"Vivienne."
Aku membuka mataku yang terasa berat dengan napas tersengal. Keringat dingin mengalir di keningku, sementara jantungku berdebar-debar tak karuan. Seperti buronan yang dikejar polisi. Nyatanya, aku memang buronan, di darat ataupun di laut, aku selalu menjadi buronan.
Sambil mengusap wajah dengan lemas, aku duduk di atas kasur. Mataku melirik ke arah cermin setinggi diriku yang kuletakkan di sebelah ranjang. Rambutku yang biasanya hitam menunjukkan perubahan warnanya. Dari akar rambut sampai ke pangkal, warna rambutku berubah menjadi abu-abu, sedikit keperakan tapi juga tampak cokelat. Sementara, ujung-ujung rambutku masih hitam kelam seperti biasanya. Aku menghela napas, memeriksa laci nakasku dan mengambil sebotol kecil ramuan berwarna ungu pekat dan meminumnya. Warna rambutku akan kembali hitam dalam tiga puluh menit usai aku meminum ramuan ini.
Malam masih pekat, membuatku sadar bahwa pagi belum akan tiba. Aku ingin kembali tidur dan beristirahat setelah beberapa hari terakhir tidak tidur. Namun, debar jantungku yang masih nyaring bagai genderang ditabu membuatku tersadar sepenuhnya. Aku tak yakin akan bisa tidur lagi.
Bangsat.
Sambil beranjak turun dari ranjang, aku menyalakan lampu kamarku yang temaram. Aku tak menyalakan lampu utama karena tak mau membuat mataku sakit. Kulangkahkan kakiku menuju dapur dan minum dari air mineral di dalam kulkas. Dinginnya air sedikit membantu meredakan detak jantungku. Walau begitu, rasa gelisah dan cemas masih membayangiku.
Sudah delapan ratus tahun sejak aku melakukan pelarian ini. Aku terus berlari dan bersembunyi tanpa henti, tapi tak peduli seberapa jauh aku berlari, lelaki yang membuatku kabur terus menemukanku tanpa sengaja. Padahal, aku sudah membuat ingatannya kacau dan hilang sebagian. Mungkinkah ini karmaku setelah merenggut kesuciannya?
"Vivienne, aku menginginkanmu."
Telingaku berdenging. Kepalaku berputar, sementara mataku buram. Rasanya, aku melihat banyak bintik-bintik putih di sekelilingku. Tubuhku lemas, dan kakiku tak bisa menopang diriku sendiri. Aku mencengkeram pegangan kulkas, berjongkok perlahan di sampingnya sambil mencoba untuk tetap sadar.
Paling tidak, jika aku ingin menutup mataku, aku ingin melakukannya di kamar tidur dengan ranjang yang empuk. Bukan lantai dapur yang dingin ini.
"Kau milikku, Vivienne."
"HENTIKAN!"
Aku berteriak seakan suara yang berasal dari kenanganku ratusan tahun yang lalu memiliki wujud. Dengingan di telingaku semakin menjadi, membuatku menjadi tuli sesaat sampai aku tak bisa mendengar suaraku sendiri. Keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhku. Pandanganku semakin gelap dan aku mulai sulit bernapas.
"Begitu upacara ini selesai, kau akan menjadi milikku dan aku akan selalu mampu menemukanmu."
Sialan.
"Berhenti. Berhenti! BERHENTI!"
Dengingan itu akhirnya berhenti. Suara-suara yang kudengar perlahan menghilang. Jantungku masih berdebar tak karuan. Tubuhku lemas. Dengan tenaga yang tersisa, aku bersandar di tepi kulkas. Kucoba untuk mengumpulkan kekuatanku sebelum kembali berdiri.
Perasaan menyesal mengisi hatiku, sesaat setelah suara-suara yang menghantuiku berhenti. Ini adalah hukumanku. Hukuman untuk merenggut kesucian seorang dewa muda delapan ratus tahun yang lalu, dan pergi meninggalkannya sebelum matahari terbit di hari yang sama.
Hari itu, aku tak seharusnya merayu Rafayel dan menghabiskan malam pertama bersamanya. Seharusnya aku tahu, bahwa merenggut kesucian Dewa Laut tidak akan membuatku berhenti menjadi penyihir dan hidup normal. Namun, aku sangat putus asa di masa itu. Aku mendambakan kehidupan yang damai, tanpa dibenci oleh orang Lemuria atau oleh manusia.
ESTÁS LEYENDO
Troubled [Rafayel's Fanfiction]
FanfictionWritten in Bahasa Indonesia. Mengandung adegan dewasa.
![Troubled [Rafayel's Fanfiction]](https://img.wattpad.com/cover/376400115-64-k664171.jpg)