah juga masih banyak yang datang menjenguk bahkan guru-guru sekolahku juga datang, karena waktu itu aku seharusnya aku sudah berangkat ke sekolah. Aku senang karena sudah ada dirumah, aku juga senang karena mama selalu menemani dan merawatku dengan penuh kesabaran dan ketulusan. Setelah 2 minggu aku sudah benar-benar pulih dan kembali bersekolah seperti biasa.

Mama orang yang selalu menjagaku dalam kondisi apapun orang yang paling berharga dalam hidupku, entah apa yang terjadi jika dia tidak di sini, mungkin aku tidak bisa menjadi seorang kakak yang baik untuk adik-adikku.

meOnde histórias criam vida. Descubra agora