We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

BAB 1

7 0 0
                                        

Seorang gadis yang saat ini berada di teras rumahnya. Wajah nya yang terlihat tenang namun pikiran nya berantakan.

"Azela... " panggil Gita, mama dari Azela.

Azela menoleh. Gadis itu tersenyum saat melihat siapa orang yang memanggil namanya.

Gita menghampiri anaknya, "kamu sedang apa sayang" tanya Gita dengan lembut sambil mengusap kepala sang anak.

"Gak lagi ngapa' in mah, Zela cuma bosen di kamar terus".

Gita tersenyum, wanita itu tau bahwa saat ini anaknya berbohong. Hanya dengan melihat mata sang anak Gita bisa mengetahui bahwa anaknya sedang tidak baik' saja.

Gita duduk di dekat anaknya dan kembali mengusap kepala sang anak, " Jangan selalu memendam masalah sendiri. Kamu punya mamah, kamu bisa cerita sama mama, sayang" ujar Gita.

Azela tersenyum, "mama ini peramal ya" tanya Azela yang mampu membuat mama nya tersenyum.

"Dengerin mama ya, tugas seorang ibu itu bukan hanya mendidik dan membesarkan anak-anaknya tapi, seorang ibu juga harus bisa menjadi tempat cerita anaknya, dan menjadi tempat anaknya untuk berkeluh kesah" ujar Gita dengan menatap dalam mata cantik sang anak.

"Aku bingung mah, aku bingung mau melanjutkan sekolah dimana" ujar Azela membuka suara.

"Kenapa bingung? kamu bebas pilih sekolah yang kamu mau sayang. Mama tidak akan menyuruh mu sekolah di sekolah pilihan mama, kamu berhak sekolah di sekolah pilihan mu sendiri karna, kamu yang akan menjalani nya bukan mama" ujar Gita.

"Bukan masalah itu mah, aku sebenernya udah punya sekolah tujuan ku tapi.... " ucap Azela menggantungkan ucapannya.

"Tapi apa sayang" tanya Gita.

"Biaya mah" jawab Azela dengan menundukkan kepalanya, "aku pikir sekolah disana akan banyak mengeluarkan uang karna, sekolahnya cukup elit dan besar mah. Aku tidak ingin merepotkan mu".

Gita hanya tersenyum saat mendengar ucapan anaknya, " kalo kamu benar' ingin sekolah disana silahkan, kamu tidak perlu memikirkan masalah biaya. Tugas mu cuma satu yaitu belajar ".

" Tapi mah... ".

Gita memotong ucapan anaknya, " udah, gausah di pikirin. Kamu pasti punya alasan tersendiri kenapa memilih sekolah itu. Nama sekolahnya apa? nanti biar mama minta tolong sama bibi kamu buat liat sekolahnya dan tanya' tentang persyaratan masuknya " ujar Gita.

"SMA garuda pelita".

" Yaudah nanti mama kabarin bibi kamu, mama gak bisa ngurus' nya sayang, mama kan harus kerja jadi mama minta sama bibi kamu aja ya buat ngatur semuanya ". ucap Gita yang dapat di anggukkan oleh Azela.

Hari ini Gita dan Azela berada di meja makan, mereka fokus dengan makanannya. Azela menatap mama nya sekilas dan kembali mengarahkan pandangannya kepada makanannya.

" Azela gapapa kok mah kalo ga sekolah disana juga" ujar Azela. Gadis itu tidak mengarahkan pandangan nya kepada mama nya, dia menunduk.

"Bicara sama mama jangan tundukan kepalamu" ucap Gita. Azela sontak menatap mama nya.

"Jangan plin plan, kamu harus bisa belajar tegas dengan keputusan yang kamu ambil. Mama sudah bilang sama kamu, kamu tidak perlu memikirkan masalah biaya, mama cuma minta sama kamu untuk fokus belajar dan fokus untuk meraih mimpi mu".

" Azela cuma tidak ingin menambah beban mama".

Gita menggenggam tangan anaknya, "mama tidak pernah merasa di bebani oleh anak mama sendiri, kamu tanggung jawab mama, mama ini berperan sebagai seorang ibu sekaligus seorang ayah". ujar Gita lembut.

" Raih lah mimpi mu setinggi mungkin, mama akan selalu berada di belakang mu".

Azela tersenyum, sungguh Azela merasa bahwa dirinya benar' beruntung memiliki sosok ibu seperti ini. Saat semua orang menganggap bahwa rumah bukan tempat pulang terbaik justru Azela menganggap bahwa rumah adalah tempat pulang paling terbaik karna ada mama nya yang selalu menanti kepulangan nya.

A mother's struggleStories to obsess over. Discover now